George Orwell tidak menulis Animal Farm untuk menghibur. Ia menulisnya untuk memperingatkan. Dan karena itu, novel tipis ini bukan sekadar dongeng tentang binatang, tetapi alegori getir tentang bagaimana kekuasaan bekerja—dan lebih dari itu, bagaimana ia menggoda.
Orwell tahu, bahasa bisa menjadi senjata. Dalam Animal Farm, bahasa tidak hanya digunakan untuk menyampaikan ide, tapi untuk membengkokkannya. Ketika babi-babi penguasa mengubah slogan “Semua binatang adalah setara” menjadi “Semua binatang adalah setara, tetapi beberapa lebih setara daripada yang lain”, kita menyaksikan bagaimana absurditas dapat disulap menjadi doktrin. Dan barangkali, lebih dari itu, bagaimana manusia (atau dalam hal ini: binatang) dapat mempercayai absurditas itu ketika ia disampaikan cukup sering.
Kekuasaan dalam Animal Farm tidak datang dengan tanduk, tapi dengan retorika. Napoleon—si babi yang ambisius—tidak hanya merebut kursi, tapi juga narasi. Ia menghapus sejarah, mengarang kembali masa lalu, dan membungkam suara-suara yang tak sepakat. Ia adalah Stalin dalam bentuk binatang, tapi juga adalah cermin kecil dari banyak pemimpin di dunia nyata: yang datang membawa janji pembebasan, lalu menjelma menjadi tiran yang lebih halus, lebih sopan, dan lebih licik.
Binatang-binatang lain—kuda pekerja, domba yang terus mengembik slogan, ayam-ayam yang memberontak tapi gagal—adalah gambaran dari masyarakat yang terlalu letih untuk berpikir. Mereka adalah simbol dari rakyat yang, dalam kelelahan hidup sehari-hari, menyerahkan nasibnya kepada mereka yang bersuara paling nyaring. Dalam kelelahan itu, kritik menjadi dosa, dan kesetiaan menjadi mata uang kekuasaan.
Tapi Orwell juga menyisipkan ironi yang lebih dalam: bahwa para binatang ini, yang awalnya memberontak terhadap manusia demi kebebasan, justru menciptakan manusia baru dari jenis mereka sendiri. Ketika pada akhir cerita para babi berdiri di meja makan dan mulai berjalan tegak seperti manusia, binatang-binatang lainnya tak bisa lagi membedakan mana manusia, mana babi.
Dan di situlah Animal Farm menjadi abadi. Ia bukan sekadar cerita tentang komunisme Soviet. Ia adalah kisah tentang bagaimana idealisme bisa dipelintir oleh ambisi. Tentang bagaimana revolusi bisa menjadi ladang baru bagi para penguasa, dan tentang bagaimana rakyat bisa lupa mengapa mereka dulu melawan.
Mungkin yang paling menyedihkan dari Animal Farm adalah kenyataan bahwa novel ini tetap relevan. Ia tidak menua. Ia seperti cermin kusam yang selalu bisa kita arahkan ke wajah siapa pun yang sedang berkuasa. Dan barangkali, juga ke wajah kita sendiri—yang terlalu mudah melupakan, terlalu cepat memaafkan, dan terlalu malas untuk bertanya.
Karena seperti kata Orwell, kebohongan politik hanya bisa tumbuh subur di tanah yang subur dengan pelupa.


