Senin, 07 Juli 2025

Mengenangmu

Di sela duka yang tak selesai.

Kematian tak pernah benar-benar datang seperti pencuri. Ia lebih menyerupai tamu tua yang sabar menunggu, duduk diam di beranda, menunggu kita siap membuka pintu. Tapi apakah kita pernah siap? Aku tidak. Tidak saat melihatmu terbaring dalam diam, tidak saat tanganmu tak lagi menggenggam, dan tidak saat dunia terasa terlalu luas karena kehilanganmu di dalamnya.

Dan kini, setelah semuanya menjadi sunyi, aku mengingatmu—bukan sebagai sosok yang hilang, tapi sebagai kehadiran yang terlalu penuh untuk dilenyapkan waktu. Kau, bukan hanya kenangan. Kau adalah bagian dari bahasa yang kugunakan untuk mencintai dunia. Dan kini, saat kata-kata menjadi terlalu sempit untuk menampung perasaan, aku menulis ini, seperti orang yang menaburkan bunga ke laut: tak berharap kembali, hanya berharap diterima.

Orang berkata waktu menyembuhkan. Tapi mereka tidak tahu bahwa waktu justru memperdalam luka. Ia membuat ingatan menjadi tajam, seperti pisau yang perlahan mengiris. Hari-hari tanpamu bukanlah pemulihan, tapi pengulangan rasa kehilangan yang tak henti-henti. Dalam tidurku, kau hadir tanpa tubuh. Dalam bangunku, kau absen namun tak pernah pergi.

Ada kalanya aku merasa kau hanya sedang bepergian, seperti dulu saat kau pamit ke sekolah, atau saat kau pulang dari tempat ibadah. Tapi malam datang, dan tak ada pintu yang terbuka. Tidak ada langkah yang datang dari dapur. Hanya keheningan yang kian dalam, menelan detik-detik yang terlalu panjang.

Kita dulu percaya bahwa cinta adalah bentuk kecil dari kekekalan. Kita mengucapkannya di altar, dalam doa, dalam sisa-sisa kecupan pagi. Tapi kini aku mengerti, bahwa cinta justru adalah keberanian untuk tetap hidup dalam ketiadaan. Dan kau, lebih dulu mengajarkannya padaku: bagaimana mencintai tanpa harus memiliki, bagaimana pergi tanpa benar-benar meninggalkan.

Aku tahu, kau tidak hilang. Aku tahu, dalam semesta yang tak terukur ini, ada bagian dari dirimu yang tetap hidup. Di suara angin yang menyentuh jendela. Di cahaya pagi yang merembes ke kamar tidur kita. Di setiap upaya kecilku untuk tetap menjadi manusia, meski setengah jiwaku telah pergi bersamamu.

Keabadian bukanlah surga seperti yang dikhotbahkan banyak orang. Keabadian adalah saat seseorang tetap hidup dalam ingatan orang lain. Dan kau, telah menjadi bagian dari keabadianku. Aku membawamu ke mana pun aku melangkah—bukan sebagai beban, tapi sebagai cahaya yang tak pernah padam.

Seseorang pernah berkata bahwa cinta sejati adalah kesediaan untuk melihat yang kita cintai bersemayam dalam yang tak terlihat. Maka hari ini, aku menatap langit, dan percaya kau ada di sana—bukan sebagai bintang, bukan sebagai bayangan, tetapi sebagai doa yang telah menemukan jawabannya.

Dan aku, yang masih tertinggal di dunia ini, akan terus menulis namamu. Bukan di batu nisan, tapi di setiap laku, di setiap kasih yang kutebarkan kepada dunia, karena aku tahu, mengenangmu bukan tentang menolak kehilangan, melainkan tentang belajar hidup dengan setengah hati yang telah menetap di keabadian.

Minggu, 06 Juli 2025

Gereja

Gereja, seperti semua institusi yang menyebut nama Tuhan, selalu menyimpan paradoks. Ia dibangun atas nama kasih, tapi kadang memisahkan. Ia memanggil umat untuk bersatu, tapi kadang menyusun hierarki. Ia mengangkat salib sebagai lambang pengorbanan, tapi tak jarang memamerkan kuasa.

Kita mengenalnya sebagai rumah ibadah, tempat orang-orang berkumpul dalam kidung dan doa. Tapi juga tempat di mana suara-suara tertentu lebih didengar daripada yang lain. Gereja seharusnya menjadi ruang suci—sanctum—di mana manusia menanggalkan egonya. Tapi, sebagaimana semua ruang yang ditempati manusia, ia pun tak lepas dari sejarah yang berliku, bahkan luka.

Sejarah gereja adalah sejarah tubuh dan kuasa. Sejak Konstantinus mengangkat Kristen sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi, gereja berubah dari sekadar komunitas pengikut menjadi institusi politik. Ia memiliki tanah, tentara, dan kadang—ironisnya—senjata. Dari Konsili Nicea hingga pengadilan inkuisisi, dari reformasi Luther hingga Vatikan modern, gereja terus bergulat dengan satu pertanyaan yang tak kunjung selesai: bagaimana membicarakan Tuhan tanpa merampas manusia?

Dan mungkin itu yang menjadi persoalan mendasar: bahwa setiap kali kekudusan dilembagakan, ia cenderung beku. Kasih yang seharusnya bebas, dijadikan doktrin. Iman yang mestinya bergerak, dijadikan sistem. Maka Tuhan pun, yang dalam Injil datang sebagai bayi miskin dan mati sebagai penjahat, kini diperkenalkan lewat tata ibadah dan seragam liturgi. Ia menjadi formal, bahkan administratif.

