Sabtu, 26 September 2026

Majelis Jemaat

Majelis Jemaat. Sebuah frasa yang tampak tenang, tapi menyimpan dinamika yang tak selalu terlihat di permukaan. Ia terdengar seperti lembaga, seperti struktur. Tapi sesungguhnya, ia adalah cermin. Sebab di dalamnya, terekam bagaimana gereja memutuskan berjalan, atau berdiam.

Majelis—yang terdiri dari Penatua, Diaken, Guru Agama, dan Pendeta (beberapa organisasi mungkin berbeda) — secara harfiah adalah “yang mulia.” Tapi kemuliaan di sini bukan soal gelar atau jabatan. Atau setidaknya, seharusnya begitu. Sebab sejarah gereja, sejak mula, tidak dibangun oleh kemegahan. Ia lahir dari perjamuan sederhana, dari tangan-tangan yang membasuh kaki, dari komunitas yang menanggung satu sama lain dalam perbedaan.

Namun waktu bergerak. Gereja tumbuh. Struktur dibentuk. Aturan disusun. Dan majelis pun menemukan dirinya berada di antara dua dunia: yang rohani dan yang administratif. Yang pastoral dan yang birokratis. Maka rapat-rapat pun diadakan, suara diangkat, notulen dibukukan. Tapi apakah kasih juga turut dicatat?

Di banyak tempat, majelis menjadi wajah gereja yang pertama dilihat umat. Mereka menyambut di pintu gereja, mengatur kursi, memimpin liturgi, menyampaikan laporan. Tapi wajah bisa menjadi topeng. Sebab terkadang, di balik senyum hangat dan salam liturgis, tersembunyi ketegangan: antara visi dan gengsi, antara pelayanan dan kendali.

Majelis Jemaat, dalam praktiknya, kerap terjebak dalam logika kuasa—meskipun dalam kemasan pelayanan. Ada yang duduk bukan karena panggilan, tapi karena pengaruh. Ada yang memilih diam bukan karena damai, tetapi karena takut disingkirkan. Ada yang merasa mewakili jemaat, tapi lupa mendengar suara mereka.

Maka kita pun bertanya: siapa yang sebetulnya diwakili oleh Majelis Jemaat? Apakah jemaat yang rapuh, yang kadang datang hanya untuk duduk dan menangis? Ataukah sistem, yang lebih peduli pada stabilitas dan tradisi?

Ironisnya, banyak Majelis Jemaat lebih sibuk menjaga "ketertiban rohani" daripada menyelami keretakan batin umat. Mereka lebih cepat membentuk panitia daripada menemani keluarga yang dalam pergumulan. Lebih sigap mengatur jadwal Natal daripada menyapa anak muda yang mulai enggan ke gereja.

Padahal gereja bukan hanya soal ibadah minggu. Ia adalah tubuh yang hidup—yang terluka, bertumbuh, mencintai, dan terkadang berkonflik. Dan Majelis seharusnya menjadi bagian dari tubuh itu, bukan menara pengawas di atasnya.

Sejarah gereja mula-mula tidak dimulai dari rapat pleno, tapi dari meja makan. Dari berbagi roti dan anggur. Dari mendengar, bukan hanya memutuskan. Barangkali kita perlu kembali ke sana: ke kesederhanaan yang tidak birokratis, ke pelayanan yang tidak tergantung rotasi jabatan, ke kasih yang tidak memakai seragam.

Mungkin kita tidak butuh majelis yang sempurna. Tapi kita sangat butuh majelis yang rendah hati. Yang tidak selalu tahu jawabannya, tapi mau duduk bersama dalam pertanyaan. Karena dalam gereja, seperti dalam hidup, yang paling dibutuhkan bukan sistem yang rapi, tapi hati yang terbuka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar