Tak semua pilihan lahir dari kehendak bebas, dan tak semua kebetulan adalah kebetulan.
Kita membayangkan algoritma sebagai mesin yang tahu kita lebih baik dari diri kita sendiri. Ia merekomendasikan lagu yang kita sukai, video yang membuat kita tertawa, berita yang membuat kita marah. Ia tahu jam berapa kita bangun, seberapa lama kita menatap meme, bahkan berapa detik kita berhenti di foto seseorang.
Namun justru di sanalah letak persoalannya. Algoritma bukan hanya mengamati kita. Ia memengaruhi kita. Ia menyusun apa yang kita lihat. Ia memutuskan mana yang layak muncul, mana yang diabaikan. Kita merasa bebas berselancar di dunia maya, padahal jalannya sudah digariskan.
Dalam dunia media sosial, algoritma bukan hanya mengatur isi layar, tapi juga membentuk isi kepala. Ia memperkuat bias. Ia mengurung kita dalam gelembung—di mana kita terus mendengar opini yang sama, emosi yang sama, kemarahan yang sama. Kebenaran yang berbeda terasa semakin asing. Dunia menjadi gema yang disetel ulang oleh mesin.
Kita tidak lagi membaca karena ingin tahu, tapi karena “direkomendasikan untuk Anda.” Dan karena itu, ada ironi besar yang menggantung di era digital: makin banyak informasi, makin sempit wawasan. Bukan karena tak tersedia, tapi karena tak disajikan.
Lebih jauh, algoritma tak hanya bekerja untuk menyenangkan. Ia bekerja untuk menguntungkan. Setiap klik, setiap like, setiap scroll—dikonversi menjadi data. Dan dari data, menjadi komoditas. Kita bukan lagi sekadar pengguna; kita adalah produk. Yang dijual bukan barang, tapi perhatian. Dan algoritma adalah makelar yang paling sabar dan paling cerdas.
Masalahnya, algoritma tak punya etika. Ia tak tahu apakah yang ditampilkannya akan memperkuat kebencian, mempercepat polarisasi, atau memperlebar jurang. Ia hanya tahu satu hal: mempertahankan perhatian kita. Maka yang ekstrem lebih disukai. Yang aneh lebih diprioritaskan. Yang membuat takut lebih sering muncul. Kecemasan, tampaknya, lebih menguntungkan daripada ketenangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar