Rabu, 15 Juli 2009

Dua Puluh Enam September Dua Ribu Delapan

Jarak antara tempat kami menginap di daerah pelabuhan siau dan kompleks perkantoran Pemda agak jauh, melewati beberapa desa. Kami pun melewati daerah aliran lahar gunung karangetan. Batu-batu berwarna hitam tersebar di mana-mana. Ada turis yang kemarin bersama dalam perjalanan sedang mondar-mandir di antara batu-batu yang menggunung.

Kami tiba di tempat yang menjadi pusat pemerintahan. Melewati kompleks pertokoan kemudian rumah-rumah penduduk. Kantor bupati sedang dalam pembangunan. Kantor Dinas PU dari bentuknya sepertinya masih menggunakan rumah penduduk. Lagi-lagi kuburan tepat di samping rumah di depan kantin, sudah menjadi bagian dari rumah tersebut. Mereka memasukan penawaran, aku mondar-mandir di sekitar.

Hampir saja terjadi insinden kecil karena suasana memanas ketika seorang saksi pada pembukaan dokumen yang pertama mengoreksi judul pekerjaan dalam pernyataan minat yang rupanya tidak sesuai dengan paket pekerjaan yang sedang di buka. Rupanya mereka tidak teliti ketika mengkopi paste lupa mengganti judulnya. Kami di posisi ke tiga dari enam perusahaan yang bertarung. Ini posisi ideal, tapi tender-tender di lingkungan pemerintah hampir tidak ada yang murni kompetisi. Kebanyakan arahan, artinya pemenang sudah ada sebelum pemasukan penawaran tergantung negosiasi.

Agak sore kami kembali. Dalam perjalanan teman kontraktor yang satu merasa tidak puas atas ulah dari sesama kontraktor yang menjadi saksi saat pembukaan dokumen, padahal ia ranking 1.

Mengisi waktu yang tersisa di Siau Aku di ajak oleh pak Alfrets mengunjungi saudaranya, saudara istrinya di kompleks pertokoan tidak jauh dari pelabuhan. Kami ngobrol sampai hari hampir malam. Tidak jauh dari tempat kami pasir putih dan laut lepas terbentang dan perahu-perahu nelayan yang ditambat. Mereka juga mengikuti tender siang tadi. Ada yang datang dari Tagulandang. Mereka keturunan cina.

Pak Bun selalu kuatir, jangan-jangan ada kesalahan kecil dalam penawaran. Beberapa waktu yang lalu ia mengalaminya. Kami sudah melakukan cek list semua dokumen tidak mungkin terjadi kesalahan. Bukti, buktinya lolos board. Ia bercerita tentang saudaranya yang KPK, minggu depan akan datang ke Siau. Aku kurang yakin saudaranya itu bisa membantu, ia pasti terikat peraturan/komitmen dari lembaga ini yang tentu tidak menggunakan nam lebaga untuk kepentingan pribadi.

Suasana game center, milik Klif masih ramai. Aku bahkan mencoba bermain, gratis lagi, untuk menghabiskan waktu menjelang tengah malam sebelum tidur.

Jumat, 10 Juli 2009

Dua Puluh Lima September Dua Ribu Delapan

Pukul 1.15 kami tiba di pelabuhan Siau ibu kota Kabupaten Sitaro. Dijemput pa Bun dan temannya. Banyak yang berkumpul di demarga, termasuk kuli panggul yang siap menyerbu masuk saat kapal menurunkan tangganya. Aku menuruni tangga kapal sambil berdesak-desakkan dengan kuli panggul yang juga menaiki tangga.

Mampir sebentar minum kopi di warung kompleks pelabuhan sambil ngobrol. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke rumah tempat kami akan menginap. Percakapan dilanjutkan namun tidak terlalau lama, kemudian kami tidur.

Masih agak pagi aku bangun. Berjalan-jalan di sekitar rumah dan ke luar sambil melihat aktivitas pagi itu. Hampir setiap halaman rumah di sini memiliki kuburan keluarga. Rumah ini memang tidak jauh dari kompleks pertokoan.

Aku melihat bukit-bukit sekitar yang masih hijau dan nampak sebuah gunung yang puncaknya mengeluarkan asap putih. “Karangetan” nama gunung tersebut. Beberapa tahun yang lalu pernah meletus bahkan mengeluarkan laharnya. Jika saat ini ia meletus dengan dasyat, kecil kemungkinan akan dapat menyelamatkan diri karena ternyata posisiku berada tidak jauh dari kaki gunung tersebut.