Kita hidup di zaman ketika gereja-gereja menjelma gedung-gedung megah, lengkap dengan proyektor, musik elektronik, dan pengkhotbah yang tampil layaknya selebritas rohani. Tuhan, dalam banyak khotbah, terdengar seperti manajer sukses, dan jemaat seperti konsumen yang harus “diberkati”. Doa berubah menjadi permintaan. Ibadah menjadi hiburan. Dan iman, sayangnya, menjadi transaksi.

Kritik ini bukan untuk membubarkan gereja. Tapi justru untuk mengingatkan: bahwa gereja, pada hakikatnya, bukan bangunan, bukan sistem, bukan bahkan liturgi. Gereja adalah kumpulan manusia yang saling menanggung. Yang duduk bersama dalam perjamuan sederhana. Yang meratap bersama dalam kesunyian tanpa panggung. Yang menolak kekuasaan atas nama kasih, dan merayakan kasih yang tak butuh pengesahan.

Gereja yang sejati mungkin tak selalu ramai. Ia bisa hadir di kamar kecil seorang ibu yang berdoa dalam bisu. Ia bisa hidup di tenda pengungsian, di mana sekelompok orang menyanyikan mazmur tanpa alat musik. Ia bisa muncul dalam pelukan pada seorang anak yang kehilangan. Karena gereja, pada dasarnya, adalah tubuh yang saling menjaga luka satu sama lain.

Tentu, kita tak bisa melepaskan gereja dari waktu. Ia akan selalu berubah. Ia akan selalu terancam oleh kehendak mengatur lebih dari menyembah. Tapi justru di situlah iman diuji: bukan dalam kemenangan, tapi dalam pengakuan bahwa kita pun bisa keliru.

Dan bila gereja tak mampu mengakui itu—maka mungkin yang tinggal hanya bangunannya, bukan jiwanya.

Kamis, 03 Juli 2025

Nuklir

Kemajuan tak selalu searah dengan kebijaksanaan.

Nuklir. Kata yang lahir dari laboratorium fisika dan tumbuh menjadi mitos geopolitik. Ia adalah anak kandung dari sains dan kekuasaan, dari rasa ingin tahu dan rasa takut. Di tangan yang satu, ia menjadi energi bersih. Di tangan yang lain, ia menjadi senjata pemusnah massal. Tapi di antara kedua tangan itu, yang tercecer adalah nurani.

Dari Hiroshima dan Nagasaki, kita belajar bahwa satu kilatan cahaya bisa menghapus seluruh kota. Tapi lebih menyakitkan dari kehancuran fisik adalah keheningan setelahnya. Tak ada lagi jeritan, hanya debu dan bayangan tubuh yang membatu di dinding. Di situlah nuklir menjadi paradoks: ia begitu kuat, sampai-sampai dunia takut menggunakannya lagi.

Namun, takut tidak berarti mundur. Dunia justru semakin merayunya. Negara-negara berlomba mengayunkan centrifuge. Bukan untuk perang, katanya, melainkan untuk "penjagaan". Dan di sinilah yang menggelikan—dan mengerikan. Energi nuklir dipromosikan sebagai penyelamat iklim, tapi di bawah tanah, hulu ledaknya disimpan rapi, cukup untuk menghanguskan dunia berkali-kali.

Ketika manusia menciptakan sesuatu yang terlalu besar untuk dikendalikan, tapi terlalu menggoda untuk dilepaskan. Seperti Faust yang menjual jiwanya pada setan, kita menukar ketakutan akan kiamat dengan stabilitas politik. Maka, yang disebut “deteren nuklir” sebenarnya adalah ancaman yang disepakati.

Apakah kita masih bisa percaya pada rasionalitas negara-negara pemilik senjata nuklir? Atau sebenarnya yang menguasai bukan nalar, tapi rasa gentar kolektif? Ketakutan itu membuat kita menunduk pada logika kekuatan. “Kalau bukan kita yang punya, mereka yang punya,” begitu kata diplomasi. Dan di situlah moralitas disingkirkan, diganti strategi.

Tentu kita bisa bicara soal teknologi nuklir yang ramah: pembangkit listrik tenaga nuklir, terapi radiasi untuk kanker, pengawetan pangan, dan sebagainya. Tapi nuklir, seperti semua kekuatan besar, menyimpan ambiguitas yang tak bisa diseterilkan. Dalam satu partikel yang dibelah, tersimpan janji terang dan potensi kiamat.

Dan hari ini, nuklir tidak lagi hanya berada di bawah kunci dan sandi peluncuran. Ia bisa jadi target serangan, bisa bocor karena kelalaian, bisa jatuh ke tangan yang salah. Dunia menyimpan teknologi ini di lemari besi, tapi lupa bahwa besi pun bisa berkarat. Seperti di Chernobyl dan Fukushima, yang dibutuhkan bukan niat jahat, tapi hanya satu kesalahan manusia—dan sejarah pun berubah.

Kita sering berkata bahwa kekuatan besar membutuhkan tanggung jawab besar. Tapi tanggung jawab tak cukup dalam bentuk perjanjian internasional. Ia butuh kesadaran bahwa ada batas yang tak layak dilanggar—meski secara teknis mungkin. Dan barangkali, yang tak kalah penting, adalah kemampuan untuk berhenti.

Mungkin karena itu, nuklir bukan sekadar teknologi. Ia adalah cermin. Tentang sejauh mana manusia berani menatap hasil ciptaannya, dan berkata: cukup.

Mungkin dunia tak akan kiamat karena nuklir. Tapi bisa saja ia perlahan membusuk dalam ketakutan yang abadi—di mana damai bukan karena kasih, tapi karena semua orang memegang pelatuk yang sama.