Senin, 17 Agustus 2009

Catatan Merdeka

Perjuangan melepaskan diri dari penjajah untuk mendapatkan kemerdekaan tidak jauh berbeda dengan perjuangan mendapatkan hidup yang layak di era yang katanya telah merdeka ini. Merdeka masih belum sepenuhnya milik rakyat. Merdeka masih berada di singgasana kekuasaan dan pilar-pilar pendukungnya. Merdeka masih di ruang diskusi, di podium, berkibar di ujung tiang 17 yang setiap tahun selalu kita hormati tapi sulit untuk diraih.

Untuk mengisi kemerdekaan hidup memang harus terus diperjuangkan untuk merdeka. Untuk merdeka dari kemiskinan banyak yang berjuang dengan mengemis di perampatan jalan, mengkomersilkan seksnya, mencuri jemuran dan ayam tetangganya, meledakkan tubuhnya, dan bermacam-macam pekerjaan yang tidak merdeka di lakukan.

Sebaliknya ada segelintir orang yang sesungguhnya telah merdeka dari kemiskinan tetapi mencuri uang rakyat hanya untuk merdekanya yang super…, merdeka bagi mereka bukan hanya sekedar makan-minum tapi kesenangan, hiburan, dan kenikmatan.

Enam puluh empat tahun sudah merah-putih berkibar. Enam puluh empat tahun sudah bangsa ini merdeka. Tapi rasanya hanya segelintir orang yang berkibar dengan merdeka di ujung tiang, sebagian masih menahan airmata setengah tiang, bahkan yang kebanyakan masih terkapar di bawah tiang dengan pasrah di buai angin harapan negeri yang kaya ini.

Dirgahayu Indonesia. Dirgahayu negeriku. Siapapun yang memimpin, kibarkan kami di puncak tiang.

Rabu, 12 Agustus 2009

Mengenang W.S. Rendra

............
Kekuasaan kekerasan merajalela.
Pasar dibakar,
kampung dibakar,
Gubuk-gubuk gelandangan dibongkar,
tanpa ada gantinya.
Semua atas nama tahayul pembangunan.
Restoran dibakar,
toko dibakar,
gereja dibakar,
atas nama semangat agama yang berkobar.
Apabila agama menjadi lencana politik,
maka,
erosi agama pasti terjadi.
Karna politik tidak punya kepala
Tidak punya telinga
Tidak punya hati
Politik hanya mengenal kalah dan menang
Kawan dan lawan.
Peradaban yang dangkal.
..................
Sepenggal karya WS Rendra ini mewakili suara orang-orang yang tertindas. Tertindas karena kemiskinan, tertindas karena kebodohan, bahkan tertindas karena minoritas di tengah raksasa mayoritas yang selalu mengatasnamakan kebenaran dan iman.
Sosok yang kukenal lewat karyanya memberikan inspirasi bahwa hati nurani harus tetap dibangkitkan dalam idealisme dan selalu diperjuangkan menjadi realisme. Menjadi bagian hidup yang nyata dan bukan hanya berada di tataran angan yang terus di dongengkan sebagai sebuah harapan.

Kamis, 6 Agustus 2009,burung merak itu telah pergi selamanya. Namun pekikannya akan terus menggema menembus pintu hati setiap orang, membangunkan nurani yang tidur, menikam nurani siapa saja yang telah menghianati kemanusian dan berpihak pada peradaban yang dangkal.

Selamat jalan W.S. Rendra, burung merak yang bersahaja,idealis dan berani. Terbanglah kau menembus langit dan kabarkan kepada DIA bahwa bangsa ini belum sesungguhnya merdeka, bahwa sebagian rakyat masih terjajah.

Selasa, 04 Agustus 2009

Jadilah Teladan

“Jadilah teladan”, kalimat perintah pendek yang dibangkitkan pada Konser dan Launching Album Rohani Pemuda dan Remaja GMIM “Solafide” Tinoor pada 28 Juli 2009 malam itu, menggelitik kesadaranku. Aku ingat bahwa teladan hanya ada dalam lomba, seperti lomba murid teladan, guru teladan, karyawan teladan, bahkan beberapa minggu yang lalu aku melihat di sebuah instansi ada pegawai honor teladan.

Salut dan bangga, bagi seluruh remaja dan pemuda yang kreativ ini, walau ini hanyalah sepenggal kalimat yang masih berada di tataran pertunjukan, tapi setidaknya telah membangunkan kesadaran kita tentang pentingnya keteladanan. Sayang konser ini tidak sepenuhnya dihadiri oleh mereka yang diharapkan menjadi teladan.

Aku tahu bahwa malam itu keteladanan hanyalah judul sebuah lagu, belum menjadi bagian kehidupan sesungguhnya. Artinya keteladanan masih menjadi sebuah harapan anak muda untuk menjadi realita hidupnya, yang saat ini menjadi sesuatu yang langka dan sulit di temukan.

Banyak pejabat yang memang pantas di teladani dalam berpakaian dan kewibawaannya, tapi sayang moralitasnya hanya pantas ditelanjangi.

Banyak pelayan Tuhan yang patut di teladani ucapannya, tapi sayang prilakunya hanya patut menjadi kayu bakar di neraka.

Teladan diharapkan menjadi sebuah prilaku dan tidak hanya berhenti menjadi sebuah slogan yang luar biasa kibaran dan penampilannya tetapi dari hari kehari tercabik-cabik oleh badai. Ia tidak mampu bertahan dan akhirnya pergi bersama badai.

Teladan tidak selalu datang dari luar, tidak juga selalu dari yang tua, tetapi ia bisa lahir dari dalam, dari sebuah keyakinan iman yang sungguh, dari generasi muda yang dinamis dan kreativ. Seperti kata Paulus “Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”. (I Timotius 4 : 12).


Teladan adalah kehidupan!