Selasa, 08 Juli 2025

Animal Farm

Seekor babi berdiri di atas podium, mengangkat kaki depannya, dan berkata dengan lantang: “Semua binatang adalah setara.” Di hadapannya, kerumunan binatang diam, terpukau. Sebuah revolusi baru saja dimulai. Tapi seperti semua revolusi yang pernah tercatat dalam sejarah manusia, ia lahir dari idealisme dan tumbuh dalam kebohongan.

George Orwell tidak menulis Animal Farm untuk menghibur. Ia menulisnya untuk memperingatkan. Dan karena itu, novel tipis ini bukan sekadar dongeng tentang binatang, tetapi alegori getir tentang bagaimana kekuasaan bekerja—dan lebih dari itu, bagaimana ia menggoda.

Orwell tahu, bahasa bisa menjadi senjata. Dalam Animal Farm, bahasa tidak hanya digunakan untuk menyampaikan ide, tapi untuk membengkokkannya. Ketika babi-babi penguasa mengubah slogan “Semua binatang adalah setara” menjadi “Semua binatang adalah setara, tetapi beberapa lebih setara daripada yang lain”, kita menyaksikan bagaimana absurditas dapat disulap menjadi doktrin. Dan barangkali, lebih dari itu, bagaimana manusia (atau dalam hal ini: binatang) dapat mempercayai absurditas itu ketika ia disampaikan cukup sering.

Kekuasaan dalam Animal Farm tidak datang dengan tanduk, tapi dengan retorika. Napoleon—si babi yang ambisius—tidak hanya merebut kursi, tapi juga narasi. Ia menghapus sejarah, mengarang kembali masa lalu, dan membungkam suara-suara yang tak sepakat. Ia adalah Stalin dalam bentuk binatang, tapi juga adalah cermin kecil dari banyak pemimpin di dunia nyata: yang datang membawa janji pembebasan, lalu menjelma menjadi tiran yang lebih halus, lebih sopan, dan lebih licik.

Binatang-binatang lain—kuda pekerja, domba yang terus mengembik slogan, ayam-ayam yang memberontak tapi gagal—adalah gambaran dari masyarakat yang terlalu letih untuk berpikir. Mereka adalah simbol dari rakyat yang, dalam kelelahan hidup sehari-hari, menyerahkan nasibnya kepada mereka yang bersuara paling nyaring. Dalam kelelahan itu, kritik menjadi dosa, dan kesetiaan menjadi mata uang kekuasaan.

Tapi Orwell juga menyisipkan ironi yang lebih dalam: bahwa para binatang ini, yang awalnya memberontak terhadap manusia demi kebebasan, justru menciptakan manusia baru dari jenis mereka sendiri. Ketika pada akhir cerita para babi berdiri di meja makan dan mulai berjalan tegak seperti manusia, binatang-binatang lainnya tak bisa lagi membedakan mana manusia, mana babi.

Dan di situlah Animal Farm menjadi abadi. Ia bukan sekadar cerita tentang komunisme Soviet. Ia adalah kisah tentang bagaimana idealisme bisa dipelintir oleh ambisi. Tentang bagaimana revolusi bisa menjadi ladang baru bagi para penguasa, dan tentang bagaimana rakyat bisa lupa mengapa mereka dulu melawan.

Mungkin yang paling menyedihkan dari Animal Farm adalah kenyataan bahwa novel ini tetap relevan. Ia tidak menua. Ia seperti cermin kusam yang selalu bisa kita arahkan ke wajah siapa pun yang sedang berkuasa. Dan barangkali, juga ke wajah kita sendiri—yang terlalu mudah melupakan, terlalu cepat memaafkan, dan terlalu malas untuk bertanya.

Karena seperti kata Orwell, kebohongan politik hanya bisa tumbuh subur di tanah yang subur dengan pelupa.

Senin, 07 Juli 2025

Mengenangmu

Di sela duka yang tak selesai.

Kematian tak pernah benar-benar datang seperti pencuri. Ia lebih menyerupai tamu tua yang sabar menunggu, duduk diam di beranda, menunggu kita siap membuka pintu. Tapi apakah kita pernah siap? Aku tidak. Tidak saat melihatmu terbaring dalam diam, tidak saat tanganmu tak lagi menggenggam, dan tidak saat dunia terasa terlalu luas karena kehilanganmu di dalamnya.

Dan kini, setelah semuanya menjadi sunyi, aku mengingatmu—bukan sebagai sosok yang hilang, tapi sebagai kehadiran yang terlalu penuh untuk dilenyapkan waktu. Kau, bukan hanya kenangan. Kau adalah bagian dari bahasa yang kugunakan untuk mencintai dunia. Dan kini, saat kata-kata menjadi terlalu sempit untuk menampung perasaan, aku menulis ini, seperti orang yang menaburkan bunga ke laut: tak berharap kembali, hanya berharap diterima.

Orang berkata waktu menyembuhkan. Tapi mereka tidak tahu bahwa waktu justru memperdalam luka. Ia membuat ingatan menjadi tajam, seperti pisau yang perlahan mengiris. Hari-hari tanpamu bukanlah pemulihan, tapi pengulangan rasa kehilangan yang tak henti-henti. Dalam tidurku, kau hadir tanpa tubuh. Dalam bangunku, kau absen namun tak pernah pergi.

Ada kalanya aku merasa kau hanya sedang bepergian, seperti dulu saat kau pamit ke sekolah, atau saat kau pulang dari tempat ibadah. Tapi malam datang, dan tak ada pintu yang terbuka. Tidak ada langkah yang datang dari dapur. Hanya keheningan yang kian dalam, menelan detik-detik yang terlalu panjang.

