Selasa, 25 Agustus 2009

Anak Yang Merdeka

Dengan jemari pada keyboard dan mata menatap screen monitor yang dipenuhi angka, rasa kantuk menyerang kesadaranku pagi itu. Tiba-tiba anak-anak di PosPAUD (Pos Pelayanan Anak Usia Dini) garasi mobil samping ruang kerjaku (maksudku milik bosku) menyanyikan lagu “Aku Anak Indonesia”.

Aku anak Indonesia

Anak yag merdeka

Satu nusaku

Satu bangsaku

Satu bahasaku

Indonesia

Aku bangga

Menjadi, anak Indonesia


Dengan bangga dan merdeka mereka nyanyikan lagu itu dari garasi mobil. Ceria tanpa beban anak-anak itu bertepuk tangan, menetapkan kesungguhan mereka untuk Indonesia. Apa yang membuat mereka merasa merdeka? Apa yang membuat mereka merasa bangga? Adakah semangat ini bisa bertahan setelah mereka menjadi pribadi dewasa? Rasa ngantukku pun hilang.


Bagaimana mereka bisa merdeka dengan belajar di garasi sempit seperti itu? Apa yang mereka banggakan dengan pelayanan dan fasilitas pendidikan paspasan seperti itu?

Mengapa anak-anak itu tidak berunjuk rasa memprotes keberadaan mereka yang hanya mampu meminjam sebuah garasi dengan para relawan?. Mengapa mereka harus lahir dari orang tua yang paspasan karena upah yang rendah sementera harga kebutuhan hidup naik berlipat-lipat?. Mengapa mereka hanya di sini dengan alat bermain seadanya sementara teman mereka di tempat lain merdeka penuh dengan fasilitas bermain yang lengkap?. Aku pun merenung.


Dari kepolosan dan kejujuran anak-anak itu, “mengapa” tidaklah begitu penting tapi “tekad”. Bertanya tidak terlalu penting tapi tindakan. Bertanya akan membuat masalah menjadi kusut dan tak terurai, tapi tekad yang baik akan melapangkan jalan menuju tujuan. Merdeka dan bangga menjadi anak Indonesia bagi mereka bukanlah pilihan tapi tekad.


Walau semalaman berjaga menatap monitor yang penuh angka, semangat tetap di dada. Anak-anak itu mengajarkan tekad, pribadi yang berketetapan dan komitmen bukan pengecut. Berdirilah dan nyatakan tekadmu. Aku memang anak yang merdeka, aku bangga menjadi anak Indonesia. Mari kita berjuang!

Senin, 17 Agustus 2009

Catatan Merdeka

Perjuangan melepaskan diri dari penjajah untuk mendapatkan kemerdekaan tidak jauh berbeda dengan perjuangan mendapatkan hidup yang layak di era yang katanya telah merdeka ini. Merdeka masih belum sepenuhnya milik rakyat. Merdeka masih berada di singgasana kekuasaan dan pilar-pilar pendukungnya. Merdeka masih di ruang diskusi, di podium, berkibar di ujung tiang 17 yang setiap tahun selalu kita hormati tapi sulit untuk diraih.

Untuk mengisi kemerdekaan hidup memang harus terus diperjuangkan untuk merdeka. Untuk merdeka dari kemiskinan banyak yang berjuang dengan mengemis di perampatan jalan, mengkomersilkan seksnya, mencuri jemuran dan ayam tetangganya, meledakkan tubuhnya, dan bermacam-macam pekerjaan yang tidak merdeka di lakukan.

Sebaliknya ada segelintir orang yang sesungguhnya telah merdeka dari kemiskinan tetapi mencuri uang rakyat hanya untuk merdekanya yang super…, merdeka bagi mereka bukan hanya sekedar makan-minum tapi kesenangan, hiburan, dan kenikmatan.

Enam puluh empat tahun sudah merah-putih berkibar. Enam puluh empat tahun sudah bangsa ini merdeka. Tapi rasanya hanya segelintir orang yang berkibar dengan merdeka di ujung tiang, sebagian masih menahan airmata setengah tiang, bahkan yang kebanyakan masih terkapar di bawah tiang dengan pasrah di buai angin harapan negeri yang kaya ini.

Dirgahayu Indonesia. Dirgahayu negeriku. Siapapun yang memimpin, kibarkan kami di puncak tiang.

Rabu, 12 Agustus 2009

Mengenang W.S. Rendra

............
Kekuasaan kekerasan merajalela.
Pasar dibakar,
kampung dibakar,
Gubuk-gubuk gelandangan dibongkar,
tanpa ada gantinya.
Semua atas nama tahayul pembangunan.
Restoran dibakar,
toko dibakar,
gereja dibakar,
atas nama semangat agama yang berkobar.
Apabila agama menjadi lencana politik,
maka,
erosi agama pasti terjadi.
Karna politik tidak punya kepala
Tidak punya telinga
Tidak punya hati
Politik hanya mengenal kalah dan menang
Kawan dan lawan.
Peradaban yang dangkal.
..................
Sepenggal karya WS Rendra ini mewakili suara orang-orang yang tertindas. Tertindas karena kemiskinan, tertindas karena kebodohan, bahkan tertindas karena minoritas di tengah raksasa mayoritas yang selalu mengatasnamakan kebenaran dan iman.
Sosok yang kukenal lewat karyanya memberikan inspirasi bahwa hati nurani harus tetap dibangkitkan dalam idealisme dan selalu diperjuangkan menjadi realisme. Menjadi bagian hidup yang nyata dan bukan hanya berada di tataran angan yang terus di dongengkan sebagai sebuah harapan.

Kamis, 6 Agustus 2009,burung merak itu telah pergi selamanya. Namun pekikannya akan terus menggema menembus pintu hati setiap orang, membangunkan nurani yang tidur, menikam nurani siapa saja yang telah menghianati kemanusian dan berpihak pada peradaban yang dangkal.

Selamat jalan W.S. Rendra, burung merak yang bersahaja,idealis dan berani. Terbanglah kau menembus langit dan kabarkan kepada DIA bahwa bangsa ini belum sesungguhnya merdeka, bahwa sebagian rakyat masih terjajah.