Akhirnya akan kutinggalkan semua keindahan Danau Poso serta desa yang kecil dan indah ini. Kupersiapkan segalanya untuk sebuah perjalan kembali yang panjang. Motor danau papa Nining sudah siap. Aku berjalan menyusuri jalan menuju pelabuhan sambil melambaikan tangan kepada orang-orang yang kujumpai di sepanjang jalan. Di depan Baruga (tempat pertemuan) ketemu Kepala Desa dan perangkat-perangkatnya, mereka sedang mempersiapkan kerja. Pukul 08.15 bertolak dari pelabuhan, motor danaunya agak kecil. Mendekati Desa Peyura danau mulai bergelora, tandokasa (nama ombak yang datang dari arah selatan) memulaikan aktivitasnya di di pagi menjelang siang itu. Guncangannya cukup untuk membuat hati ini berdebar. Pukul 10.30 tiba di Tentena. Ku hubungi Is Sopir Panther Biru yang akan membawa aku kembali. Mereka sudah siap dan langsung menjemput di pelabuhan. Aku ketemu Budi Kayupa di Pusat Informasi “Tourism”, teman dulu ketika masih di Lombugia jauh sebelum pecah kerusuhan Poso. Katanya dia kepala di situ. Hebat, calon perawat akhirnya menajadi kepala pusat informasi wisata. Aku “men-charge Batteray” yang sudah lemah itu di KUD Kasintuwu Tentena. Kata bapak di situ listrik tidak lama akan dipadamkan. Listrik hanya sampai pkl.12.00 dan nanti menyala lagi pkl.18.00. Memprihatinkan memang, ibu kota kecamatan ini yang sepantasnya dikatakan Kota, listriknya hanya dinyalakan sampai pkl.12.00. Pukul 13.30 kami berangkat, meninggalkan Tentena melewati hutan pinus dengan padang ilalangnya, Tentena serta danau posonya di belakang seakan memanggil untuk kembali. Jalan berkelok-kelok menurun. Kami melewati lokasi Proyek PLTA Sulewana yang kapasitas dayanya cukup besar, mungkin dapat menyuplai listrik se-sulawesi. Tapi sementara ini tentu untuk industry di Sulawesi Selatan, tentu karena arah line cable-nya ke sana. Pukul 15.30 singgah makan di Sausu. Udara di sini cukup panas. Selesai makan aku langsung ke luar mencari tempat yang tiupan anginnya cukup untuk mendinginkan tubuhku yang kepanasan. Kami singgah sebentar di Parigi, karena ada seorang penumpang yang hendak di jemput. Ia duduk di sampingku. Kami berkenalan, rupanya dia akan kembali ke Bitung untuk berlibur. Kerjanya di BRI Parigi dan juga mempunyai usaha penjualan Komputer (Toko Komputer). Luar biasa, anak muda ini membuat hidupnya lebih hidup. Pukul 23.10 terdengar bunyi keras, aku yang mulai ngantuk tiba-tiba tersentak karena bunyinya cukup keras. Ternyata “kaca spion” bersinggungan dengan kas Truck yang lewat. Namun tetap kulanjutkan rasa tidurku…dan aku tertidur.Senin, 22 Juni 2009
Dua Puluh Juli Dua Ribu Tujuh
Akhirnya akan kutinggalkan semua keindahan Danau Poso serta desa yang kecil dan indah ini. Kupersiapkan segalanya untuk sebuah perjalan kembali yang panjang. Motor danau papa Nining sudah siap. Aku berjalan menyusuri jalan menuju pelabuhan sambil melambaikan tangan kepada orang-orang yang kujumpai di sepanjang jalan. Di depan Baruga (tempat pertemuan) ketemu Kepala Desa dan perangkat-perangkatnya, mereka sedang mempersiapkan kerja. Pukul 08.15 bertolak dari pelabuhan, motor danaunya agak kecil. Mendekati Desa Peyura danau mulai bergelora, tandokasa (nama ombak yang datang dari arah selatan) memulaikan aktivitasnya di di pagi menjelang siang itu. Guncangannya cukup untuk membuat hati ini berdebar. Pukul 10.30 tiba di Tentena. Ku hubungi Is Sopir Panther Biru yang akan membawa aku kembali. Mereka sudah siap dan langsung menjemput di pelabuhan. Aku ketemu Budi Kayupa di Pusat Informasi “Tourism”, teman dulu ketika masih di Lombugia jauh sebelum pecah kerusuhan Poso. Katanya dia kepala di situ. Hebat, calon perawat akhirnya menajadi kepala pusat informasi wisata. Aku “men-charge Batteray” yang sudah lemah itu di KUD Kasintuwu Tentena. Kata bapak di situ listrik tidak lama akan dipadamkan. Listrik hanya sampai pkl.12.00 dan nanti menyala lagi pkl.18.00. Memprihatinkan memang, ibu kota kecamatan ini yang sepantasnya dikatakan Kota, listriknya hanya dinyalakan sampai pkl.12.00. Pukul 13.30 kami berangkat, meninggalkan Tentena melewati hutan pinus dengan padang ilalangnya, Tentena serta danau posonya di belakang seakan memanggil untuk kembali. Jalan berkelok-kelok menurun. Kami melewati lokasi Proyek PLTA Sulewana yang kapasitas dayanya cukup besar, mungkin dapat menyuplai listrik se-sulawesi. Tapi sementara ini tentu untuk industry di Sulawesi Selatan, tentu karena arah line cable-nya ke sana. Pukul 15.30 singgah makan di Sausu. Udara di sini cukup panas. Selesai makan aku langsung ke luar mencari tempat yang tiupan anginnya cukup untuk mendinginkan tubuhku yang kepanasan. Kami singgah sebentar di Parigi, karena ada seorang penumpang yang hendak di jemput. Ia duduk di sampingku. Kami berkenalan, rupanya dia akan kembali ke Bitung untuk berlibur. Kerjanya di BRI Parigi dan juga mempunyai usaha penjualan Komputer (Toko Komputer). Luar biasa, anak muda ini membuat hidupnya lebih hidup. Pukul 23.10 terdengar bunyi keras, aku yang mulai ngantuk tiba-tiba tersentak karena bunyinya cukup keras. Ternyata “kaca spion” bersinggungan dengan kas Truck yang lewat. Namun tetap kulanjutkan rasa tidurku…dan aku tertidur.Sabtu, 13 Juni 2009
Sembilan Belas Juli Dua Ribu Tujuh
Lagi-lagi memori stik di kameraku penuh. Kutitipkan memori stik itu kepada adikku yang kebetulan ia akan berangkat kerja di Pendolo.
Pagi ini tidak ada rencana untuk keluar, maklum adikku harus masuk kerja karena banyak pekerjaan yang menumpuk.
Sorenya aku jalan-jalan ke rumah keluarga-keluarga papa terutama orang-orang tua. Ketemu dengan papa Ros di warungnya. Setelah pensiun dari guru, ia memilih berdagang dengan membuka warung kecil-kecilan. Anak-anaknya membuka usaha di Tentena, yang satu sedang di Hongkong. Banyak kenangan dengan mereka, dapat saya katakana kakak, karena kami atau aku ketika liburan dan hendak ke kampung menikmati tepian danau poso sering nginap dulu di Tentena (rumah mereka) sambil menunggu motor danau yang akan berangkat. Sebaliknya jika kembali ke Poso.
Aku ketemu juga dengan Papa Ning, saudara sepupuku. Pendidikannya mungkin tidak selesai SD, tapi ia mampu menyelesaikan anaknya di perguruan tinggi. Aku kagum terhadap tekat dan perjuangannya. Dulu jika liburan ke kampung, ia sering bersama-sama dengan aku pergi memancing ikan “bungu” ikan khas danau Poso yang sekarang menghilang entah ke mana, dan menyelam menelusuri tepian danau memanah ikan mas yang mungkin sekarang sulit untuk dilakukan lagi karena pukat merajalela.
Sementara kami becakap-cakap, datang Ndolu adik dari papa Ning, kerjanya di kantor camat Pendolo. Ia ketika masih bersekolah dulu tinggal bersama kami di Poso.
Aku ke rumahnya Papa Ropo. Ini termasuk orang tua, usianya sudah di atas 80-an. Penglihatannya sudah tidak jelas akibat katarak, demikian juga dengan pendengarannya yang sudah mulai bekurang. Garis-garis keperkasaannya masih jelas, ia seorang pemberani.
Aku juga ke rumah papa Oce. Ia bercerita bahwa ia baru dari Mangkutana, pergi membeli TV dan Parabola. Aku kagum dengan pribadi ini. Selalu ceria dan tidak menampakan kesusahan. Ia memang pribadi yang menarik jika bertutur, senyum dan tawa menjadi bagian kehidupannya. Ia memang pernah menjadi ketua adat di desa Tolambo.
Sudah agak larut malam, rasanya banyak hal yang hendak di ceritakan. Aku harus kembali untuk tidur sebab akan mempersiapkan diri untuk besok hari untuk kembali ke Tomohon.
Sabtu, 09 Mei 2009
Delapan Belas Juli Dua Ribu Tujuh
Menurut cerita. Setelah tentara Belanda berhasil melumpuhkan benteng di “Kandela” (benteng suku pribumi/asli), ± 6 orang tentara Belanda menggunakan perahu yang di dayung/dikemudikan oleh pribumi namanya “N’gkai Jelo” mengantar mereka ke Tentena.
Saat tiba di tempat yang namanya “Tanjung Tolambo”, orang tua yang mengantar mereka itu berkata bawa jangan memukul batu yang di pinggiran danau di tanjung tersebut. Tetapi tentara Belanda itu tidak memperdulikan kata-katanya. Mereka memukul batu di tanjung itu dengan popor senapan mereka dan batu itu patah masuk ke dalam danau.
Tepat di ujung tanjung itu datang ombak besar yang masyarakat di sana menyebutnya “Dongi”. Orang tua itu mengguncangkan perahu yang mereka tumpangi tersebut sampai tentara-tentara belanda itu jatuh ke dalam danau. Mereka yang mengapung minta tolong dipukul dengan dayung oleh orang tua tersebut sampai semuanya tewas. Orang tua itu mengumpulkan mayat-mayat tentara Belanda tersebut dan meletakkannya di batu yang sampai sekarang masih ada walaupun tidak lengkap lagi. Tulang-tulang itu memang seperti tulang orang eropah. Anehnya tempat tulang-tulang itu diletakkan tidak terdapat daun-daun kering dan rambut kepala masih ada walau hanya sedikit.
Ternyata banyak kisah-kisah heroik perjungan anak negeri ini di bagian timur Indonesia khususnya di Poso yang tidak terpublikasikan, yang menonjol memang dari pulau jawa.
Setelah makan siang aku dan adikku menuju ke tanjung Tolambo untuk melihat kuburan-kuburan yang lain lagi. Kami menemukan tumpukan-tumpukan tengkorak di sana. Ada yang masih di tempatnya, ada yang sudah beserakkan di sekitarnya bahkan di dalam danau. Kata adik, tulang-tulang yang beserakan itu karena dimainkan oleh monyet-monyet liar di daerah itu.
Dulu, pernah ada yang memancing di tanjung tersebut dan menemukan sebilah pedang komando (“klewang”) tentara Belanda yang masih utuh.
Pukul 13.30 kami ke tepi danau untuk memancing. Kami mendapatkan ikan mujair, mas dan nilam serta kabos. Kami tidak menemukan yang besar, rata-rata hanya selebar 3 jari saja. Kata adik dahulu ikannya banyak yang besar, tetapi karena di setrum dan dipukat “dampar”, maka ikan-ikan tersebut mulai berkurang. Bias mendapatkan yang besar jika menggunakan pukat.
Pulang sudah agak malam.
Orang-orang yang hidup di desa Tolambo dan desa Dulumai ini disebut “to Longkea”.