Kita sering membayangkannya sebagai drama: ada pejabat, ada suap, ada rekaman, ada operasi tangkap tangan. Tapi korupsi jarang sejelas itu. Ia bekerja dalam bisik-bisik. Dalam pertemuan makan siang yang tak tercatat. Dalam tanda tangan yang dipercepat. Dalam proyek yang dibengkakkan, lalu disusutkan kembali anggarannya untuk menyuapi yang tak terlihat. Ia hadir dalam persekongkolan yang begitu rapi, hingga kejahatan tampak seperti prosedur biasa.
Korupsi tidak memilih partai. Ia lintas ideologi, lintas agama, bahkan lintas generasi. Ia merayap di lorong kekuasaan, di mana jabatan lebih sering dilihat sebagai hak, bukan tanggung jawab. Ia tumbuh subur dalam sistem yang lemah, ketika hukum tak lagi tegak, hanya lentur mengikuti kepentingan. Maka jangan heran, jika kita temukan korupsi tak hanya di kementerian, tapi juga di kampus, di sekolah, bahkan di masjid dan gereja.
Ada yang mengatakan, “korupsi sudah budaya.” Tapi benarkah?
Budaya, sebagaimana kita pahami, adalah sesuatu yang diwariskan untuk menjaga peradaban. Korupsi, sebaliknya, mewariskan kerusakan. Maka menyebut korupsi sebagai budaya adalah menyerah sebelum melawan. Ia bukan budaya. Ia penyakit. Dan seperti semua penyakit, ia harus dikenali, bukan dirayakan sebagai kebiasaan bangsa.
Namun, korupsi tetap hidup, bahkan berkembang. Barangkali karena ia tidak hanya dilakukan oleh orang jahat. Tapi juga oleh orang biasa, yang menormalisasi keburukan. Yang diam ketika melihat penyimpangan. Yang berkata, “begitulah sistemnya,” sembari tetap duduk nyaman dalam lingkaran manfaat. Korupsi hidup bukan hanya karena pelakunya kuat. Tapi karena yang melihatnya memilih bungkam.
Kadang kita terlalu sibuk menghitung kerugian negara. Miliaran, triliunan. Seolah kerusakan hanya bisa diukur dalam angka. Tapi korupsi lebih ganas dari sekadar statistik. Ia merusak kepercayaan. Ia menciptakan generasi yang sinis. Ia membuat anak-anak bertanya kenapa kejujuran tampak seperti kebodohan. Dan pertanyaan semacam itu lebih menakutkan dari kerugian materi.
Korupsi juga menunjukkan satu hal yang getir: bahwa kemiskinan tak selalu disebabkan oleh kekurangan sumber daya. Tapi oleh perampokan yang dilegalkan, difasilitasi, dan dibungkus dengan senyum rapat-rapat.
Ketika seorang kepala daerah membeli mobil mewah dari uang rakyat, itu bukan hanya penggelapan. Itu adalah bentuk pengkhianatan yang sistematis. Dan yang paling menyakitkan adalah ketika pelakunya tetap dipanggil “yang terhormat.”
Tapi kita juga harus berhati-hati. Karena dalam semangat membenci korupsi, kita kadang mengharapkan malaikat di panggung kekuasaan. Kita lupa bahwa sistem bukan soal niat baik individu, tapi tentang bagaimana mencegah kekuasaan menyimpang—sekalipun ia dipegang oleh orang yang hari ini kita percayai.
Korupsi adalah cermin. Ia memantulkan bukan hanya wajah si koruptor, tapi juga wajah masyarakat yang membiarkannya. Maka pertanyaannya bukan hanya: siapa yang korup? Tapi juga: siapa yang diam?

.png)
