Padahal, “istri” bukan status administratif. Ia bukan hanya sebutan setelah nikah. Ia bukan tanda jadi dalam daftar keluarga. Ia adalah manusia, lengkap dengan pikirannya, kehendaknya, gelisahnya, dan hak untuk tak selalu mengerti.
Tapi dalam banyak budaya, termasuk milik kita, kata “istri” terperangkap dalam beban: ia harus patuh, harus sabar, harus melayani. Ia dituntut untuk mengerti suami, tapi tak banyak ditanya apakah ia sendiri dipahami. Ia harus menjaga rumah, anak, dapur, emosi, kadang tanpa boleh lelah, tanpa boleh marah.
Dalam tafsir lama yang diajarkan turun-temurun, istri adalah refleksi dari kehormatan suami. Maka ketika istri bicara terlalu keras, ia dianggap mencoreng. Ketika ia memilih keluar rumah, ia disebut kurang hormat. Ketika ia meminta kesetaraan, ia dicap melawan kodrat.
Tapi kodrat siapa? Tuhan? Atau tafsir laki-laki yang tak pernah benar-benar ditantang?
Goethe pernah menulis bahwa hubungan terbaik bukan ketika dua orang saling memandang, tapi ketika keduanya melihat ke arah yang sama. Tapi seringkali, istri justru diminta menatap terus pada wajah suami, menyesuaikan langkah, menyamakan suara, meredam cahaya dirinya agar tidak “menyaingi”.
Padahal, istri bukan bayangan. Ia bukan cermin. Ia tak hidup untuk menampilkan wajah orang lain.
Di masa kini, banyak perempuan menyandang kata “istri” dengan rasa baru. Mereka bekerja, berpikir, menulis, memilih. Mereka bukan lagi makhluk domestik yang diam. Tapi dunia kadang belum siap. Ketika istri lebih berhasil dari suami, ia dianggap mengancam. Ketika ia menolak peran konvensional, ia dituduh egois. Ketika ia menggugat, ia dicibir “tak tahu bersyukur”.
Seakan-akan, menjadi istri berarti menjadi penghapus dirinya sendiri.
Maka tak mengherankan jika banyak perempuan ragu pada institusi pernikahan. Bukan karena mereka membenci cinta, tapi karena terlalu sering cinta digunakan sebagai dalih untuk menuntut ketundukan. Dan terlalu jarang kata “istri” dikaitkan dengan kata “merdeka”.
Tentu, tak semua laki-laki mendominasi. Tak semua rumah tangga menyakitkan. Tapi selama imajinasi kita tentang istri masih dipenuhi oleh mitos “perempuan baik-baik” yang sabar, jinak, dan manut, maka relasi suami-istri tak akan pernah benar-benar setara.

.png)
.png)