Aku kembali ke rumah dan ternyata sudah disiapkan kopi panas dan kue. Kutanyakan tentang gunung tersebut, kata mereka jika ada tamu dari luar yang tidak disukai atau kemungkinan akan berbuat kejahatan gunung tersebut akan mengeluarkan dengkurannya bahkan meletus, sebagai suatu isyarat. Sampai saat ini gunung tersebut belum mendengkur, berarti kami tamu yang baik.

Clif masih tidur, kami menunggu dia karena akan meminjam Printernya. Anak muda ini kuliah di STIKOM Manado dan membuka usaha Game Center di Siau ini. Kata mereka ayahnya salah satu tim di KPK, aku melihat memang ada foto seorang perwira polisi, tapi aku tak perlu menelusuri, karena misi ku bukan itu.

Kupersiapkan semua data yang diperlukan termasuk perhitungan untuk penawaran proyek tersebut. Semua sudah siap tinggal menunggu besok untuk pemasukannya. Dan tentu gerilya di mulai, namun itu urusan mereka bukan urusanku lagi.

Aku kelelahan lewat tengah malam, dan kemudian tidur.

Kamis, 02 Juli 2009

Dua Puluh Empat September Dua Ribu Delapan

Masih agak pagi aku tiba di rumahnya Pak Pek. Ketika aku duduk, Nescafe Panas disuguhkan. Dan setelah memberi penjelasan singkat ia berkata “Jus ngana musti brangkat”, aku kaget juga, karena apa yang dibutuhkan mereka sudah kusiapkan, sesuai kesepaktan aku tidak akan ke lokasi proyek, disana ada yang akan menangani. Dengan banyak pertimbangan, kuputuskan untuk berangkat. Kebetulan aku belum pernah ke Sitaro. Tujuan kami Siau, ibukota kabupaten baru itu.

Cuaca cerah berawan, laut tenang sore itu ketika kami bertiga (aku, pak pek dan pak Alfrets) tiba di pelabuhan Manado. Mereka berdua masing-masing pimpinan GAPEKSINDO Manado dan Bitung. Queen Marry demikian nama kapal yang akan membawa kami. Rencana berangkat pukul 17.00. Mereka mengurus segala keperluan termasuk tiket. Suasana di pelabuhan tersebut cukup ramai dan tak beraturan seperti kebanyakan pelabuhan laut di negeri ini.

Akhirnya setelah beberapa lama di atas geladak sambil mondar-mandir kapalpun meniupkan terompetnya lalu berangkat. Jam menunjukan pukul 18.00 itu artinya molor 1 jam dari rencana. Cuaca baik, cerah berawan dan laut tenang membuat hati ini tenang. Aku tak bisa berdiam di kamar, keluar melihat pemandangan laut yang indah. Hari menjelang malam, pantai Manado nampak penuh cahaya, semakin lama semakin menjauh dan hilang.

Pukul 19.30 listrik padam, suasana pun jadi gelap gulita. Mesin kapalpun mati. Aku melihat ke samping kapal sepertinya hanya berputar-putar di tempat. Aku agak kuatir, untung laut tenang. Bule (turis) asal Prancis yang tidur-tiduran di buritan bergerak ke depan menggunakan senter di kepala, bolak-balik dari ruang kemudi kembali keburitan dan kembali lagi keruang kemudi, sepertinya tidak tenang.

Pukul 19.43 listrik kembali dinyalakan, suasana menjadi terang, mesin terdengar dihidupkan. Perjalanan dilanjutkan. Namun tak lama kemudian listrik kembali padam dan mesin mati, ini berulang sampai tiga kali. Untung cuaca baik, laut tenang. Kalau cuaca buruk, laut bergelora, mungkin kami terombang ambing di lautan pasifik atau diam di dasar samudera selamanya.

Aku keluar masuk kamar, beberapa saat di luar, beberapa saat di dalam. Pak pek dengan usianya 60-an tahun itu kulihat asik ngobrol dengan beberapa orang dan hanya menggunakan kaus tanpa jaket. Sekeliling di kejauhan kulihat lampu-lampu nelayan maklum jalur ini kawasan dengan beberapa pulau.