Kamis, 22 Mei 2025

Duda

Mungkin, dalam diamnya, duda bukan mencari pengganti. Ia hanya ingin dikenang bukan sebagai yang tinggal sendiri—tapi sebagai seseorang yang pernah mencintai, dan kini belajar hidup dengan kenangan.

Duda. Kata itu terdengar ganjil, dan entah mengapa terasa sunyi. Ia tak punya eufemisme. Ia datang tanpa lentik. Tidak seperti “janda” yang disisipkan dalam lirik lagu melayu, atau dipakai sebagai bahan kelakar politik, “duda” seperti bunyi pintu yang tertutup terlalu cepat. Ia ada, tapi jarang dibicarakan.
Dalam masyarakat kita, duda selalu diimajinasikan separuh. Seorang lelaki yang kehilangan, tapi diharapkan cepat pulih. Ia tidak boleh terlalu lama bersedih, karena kesedihan laki-laki dianggap tak elok. Ia juga tak boleh terlalu cepat mencari pengganti, karena itu akan disebut tak setia. Maka, di manakah seorang duda sebaiknya berdiri?

Kita terbiasa menempatkan lelaki sebagai yang kuat. Tapi ketika menjadi duda, kekuatan itu diuji dalam bentuk yang tak lazim: sepi yang diam, kesibukan yang tiba-tiba tak berarti, ruang makan yang terlalu luas untuk satu kursi.

Duda bukan hanya kehilangan pasangan. Ia adalah kehilangan ritme. Tak ada lagi yang bertanya apakah ia sudah makan, tak ada lagi yang mengingatkan untuk tidur lebih awal, tak ada lagi obrolan malam yang tak penting tapi terasa penting. Yang tersisa adalah jam, berputar tanpa arah.

Sosiologi kita lebih siap membicarakan janda. Ia dilabeli. Ia diawasi. Ia distereotipkan. Tapi duda, ia seperti hantu yang berjalan di tengah kota: ada, tapi tak pernah dianggap. Ia bukan tokoh utama dalam sinetron. Ia jarang muncul dalam lagu. Dan ketika ia bicara soal kehilangan, ia kadang dianggap cengeng.

Padahal, duka tak mengenal gender. Kesepian tak mengenal jenis kelamin.

Yang menarik, ketika seorang duda memutuskan untuk menikah lagi, tak ada yang heran. “Wajar,” kata orang. “Lelaki tak bisa hidup sendiri.” Tapi kalimat itu, bila direnungkan, justru menyedihkan. Seakan-akan seorang laki-laki tak boleh menjadikan kesendiriannya sebagai pilihan. Ia harus segera “menambal” hidupnya. Ia tak diberi ruang untuk sejenak diam dan meratap.

Barangkali kita terlalu terburu-buru menyuruh orang yang berduka untuk bangkit. Kita takut pada tangis, seolah itu pertanda lemah. Kita lupa, ada kehilangan yang tak bisa dipercepat pemulihannya. Dan menjadi duda bukan berarti membuka lembaran baru, kadang, itu hanya berarti belajar membaca halaman yang sudah tak lengkap.

Duda bukan status sipil. Ia adalah musim. Kadang kering, kadang mendung. Kadang hangat, tapi tak pernah sama. Ia bukan kutuk, tapi juga bukan kemerdekaan. Ia adalah peralihan, yang tak semua orang mampu maknai.

Rabu, 21 Mei 2025

Istri

Istri. Sebuah kata yang tak jarang terdengar sebagai pelengkap. Dalam undangan, ia ditulis dalam tanda kurung. Dalam pidato, ia disebut di belakang: “...dan ibu-ibu.” Dalam percakapan, kadang ia hadir sebagai kepunyaan: “itu istrinya si X,” seakan-akan perempuan selalu harus memiliki tuan.

Padahal, “istri” bukan status administratif. Ia bukan hanya sebutan setelah nikah. Ia bukan tanda jadi dalam daftar keluarga. Ia adalah manusia, lengkap dengan pikirannya, kehendaknya, gelisahnya, dan hak untuk tak selalu mengerti.

Tapi dalam banyak budaya, termasuk milik kita, kata “istri” terperangkap dalam beban: ia harus patuh, harus sabar, harus melayani. Ia dituntut untuk mengerti suami, tapi tak banyak ditanya apakah ia sendiri dipahami. Ia harus menjaga rumah, anak, dapur, emosi, kadang tanpa boleh lelah, tanpa boleh marah.

Dalam tafsir lama yang diajarkan turun-temurun, istri adalah refleksi dari kehormatan suami. Maka ketika istri bicara terlalu keras, ia dianggap mencoreng. Ketika ia memilih keluar rumah, ia disebut kurang hormat. Ketika ia meminta kesetaraan, ia dicap melawan kodrat.

Tapi kodrat siapa? Tuhan? Atau tafsir laki-laki yang tak pernah benar-benar ditantang?

Goethe pernah menulis bahwa hubungan terbaik bukan ketika dua orang saling memandang, tapi ketika keduanya melihat ke arah yang sama. Tapi seringkali, istri justru diminta menatap terus pada wajah suami, menyesuaikan langkah, menyamakan suara, meredam cahaya dirinya agar tidak “menyaingi”.

Padahal, istri bukan bayangan. Ia bukan cermin. Ia tak hidup untuk menampilkan wajah orang lain.

