Minggu, 27 Juli 2025

Ibadah

Ibadah. Kata yang begitu lama dipakai, begitu sering diucap, tapi semakin jarang membuat hati berguncang. Ia diulang, dilafalkan, dijadwalkan. Dijalankan dengan tertib. Diukur dengan durasi. Tapi mungkin justru karena itu, ia kehilangan guncangannya.

Ibadah berlangsung seperti sebuah mekanisme. Tertib. Rapi. Teratur. Ada liturgi, ada jadwal, ada struktur suara. Tapi kita tahu: ketertiban tak selalu melahirkan kedalaman. Seperti konser tanpa gairah. Seperti pelukan tanpa detak.

Sebab ibadah yang terlalu dikejar dalam bentuk, sering menyisakan kekosongan dalam isi. Kita khusyuk dalam gerak, tapi tak tahu kepada siapa kita bicara. Kita hafal ayat, tapi tak lagi bergetar.

Ada masa ketika ibadah adalah perjumpaan yang menakutkan. Musa menanggalkan kasutnya. Yesaya gemetar di hadapan kekudusan. Para sufi menangis dalam sunyi. Tapi hari ini, kita hadir dalam ibadah seperti datang ke resepsi: berdiri, duduk, senyum, lalu pulang. Tuhan diperlakukan seperti pejabat yang harus dihormati, bukan kekasih yang dirindukan.

Ibadah menjadi upacara. Dan upacara, kadang hanya menjadi perpanjangan ego. Kita datang bukan untuk menyembah, tapi untuk dilihat sedang menyembah. Kita angkat tangan bukan karena iman, tapi karena tata panggung.

Yang lebih menyedihkan, ibadah kadang menjadi senjata. Ia digunakan untuk menilai. Untuk membeda-bedakan. Untuk menentukan siapa yang layak disebut suci. Padahal, bukankah ibadah seharusnya menghapus garis batas, bukan menggandakannya?

Ibadah, dalam bentuknya yang paling hakiki, mungkin adalah momen ketika manusia menyadari dirinya kecil—dan karena itu, terbuka. Terbuka pada pengampunan. Terbuka pada perubahan. Terbuka pada kemungkinan bahwa yang tak tampak bisa lebih nyata dari yang kasat mata.

Dan mungkin, itulah yang kini kita cari: ibadah yang tak hanya terdengar, tapi juga mengguncang. Yang tak hanya dijalankan, tapi juga dijalani. Yang tak hanya dideklarasikan, tapi diam-diam mengubah cara kita melihat orang lain—dan diri sendiri.

Sebab ibadah yang sejati, seperti puisi yang baik, bukan yang paling panjang, tapi yang paling jujur. Bukan yang lantang, tapi yang menyentuh. Bukan yang formal, tapi yang diam-diam membuat seseorang menangis tanpa tahu sebabnya.

Maka barangkali kita perlu berhenti sejenak di tengah liturgi, dan bertanya: apakah aku sedang berbicara, atau sekadar mengulang kata-kata? Apakah aku sedang hadir, atau hanya berada di dalam ruangan?

Sebab bisa jadi, ibadah sejati bukan saat tangan terangkat, melainkan saat hati tergeletak. Tak berdaya. Dan justru karena itu, siap disapa.

Sabtu, 19 Juli 2025

Sepi

Sepi adalah kata yang tak pernah selesai didefinisikan. Ia hadir tanpa mengetuk, mengendap dalam ruang yang tadinya riuh. Ia bukan sekadar ketiadaan suara, tapi absennya gema dari dunia. Bahkan dalam keramaian, orang bisa merasa lebih sepi dari dinding-dinding kosong. Sepi, dalam bentuk yang paling telanjang, adalah ketika keberadaan kita tak menyentuh siapa-siapa.

Mungkin itu alasan mengapa kita menulis, berbicara, mem-posting status: bukan untuk didengar, tapi untuk merasa tidak sendiri.

Dalam Mazmur, Daud berseru: "Sampai kapan, Tuhan, Kau diam saja?"—seolah kesepian bukan cuma pengalaman eksistensial, tapi juga teologis. Sepi yang paling menusuk adalah ketika langit tak memberi tanda. Doa menguap begitu saja, dan iman menjadi seperti surat yang tak pernah dibalas.

Namun mungkin, justru dalam sepi, kita menemukan sesuatu yang tak bisa dicapai oleh bising: keheningan yang mengundang kedalaman. Seperti palung laut yang tenang karena tak tersentuh gelombang permukaan. Kita hanya menyadari kedalaman ketika suara dunia berhenti.

Sepi bukan hanya ruang antara dua kata, tetapi mungkin tempat satu-satunya di mana kita bisa mengenali makna itu sendiri.

Dalam sejarah, orang-orang bijak justru memeluk sepi. Socrates berjalan sendiri di medan pikirnya. Yesus berdoa dalam sunyi Taman Getsemani. Buddha duduk diam di bawah pohon. Tapi sepi mereka bukan sekadar kesendirian. Ia adalah keheningan yang disiapkan untuk mendengar sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam kata-kata.

