
Jarak antara tempat kami menginap di daerah pelabuhan siau dan kompleks perkantoran Pemda agak jauh, melewati beberapa desa. Kami pun melewati daerah aliran lahar gunung karangetan. Batu-batu berwarna hitam tersebar di mana-mana.
Kami tiba di tempat yang menjadi pusat pemerintahan. Melewati kompleks pertokoan kemudian rumah-rumah penduduk. Kantor bupati sedang dalam pembangunan. Kantor Dinas PU dari bentuknya sepertinya masih menggunakan rumah penduduk. Lagi-lagi kuburan tepat di samping rumah di depan kantin, sudah menjadi bagian dari rumah tersebut. Mereka memasukan penawaran, aku mondar-mandir di sekitar.
Hampir saja terjadi insinden kecil karena suasana memanas ketika seorang saksi pada pembukaan dokumen yang pertama mengoreksi judul pekerjaan dalam pernyataan minat yang rupanya tidak sesuai dengan paket pekerjaan yang sedang di buka. Rupanya mereka tidak teliti ketika mengkopi paste lupa mengganti judulnya. Kami di posisi ke tiga dari enam perusahaan yang bertarung. Ini posisi ideal, tapi tender-tender di lingkungan pemerintah hampir tidak ada yang murni kompetisi. Kebanyakan arahan, artinya pemenang sudah ada sebelum pemasukan penawaran tergantung negosiasi.
Agak sore kami kembali. Dalam perjalanan teman kontraktor yang satu merasa tidak puas atas ulah dari sesama kontraktor yang menjadi saksi saat pembukaan dokumen, padahal ia ranking 1.
Mengisi waktu yang tersisa di Siau Aku di ajak oleh pak Alfrets mengunjungi saudaranya, saudara istrinya di kompleks pertokoan tidak jauh dari pelabuhan. Kami ngobrol sampai hari hampir malam. Tidak jauh dari tempat kami pasir putih dan laut lepas terbentang dan perahu-perahu nelayan yang ditambat. Mereka juga mengikuti tender siang tadi.
Pak Bun selalu kuatir, jangan-jangan ada kesalahan kecil dalam penawaran. Beberapa waktu yang lalu ia mengalaminya. Kami sudah melakukan cek list semua dokumen tidak mungkin terjadi kesalahan. Bukti, buktinya lolos board. Ia bercerita tentang saudaranya yang KPK, minggu depan akan datang ke Siau. Aku kurang yakin saudaranya itu bisa membantu, ia pasti terikat peraturan/komitmen dari lembaga ini yang tentu tidak menggunakan nam lebaga untuk kepentingan pribadi.
Suasana game center, milik Klif masih ramai. Aku bahkan mencoba bermain, gratis lagi, untuk menghabiskan waktu menjelang tengah malam sebelum tidur.