Di masa kini, banyak perempuan menyandang kata “istri” dengan rasa baru. Mereka bekerja, berpikir, menulis, memilih. Mereka bukan lagi makhluk domestik yang diam. Tapi dunia kadang belum siap. Ketika istri lebih berhasil dari suami, ia dianggap mengancam. Ketika ia menolak peran konvensional, ia dituduh egois. Ketika ia menggugat, ia dicibir “tak tahu bersyukur”.

Seakan-akan, menjadi istri berarti menjadi penghapus dirinya sendiri.

Maka tak mengherankan jika banyak perempuan ragu pada institusi pernikahan. Bukan karena mereka membenci cinta, tapi karena terlalu sering cinta digunakan sebagai dalih untuk menuntut ketundukan. Dan terlalu jarang kata “istri” dikaitkan dengan kata “merdeka”.

Tentu, tak semua laki-laki mendominasi. Tak semua rumah tangga menyakitkan. Tapi selama imajinasi kita tentang istri masih dipenuhi oleh mitos “perempuan baik-baik” yang sabar, jinak, dan manut, maka relasi suami-istri tak akan pernah benar-benar setara.

Selasa, 20 Mei 2025

Facebook

Facebook bukanlah ruang tamu, tapi kita memasukinya seperti sahabat lama yang datang membawa cerita. Kita menyapanya setiap pagi, kadang tanpa sadar, seperti ritual setengah sadar. Ia tidak berbau kopi, tidak berisi tawa yang hangat, tapi ia mengklaim keintiman. Ia menyebut dirinya “jejaring sosial”, padahal ia lebih mirip cermin yang memantulkan bayangan yang ingin kita lihat dari diri sendiri, dan dari dunia.

Kita menyebutnya media sosial. Tapi benarkah masih sosial, ketika percakapan digiring oleh algoritma, ketika pertemanan diproses oleh kecerdasan buatan, dan ketika yang paling keras suaranya justru yang paling diutamakan?

Facebook lahir dari ide sederhana: menyambungkan manusia. Tapi seperti semua yang sederhana dalam sejarah, ia tumbuh menjadi rumit. Ia bermula dari kampus Ivy League dan berkembang menjadi kekuatan global. Ia, hari ini, lebih besar dari sekadar perusahaan teknologi. Ia seperti negara, tanpa wilayah, tapi punya hukum sendiri; tanpa parlemen, tapi memutuskan apa yang layak tampil dan apa yang tenggelam; tanpa pemilu, tapi pemiliknya bisa memengaruhi jutaan suara.

Zuckerberg, seperti banyak pemilik imperium, tidak tampil seperti raja. Ia mengenakan kaos abu-abu, tersenyum kikuk, dan menyebut perusahaannya sebagai “komunitas”. Tapi komunitas macam apa yang dijaga oleh barisan moderator bayaran, kecerdasan buatan, dan sistem penyaringan yang bisa membungkam satu suara sekaligus memviralkan kebencian dalam satu klik?

Facebook memberi kita ilusi pilihan, tapi ia juga memilihkan untuk kita. Ia menyusun beranda berdasarkan apa yang kita suka, atau lebih tepatnya: berdasarkan apa yang membuat kita terus menatap layar. Maka bukanlah kebenaran yang dijunjung, tapi keterlibatan. Bukanlah kesunyian yang diberi tempat, tapi keramaian, sekalipun itu keramaian palsu, gaduh yang dikonstruksi, dan kebisingan yang dibeli.

Kita menyebutnya tempat berbagi, tapi siapa yang paling banyak mengambil?
Data. Privasi. Waktu. Tiga hal yang perlahan tergerus oleh kehadiran yang tampak tanpa pamrih ini. Kita tidak membayar untuk memakai Facebook, tapi justru karena itu kita membayar lebih mahal: kita menjadi produk. Data kita dijual, perilaku kita dipetakan, pilihan kita dipelajari, dan semua itu dijadikan komoditas. Sering tanpa kita sadari, kita ikut menyusun peta besar dunia yang dikuasai perusahaan-perusahaan digital raksasa, yang kantor pusatnya jauh dari rumah-rumah kita.

Mungkin yang paling getir adalah ini: kita menjadi aktor dalam pertunjukan yang tak kita tulis naskahnya. Kita membagikan foto, opini, berita, kemarahan, kesedihan, tapi semua itu dimasukkan ke dalam mesin yang tak peduli pada isi, hanya pada efek. Seorang ibu kehilangan anak karena hoaks yang disebarkan melalui Facebook. Seorang teman jadi musuh karena perbedaan pandangan yang diperuncing di kolom komentar. Dan kita semua, pelan-pelan, belajar untuk memilih kata bukan berdasarkan nurani, tapi berdasarkan respons.

Adakah jalan keluar?
Barangkali tidak mudah. Karena Facebook tidak hanya hadir di gawai kita. Ia sudah menjadi bagian dari lanskap mental. Ia membentuk cara kita melihat diri sendiri dan orang lain. Ia menjadi ruang publik baru, tapi dengan batas-batas yang tak transparan. Ia adalah pasar gagasan, tapi juga tempat berkembangnya ilusi dan kebencian.

Namun, seperti juga semua kekuasaan yang pernah ada, Facebook tidak kebal. Ia bisa ditinggalkan. Ia bisa dipertanyakan. Ia bisa, dan harus, dikritik.

Bukan karena kita membencinya. Tapi justru karena kita telah terlalu lama hidup bersamanya tanpa cukup curiga.