Mari kita ambil napas dalam-dalam, tiup lilin imajiner di atas kue ulang tahun demokrasi kita yang sudah berusia hampir kepala tiga ini, lalu tanyakan pada cermin di kamar mandi: “Kita ini sebenarnya makin sejahtera, atau cuma makin ahli berpura-pura bahagia?”
Saya masih ingat betul atmosfer tahun 1998. Pekat asap gas air mata, pekikan "KKN!" di jalanan, dan semangat membara untuk meruntuhkan rezim yang katanya bikin kita terkungkung. Waktu itu, premisnya sederhana dan sangat filosofis: Turunkan harga, turunkan Soeharto, maka kesejahteraan akan otomatis mengalir seperti air dispenser.
Dua puluh delapan tahun kemudian, mari kita hitung pencapaian kita.
• Kebebasan Berbicara: Dulu, mengkritik pemerintah bisa membuat Anda "hilang" atau mendadak pindah alamat ke tempat yang dirahasiakan. Sekarang? Anda bebas mengkritik apa saja di media sosial! Kebebasan yang luar biasa, bukan? Kebebasan yang hanya dibatasi oleh kuota internet, algoritma, dan ancaman jempol tetangga yang gemar melaporkan Anda dengan UU ITE. Kita tidak lagi takut pada intel yang menyamar jadi tukang bakso, kita cuma takut pada netizen yang salah paham.
• Pertumbuhan Ekonomi: Angka-angka statistik makro di televisi selalu tampak seksi. Katanya ekonomi kita tumbuh, investasi masuk, dan kita bersiap jadi raksasa dunia. Tapi entah kenapa, pertumbuhan ekonomi itu seperti jodoh orang lain: sering kita dengar kabarnya, tapi jarang kita rasakan langsung di dompet sendiri.
Reformasi berhasil mengubah kita dari bangsa yang terkekang menjadi bangsa yang... mandiri. Ya, mandiri dalam artian yang paling literal: Menderita Sendiri-sendiri.
Pemerintah membuka keran demokrasi seluas-luasnya, memberikan kita hak memilih pemimpin setiap lima tahun sekali—sebuah festival memilih siapa yang akan menaikkan pajak kita berikutnya. Kita diberikan ilusi pilihan, sementara struktur di atas sana tetap asyik bertukar kursi sambil menikmati pisang goreng hangat di ruang ber-AC yang dibayar oleh uang pajak kita.
Jika "sejahtera" diukur dari jumlah mal yang berdiri, panjangnya jalan tol yang bisa dilalui (kalau punya kartu e-toll dan mobilnya), atau jumlah artis yang mendadak jadi anggota dewan, maka jawabannya adalah: Ya, kita makmur luar biasa!
Namun, jika sejahtera diukur dari ketenangan pikiran saat menyambut masa tua, jaminan kesehatan yang tidak membuat kita mengantre dari subuh seperti mau menonton konser, atau kepastian bahwa hukum tidak tajam ke bawah dan tumpul ke rekan separtai... jawabannya mungkin perlu Anda cari di kolom komentar akun gosip terdekat.
Reformasi tidak gagal. Ia hanya tumbuh menjadi remaja akhir yang agak bingung arah, sedikit narsistik, dan gemar melakukan gimmick politik demi mendapat 'likes' dari rakyatnya.
Jadi, sembari Anda bersiap-siap kembali bekerja demi memperkaya pemilik perusahaan tempat Anda mengabdi, mari kita angkat segelas kopi instan ini. Selamat 28 tahun Reformasi! Kita mungkin belum sepenuhnya sejahtera, tapi setidaknya, kita punya hak penuh untuk menertawakan nasib kita sendiri tanpa takut ditangkap. Bukankah itu sebuah kemajuan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar