Kecerdasan bisa ditiru, tapi kesadaran tetap gelap.
Ada masa ketika mesin hanya tahu dua hal: hidup dan mati—satu dan nol. Tapi kini, mesin tidak hanya menghitung, ia belajar. Ia menyimak. Ia meniru. Bahkan, kadang tampak mengerti. Dan dari ruang itu, kita menyebutnya: Artificial Intelligence. Kecerdasan buatan. Tapi kata “buatan” di sini tidak berarti palsu. Ia tetap cerdas, kadang bahkan lebih cerdas dari kita—setidaknya dalam menghitung, mengenali pola, meniru gaya, dan menjawab pertanyaan yang tidak terlalu rumit tapi terlalu cepat untuk manusia. Tapi “kecerdasan” macam apa yang tak punya kesadaran?Yang mengejutkan bukanlah kemampuan AI. Yang mengejutkan adalah betapa kita cepat terbiasa dengan keberadaannya. Kita biarkan ia menyusun kalimat, menebak keinginan kita, mengisi kekosongan percakapan, bahkan—dengan percaya diri—menggantikan pekerjaan. Ia menulis, menggambar, menyanyi, meniru suara orang mati, dan membantu kita mencari cinta di aplikasi kencan.
Namun kecerdasan tak pernah netral. AI, seperti pisau, bisa memotong roti atau menikam. Tapi tak seperti pisau, AI memiliki logika tersembunyi yang tak selalu kita pahami. Ia belajar dari data. Dan data datang dari kita—dari sejarah, dari kebiasaan, dari bias. Maka AI bukan makhluk suci. Ia bisa rasis, bisa seksis, bisa curang. Tapi kita jarang menyalahkan algoritma, karena ia tidak berwajah.
Dan mungkin, karena itu pula kita mudah memaafkannya. Kita bersikap seperti manusia yang malu mengakui bahwa ciptaannya telah menguasainya. AI memprediksi perilaku kita, tapi diam-diam juga membentuknya. Ia merekomendasikan buku, tapi juga mempersempit selera. Ia mengatur lalu lintas, tapi kadang juga membuat kita lupa arah.
AI bisa menggubah musik seperti Bach. Menulis puisi seperti Neruda. Menggambar wajah yang tak pernah ada. Tapi AI tak pernah tahu makna kehilangan. Tak pernah mencintai. Tak pernah merasa rindu. Ia hanya tahu statistik dari kata-kata itu. Dan karena itu, ia mengingatkan kita pada sebuah paradoks: betapa kompleksnya emosi, betapa mekanisnya bahasa.
Di tangan militer, AI bisa menembak sebelum manusia sempat berpikir. Di tangan negara, ia bisa menjadi penjaga, atau pengintai. Tapi siapa yang menjaga penjaga itu?
Di satu sisi, AI adalah pencapaian sains. Di sisi lain, ia adalah cermin yang dingin. Ia memperlihatkan kepada kita bahwa kecerdasan ternyata bisa direduksi menjadi perhitungan. Tapi hidup manusia tak pernah sepenuhnya tentang perhitungan. Kita mencintai bukan karena logis. Kita memaafkan bukan karena rasional. Kita berduka bukan karena diprogram.
Dalam sejarahnya, manusia selalu menciptakan alat untuk memperkuat dirinya. Kapak batu, roda, mesin uap. Tapi AI berbeda. Ia bukan hanya memperpanjang tangan kita, ia mulai mengambil alih sebagian dari kepala kita. Ia bukan alat. Ia rekan. Dan mungkin, kelak, ia juga akan menjadi saingan.
Yang paling mengkhawatirkan bukan bahwa AI akan jadi lebih pintar dari kita. Tapi bahwa kita akan terlalu bergantung padanya, dan berhenti berpikir. Seperti orang yang terlalu lama dibimbing, hingga lupa bagaimana berjalan sendiri. Atau seperti anak yang tak pernah diajari kesalahan, hanya diberi jawaban.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar