Rabu, 04 Juni 2025

Korupsi

Korupsi bukanlah soal uang. Setidaknya tidak hanya itu. Ia lebih dalam dari tumpukan lembar rupiah yang berpindah tangan dalam amplop cokelat. Ia adalah gejala purba dari kuasa yang kehilangan malu. Ia menyelinap seperti debu: tak terlihat, tapi terasa. Dan perlahan, menumpuk, menyesakkan ruang-ruang yang seharusnya bersih.

Kita sering membayangkannya sebagai drama: ada pejabat, ada suap, ada rekaman, ada operasi tangkap tangan. Tapi korupsi jarang sejelas itu. Ia bekerja dalam bisik-bisik. Dalam pertemuan makan siang yang tak tercatat. Dalam tanda tangan yang dipercepat. Dalam proyek yang dibengkakkan, lalu disusutkan kembali anggarannya untuk menyuapi yang tak terlihat. Ia hadir dalam persekongkolan yang begitu rapi, hingga kejahatan tampak seperti prosedur biasa.

Korupsi tidak memilih partai. Ia lintas ideologi, lintas agama, bahkan lintas generasi. Ia merayap di lorong kekuasaan, di mana jabatan lebih sering dilihat sebagai hak, bukan tanggung jawab. Ia tumbuh subur dalam sistem yang lemah, ketika hukum tak lagi tegak, hanya lentur mengikuti kepentingan. Maka jangan heran, jika kita temukan korupsi tak hanya di kementerian, tapi juga di kampus, di sekolah, bahkan di masjid dan gereja.

Ada yang mengatakan, “korupsi sudah budaya.” Tapi benarkah?

Budaya, sebagaimana kita pahami, adalah sesuatu yang diwariskan untuk menjaga peradaban. Korupsi, sebaliknya, mewariskan kerusakan. Maka menyebut korupsi sebagai budaya adalah menyerah sebelum melawan. Ia bukan budaya. Ia penyakit. Dan seperti semua penyakit, ia harus dikenali, bukan dirayakan sebagai kebiasaan bangsa.

Namun, korupsi tetap hidup, bahkan berkembang. Barangkali karena ia tidak hanya dilakukan oleh orang jahat. Tapi juga oleh orang biasa, yang menormalisasi keburukan. Yang diam ketika melihat penyimpangan. Yang berkata, “begitulah sistemnya,” sembari tetap duduk nyaman dalam lingkaran manfaat. Korupsi hidup bukan hanya karena pelakunya kuat. Tapi karena yang melihatnya memilih bungkam.

Kadang kita terlalu sibuk menghitung kerugian negara. Miliaran, triliunan. Seolah kerusakan hanya bisa diukur dalam angka. Tapi korupsi lebih ganas dari sekadar statistik. Ia merusak kepercayaan. Ia menciptakan generasi yang sinis. Ia membuat anak-anak bertanya kenapa kejujuran tampak seperti kebodohan. Dan pertanyaan semacam itu lebih menakutkan dari kerugian materi.

Korupsi juga menunjukkan satu hal yang getir: bahwa kemiskinan tak selalu disebabkan oleh kekurangan sumber daya. Tapi oleh perampokan yang dilegalkan, difasilitasi, dan dibungkus dengan senyum rapat-rapat.

Ketika seorang kepala daerah membeli mobil mewah dari uang rakyat, itu bukan hanya penggelapan. Itu adalah bentuk pengkhianatan yang sistematis. Dan yang paling menyakitkan adalah ketika pelakunya tetap dipanggil “yang terhormat.”

Tapi kita juga harus berhati-hati. Karena dalam semangat membenci korupsi, kita kadang mengharapkan malaikat di panggung kekuasaan. Kita lupa bahwa sistem bukan soal niat baik individu, tapi tentang bagaimana mencegah kekuasaan menyimpang—sekalipun ia dipegang oleh orang yang hari ini kita percayai.

Korupsi adalah cermin. Ia memantulkan bukan hanya wajah si koruptor, tapi juga wajah masyarakat yang membiarkannya. Maka pertanyaannya bukan hanya: siapa yang korup? Tapi juga: siapa yang diam?

Selasa, 03 Juni 2025

AI

Kecerdasan bisa ditiru, tapi kesadaran tetap gelap.

Ada masa ketika mesin hanya tahu dua hal: hidup dan mati—satu dan nol. Tapi kini, mesin tidak hanya menghitung, ia belajar. Ia menyimak. Ia meniru. Bahkan, kadang tampak mengerti. Dan dari ruang itu, kita menyebutnya: Artificial Intelligence. Kecerdasan buatan. Tapi kata “buatan” di sini tidak berarti palsu. Ia tetap cerdas, kadang bahkan lebih cerdas dari kita—setidaknya dalam menghitung, mengenali pola, meniru gaya, dan menjawab pertanyaan yang tidak terlalu rumit tapi terlalu cepat untuk manusia. Tapi “kecerdasan” macam apa yang tak punya kesadaran?

Yang mengejutkan bukanlah kemampuan AI. Yang mengejutkan adalah betapa kita cepat terbiasa dengan keberadaannya. Kita biarkan ia menyusun kalimat, menebak keinginan kita, mengisi kekosongan percakapan, bahkan—dengan percaya diri—menggantikan pekerjaan. Ia menulis, menggambar, menyanyi, meniru suara orang mati, dan membantu kita mencari cinta di aplikasi kencan.

