Ibadah berlangsung seperti sebuah mekanisme. Tertib. Rapi. Teratur. Ada liturgi, ada jadwal, ada struktur suara. Tapi kita tahu: ketertiban tak selalu melahirkan kedalaman. Seperti konser tanpa gairah. Seperti pelukan tanpa detak.
Sebab ibadah yang terlalu dikejar dalam bentuk, sering menyisakan kekosongan dalam isi. Kita khusyuk dalam gerak, tapi tak tahu kepada siapa kita bicara. Kita hafal ayat, tapi tak lagi bergetar.
Ada masa ketika ibadah adalah perjumpaan yang menakutkan. Musa menanggalkan kasutnya. Yesaya gemetar di hadapan kekudusan. Para sufi menangis dalam sunyi. Tapi hari ini, kita hadir dalam ibadah seperti datang ke resepsi: berdiri, duduk, senyum, lalu pulang. Tuhan diperlakukan seperti pejabat yang harus dihormati, bukan kekasih yang dirindukan.
Ibadah menjadi upacara. Dan upacara, kadang hanya menjadi perpanjangan ego. Kita datang bukan untuk menyembah, tapi untuk dilihat sedang menyembah. Kita angkat tangan bukan karena iman, tapi karena tata panggung.
Yang lebih menyedihkan, ibadah kadang menjadi senjata. Ia digunakan untuk menilai. Untuk membeda-bedakan. Untuk menentukan siapa yang layak disebut suci. Padahal, bukankah ibadah seharusnya menghapus garis batas, bukan menggandakannya?
Ibadah, dalam bentuknya yang paling hakiki, mungkin adalah momen ketika manusia menyadari dirinya kecil—dan karena itu, terbuka. Terbuka pada pengampunan. Terbuka pada perubahan. Terbuka pada kemungkinan bahwa yang tak tampak bisa lebih nyata dari yang kasat mata.
Dan mungkin, itulah yang kini kita cari: ibadah yang tak hanya terdengar, tapi juga mengguncang. Yang tak hanya dijalankan, tapi juga dijalani. Yang tak hanya dideklarasikan, tapi diam-diam mengubah cara kita melihat orang lain—dan diri sendiri.
Sebab ibadah yang sejati, seperti puisi yang baik, bukan yang paling panjang, tapi yang paling jujur. Bukan yang lantang, tapi yang menyentuh. Bukan yang formal, tapi yang diam-diam membuat seseorang menangis tanpa tahu sebabnya.
Maka barangkali kita perlu berhenti sejenak di tengah liturgi, dan bertanya: apakah aku sedang berbicara, atau sekadar mengulang kata-kata? Apakah aku sedang hadir, atau hanya berada di dalam ruangan?
Sebab bisa jadi, ibadah sejati bukan saat tangan terangkat, melainkan saat hati tergeletak. Tak berdaya. Dan justru karena itu, siap disapa.