Kita dulu percaya bahwa cinta adalah bentuk kecil dari kekekalan. Kita mengucapkannya di altar, dalam doa, dalam sisa-sisa kecupan pagi. Tapi kini aku mengerti, bahwa cinta justru adalah keberanian untuk tetap hidup dalam ketiadaan. Dan kau, lebih dulu mengajarkannya padaku: bagaimana mencintai tanpa harus memiliki, bagaimana pergi tanpa benar-benar meninggalkan.

Aku tahu, kau tidak hilang. Aku tahu, dalam semesta yang tak terukur ini, ada bagian dari dirimu yang tetap hidup. Di suara angin yang menyentuh jendela. Di cahaya pagi yang merembes ke kamar tidur kita. Di setiap upaya kecilku untuk tetap menjadi manusia, meski setengah jiwaku telah pergi bersamamu.

Keabadian bukanlah surga seperti yang dikhotbahkan banyak orang. Keabadian adalah saat seseorang tetap hidup dalam ingatan orang lain. Dan kau, telah menjadi bagian dari keabadianku. Aku membawamu ke mana pun aku melangkah—bukan sebagai beban, tapi sebagai cahaya yang tak pernah padam.

Seseorang pernah berkata bahwa cinta sejati adalah kesediaan untuk melihat yang kita cintai bersemayam dalam yang tak terlihat. Maka hari ini, aku menatap langit, dan percaya kau ada di sana—bukan sebagai bintang, bukan sebagai bayangan, tetapi sebagai doa yang telah menemukan jawabannya.

Dan aku, yang masih tertinggal di dunia ini, akan terus menulis namamu. Bukan di batu nisan, tapi di setiap laku, di setiap kasih yang kutebarkan kepada dunia, karena aku tahu, mengenangmu bukan tentang menolak kehilangan, melainkan tentang belajar hidup dengan setengah hati yang telah menetap di keabadian.

Minggu, 06 Juli 2025

Gereja

Gereja, seperti semua institusi yang menyebut nama Tuhan, selalu menyimpan paradoks. Ia dibangun atas nama kasih, tapi kadang memisahkan. Ia memanggil umat untuk bersatu, tapi kadang menyusun hierarki. Ia mengangkat salib sebagai lambang pengorbanan, tapi tak jarang memamerkan kuasa.

Kita mengenalnya sebagai rumah ibadah, tempat orang-orang berkumpul dalam kidung dan doa. Tapi juga tempat di mana suara-suara tertentu lebih didengar daripada yang lain. Gereja seharusnya menjadi ruang suci—sanctum—di mana manusia menanggalkan egonya. Tapi, sebagaimana semua ruang yang ditempati manusia, ia pun tak lepas dari sejarah yang berliku, bahkan luka.

Sejarah gereja adalah sejarah tubuh dan kuasa. Sejak Konstantinus mengangkat Kristen sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi, gereja berubah dari sekadar komunitas pengikut menjadi institusi politik. Ia memiliki tanah, tentara, dan kadang—ironisnya—senjata. Dari Konsili Nicea hingga pengadilan inkuisisi, dari reformasi Luther hingga Vatikan modern, gereja terus bergulat dengan satu pertanyaan yang tak kunjung selesai: bagaimana membicarakan Tuhan tanpa merampas manusia?

Dan mungkin itu yang menjadi persoalan mendasar: bahwa setiap kali kekudusan dilembagakan, ia cenderung beku. Kasih yang seharusnya bebas, dijadikan doktrin. Iman yang mestinya bergerak, dijadikan sistem. Maka Tuhan pun, yang dalam Injil datang sebagai bayi miskin dan mati sebagai penjahat, kini diperkenalkan lewat tata ibadah dan seragam liturgi. Ia menjadi formal, bahkan administratif.

Kita hidup di zaman ketika gereja-gereja menjelma gedung-gedung megah, lengkap dengan proyektor, musik elektronik, dan pengkhotbah yang tampil layaknya selebritas rohani. Tuhan, dalam banyak khotbah, terdengar seperti manajer sukses, dan jemaat seperti konsumen yang harus “diberkati”. Doa berubah menjadi permintaan. Ibadah menjadi hiburan. Dan iman, sayangnya, menjadi transaksi.

Kritik ini bukan untuk membubarkan gereja. Tapi justru untuk mengingatkan: bahwa gereja, pada hakikatnya, bukan bangunan, bukan sistem, bukan bahkan liturgi. Gereja adalah kumpulan manusia yang saling menanggung. Yang duduk bersama dalam perjamuan sederhana. Yang meratap bersama dalam kesunyian tanpa panggung. Yang menolak kekuasaan atas nama kasih, dan merayakan kasih yang tak butuh pengesahan.

Gereja yang sejati mungkin tak selalu ramai. Ia bisa hadir di kamar kecil seorang ibu yang berdoa dalam bisu. Ia bisa hidup di tenda pengungsian, di mana sekelompok orang menyanyikan mazmur tanpa alat musik. Ia bisa muncul dalam pelukan pada seorang anak yang kehilangan. Karena gereja, pada dasarnya, adalah tubuh yang saling menjaga luka satu sama lain.

Tentu, kita tak bisa melepaskan gereja dari waktu. Ia akan selalu berubah. Ia akan selalu terancam oleh kehendak mengatur lebih dari menyembah. Tapi justru di situlah iman diuji: bukan dalam kemenangan, tapi dalam pengakuan bahwa kita pun bisa keliru.

Dan bila gereja tak mampu mengakui itu—maka mungkin yang tinggal hanya bangunannya, bukan jiwanya.