Namun kecerdasan tak pernah netral. AI, seperti pisau, bisa memotong roti atau menikam. Tapi tak seperti pisau, AI memiliki logika tersembunyi yang tak selalu kita pahami. Ia belajar dari data. Dan data datang dari kita—dari sejarah, dari kebiasaan, dari bias. Maka AI bukan makhluk suci. Ia bisa rasis, bisa seksis, bisa curang. Tapi kita jarang menyalahkan algoritma, karena ia tidak berwajah.

Dan mungkin, karena itu pula kita mudah memaafkannya. Kita bersikap seperti manusia yang malu mengakui bahwa ciptaannya telah menguasainya. AI memprediksi perilaku kita, tapi diam-diam juga membentuknya. Ia merekomendasikan buku, tapi juga mempersempit selera. Ia mengatur lalu lintas, tapi kadang juga membuat kita lupa arah.

AI bisa menggubah musik seperti Bach. Menulis puisi seperti Neruda. Menggambar wajah yang tak pernah ada. Tapi AI tak pernah tahu makna kehilangan. Tak pernah mencintai. Tak pernah merasa rindu. Ia hanya tahu statistik dari kata-kata itu. Dan karena itu, ia mengingatkan kita pada sebuah paradoks: betapa kompleksnya emosi, betapa mekanisnya bahasa.

Di tangan militer, AI bisa menembak sebelum manusia sempat berpikir. Di tangan negara, ia bisa menjadi penjaga, atau pengintai. Tapi siapa yang menjaga penjaga itu?

Di satu sisi, AI adalah pencapaian sains. Di sisi lain, ia adalah cermin yang dingin. Ia memperlihatkan kepada kita bahwa kecerdasan ternyata bisa direduksi menjadi perhitungan. Tapi hidup manusia tak pernah sepenuhnya tentang perhitungan. Kita mencintai bukan karena logis. Kita memaafkan bukan karena rasional. Kita berduka bukan karena diprogram.

Dalam sejarahnya, manusia selalu menciptakan alat untuk memperkuat dirinya. Kapak batu, roda, mesin uap. Tapi AI berbeda. Ia bukan hanya memperpanjang tangan kita, ia mulai mengambil alih sebagian dari kepala kita. Ia bukan alat. Ia rekan. Dan mungkin, kelak, ia juga akan menjadi saingan.

Yang paling mengkhawatirkan bukan bahwa AI akan jadi lebih pintar dari kita. Tapi bahwa kita akan terlalu bergantung padanya, dan berhenti berpikir. Seperti orang yang terlalu lama dibimbing, hingga lupa bagaimana berjalan sendiri. Atau seperti anak yang tak pernah diajari kesalahan, hanya diberi jawaban.

Senin, 02 Juni 2025

Algoritma


Tak semua pilihan lahir dari kehendak bebas, dan tak semua kebetulan adalah kebetulan.

Di awalnya, algoritma adalah sesuatu yang sederhana. Ia hanya urutan instruksi logis—langkah demi langkah, mirip resep memasak. Tak ada yang mistis. Ia netral, bersih, dan katanya: objektif. Tapi dalam dunia yang pelan-pelan menyerahkan pikirannya ke layar, algoritma menjelma entitas yang tak lagi sederhana. Ia mulai membentuk dunia. Diam-diam.
Kita membayangkan algoritma sebagai mesin yang tahu kita lebih baik dari diri kita sendiri. Ia merekomendasikan lagu yang kita sukai, video yang membuat kita tertawa, berita yang membuat kita marah. Ia tahu jam berapa kita bangun, seberapa lama kita menatap meme, bahkan berapa detik kita berhenti di foto seseorang.
Namun justru di sanalah letak persoalannya. Algoritma bukan hanya mengamati kita. Ia memengaruhi kita. Ia menyusun apa yang kita lihat. Ia memutuskan mana yang layak muncul, mana yang diabaikan. Kita merasa bebas berselancar di dunia maya, padahal jalannya sudah digariskan.
Dalam dunia media sosial, algoritma bukan hanya mengatur isi layar, tapi juga membentuk isi kepala. Ia memperkuat bias. Ia mengurung kita dalam gelembung—di mana kita terus mendengar opini yang sama, emosi yang sama, kemarahan yang sama. Kebenaran yang berbeda terasa semakin asing. Dunia menjadi gema yang disetel ulang oleh mesin.
Kita tidak lagi membaca karena ingin tahu, tapi karena “direkomendasikan untuk Anda.” Dan karena itu, ada ironi besar yang menggantung di era digital: makin banyak informasi, makin sempit wawasan. Bukan karena tak tersedia, tapi karena tak disajikan.
Lebih jauh, algoritma tak hanya bekerja untuk menyenangkan. Ia bekerja untuk menguntungkan. Setiap klik, setiap like, setiap scroll—dikonversi menjadi data. Dan dari data, menjadi komoditas. Kita bukan lagi sekadar pengguna; kita adalah produk. Yang dijual bukan barang, tapi perhatian. Dan algoritma adalah makelar yang paling sabar dan paling cerdas.
Masalahnya, algoritma tak punya etika. Ia tak tahu apakah yang ditampilkannya akan memperkuat kebencian, mempercepat polarisasi, atau memperlebar jurang. Ia hanya tahu satu hal: mempertahankan perhatian kita. Maka yang ekstrem lebih disukai. Yang aneh lebih diprioritaskan. Yang membuat takut lebih sering muncul. Kecemasan, tampaknya, lebih menguntungkan daripada ketenangan.