Namun zaman ini memusuhi sepi. Kita hidup dalam dunia yang dipenuhi notifikasi, suara mesin, dan algoritma yang terus membisikkan “jangan diam.” Sepi dianggap kegagalan. Orang yang tak aktif di media sosial dianggap menghilang. Seseorang yang duduk sendirian di kafe dilihat seperti makhluk asing yang tersesat.

Padahal mungkin, di situlah justru kekuatan tersembunyi. Karena dalam sepi, manusia bisa melihat dirinya—tanpa sorot mata orang lain. Bisa menangis, bisa mengutuk, bisa mengaku kalah... dan tak seorang pun akan menertawakan.

Barangkali, sepi adalah kondisi paling jujur yang bisa dialami manusia. Sebab di sanalah, tak ada ruang untuk berpura-pura. Kita hanya bertemu dengan diri kita sendiri. Dan itu menakutkan. Karena siapa, di antara kita, yang benar-benar mengenal siapa dirinya?

Tapi mungkin juga, hanya dari sepi kita bisa mulai mengenal. Dari kekosongan itulah suara hati muncul. Bukan teriakan, tapi bisikan pelan—yang selama ini tertutup oleh bising dunia.

Mungkin sepi adalah bahasa spiritual yang paling purba. Sebab Tuhan, kata orang, tidak selalu datang dalam petir. Ia datang dalam suara yang lirih. Dan hanya mereka yang tenang dalam sepi yang bisa mendengarnya.

Jumat, 18 Juli 2025

Zarathustra

Zarathustra bukan nabi biasa. Ia bukan pembawa wahyu, melainkan pembakar kitab. Ia turun dari gunung bukan untuk membawa hukum Tuhan, tapi untuk mengumumkan kematian-Nya. Di tangan Friedrich Nietzsche, tokoh fiktif ini menjadi suara paling nyaring dari zaman yang mulai kehilangan pegangan—pada iman, pada moral, bahkan pada makna itu sendiri. Also sprach Zarathustra adalah buku yang tak bisa dibaca seperti ceramah, melainkan harus dirasakan seperti mimpi buruk yang justru membangunkan kita.

Zarathustra bukan penjelas, ia pengacau. Ia tidak menawarkan ketenangan, melainkan kegelisahan yang jujur. Ketika ia berkata bahwa “Tuhan telah mati”, itu bukan selebrasi ateisme, tapi duka atas dunia yang kehilangan pusat. Dunia modern, kata Nietzsche melalui mulut sang nabi, telah membunuh Tuhannya sendiri dengan pisau ilmu pengetahuan, konsumerisme, dan nihilisme. Dan yang paling tragis: kita bahkan tak sadar bahwa kita sedang berkabung.

Dalam kekosongan itu, Zarathustra tidak meminta kita bersujud pada kebenaran baru. Ia justru mendorong kita menciptakannya sendiri. Di sinilah muncul konsep Übermensch—manusia unggul. Tapi jangan salah, ini bukan manusia super dalam bayangan komik, bukan pahlawan atau tiran. Übermensch adalah manusia yang berani hidup tanpa ilusi. Ia menciptakan nilai-nilainya sendiri, tanpa menggantungkan makna pada surga, negara, atau norma yang diwariskan begitu saja. Ia adalah makhluk yang tahu bahwa hidup ini absurd, namun tetap memilih untuk menari di tengah absurditas itu.

Namun Zarathustra tidak sedang berkhotbah pada umat yang bersedia mendengar. Ia lebih sering diabaikan, ditertawakan, atau disalahpahami. Ini barangkali alegori paling jujur dari zaman kita sendiri: kebenaran yang tidak populer akan selalu dikalahkan oleh kenyamanan yang palsu. Masyarakat tidak suka diganggu oleh pertanyaan besar; kita lebih senang larut dalam rutinitas, konsumsi, dan hiburan. Zarathustra menjadi simbol bagi siapa saja yang mencoba hidup dengan cara yang berbeda, dan harus menanggung kesepiannya sendiri.

Secara filosofis, Zarathustra adalah perwujudan perlawanan terhadap kepasrahan. Ia menolak hidup yang dijalani karena “memang begitu”. Ia menantang kita untuk menanyakan ulang segalanya: dari keyakinan religius hingga etika sosial. Bahkan waktu pun tak luput: konsep eternal recurrence—gagasan bahwa kita harus menjalani hidup seolah akan mengulangnya selamanya—adalah ujian paling radikal bagi keotentikan hidup kita.

Di tengah dunia hari ini—yang terus menyembah tren, algoritma, dan popularitas—Zarathustra datang seperti suara asing yang mengajak kita berhenti, diam, lalu bertanya: apakah hidup yang kau jalani ini milikmu sendiri? Atau kau hanya sedang menjalani hidup orang lain yang kau warisi tanpa sadar?

Zarathustra tak meminta kita menjadi pengikut. Ia tak butuh disembah. Ia hanya ingin kita bangun—dan hidup dengan kesadaran yang utuh, meski itu berarti berjalan sendirian dalam badai. Sebab, barangkali, itulah satu-satunya cara menjadi manusia yang sungguh bebas.