Senin, 30 Juni 2025

ORMAS

Kata “ormas” terdengar seperti singkatan yang biasa—Organisasi Kemasyarakatan. Netral, administratif, bahkan seakan steril dari emosi. Tapi dalam kenyataannya, “ormas” tak jarang membuat jantung sedikit berdebar. Bukan karena semangat sosialnya, tapi karena kadang ia datang bersama intimidasi.

Ormas adalah makhluk yang tumbuh dari semangat kolektivitas. Ia lahir dari hak dasar manusia untuk berkumpul dan berserikat. Ia bisa berbentuk kelompok tani di lereng gunung, komunitas keagamaan di lorong kota, atau sanggar seni di sudut kampung. Tapi seperti banyak hal di negeri ini, yang ideal kerap tergerus oleh yang bising.

Kini, sebagian ormas tak lagi bicara tentang masyarakat, tapi tentang massa. Dan massa, bila tak punya arah, bisa menjelma gerombolan. Maka ormas yang mestinya menjadi perpanjangan suara warga, perlahan-lahan berubah menjadi alat penekan. Mereka datang ke kantor pemerintah, membawa spanduk dan ancaman. Mereka mendatangi pertunjukan, memaksa seniman membungkam. Mereka merasa punya mandat, padahal tak dipilih siapa-siapa.

Apa yang membuat sebagian ormas merasa punya hak untuk mengatur hidup orang lain? Mungkin karena kita terlalu lama membiarkan kekuasaan informal hidup tanpa koreksi. Kita mengira “masyarakat sipil” itu otomatis baik, padahal sipil pun bisa menindas. Apalagi jika dibungkus dalih agama, adat, atau “nilai-nilai luhur bangsa”.

Dalam sejarah kita, ormas pernah punya peran mulia. Mereka mendirikan sekolah saat negara belum hadir. Mereka membela rakyat kecil saat hukum terlalu lambat. Tapi kini, terlalu banyak yang menggunakan nama ormas untuk menagih proyek, mengklaim moral, bahkan menguasai wilayah. Negara pun kerap ambigu: menindak satu, membiarkan yang lain.

Ada ormas yang menyerukan jihad, tapi tak pernah terlihat di daerah bencana. Ada ormas yang bicara tentang kebudayaan, tapi anti-pada seni yang tak mereka pahami. Dan ada pula ormas yang hidup dari kucuran anggaran, namun tak pernah benar-benar transparan kepada publik.

Apakah semua ormas harus dicurigai? Tentu tidak. Tapi semua ormas harus diawasi. Sebab kekuatan sosial tanpa akuntabilitas bisa sama berbahayanya dengan kekuasaan negara yang sewenang-wenang. Dan ketika negara mulai merasa perlu berkompromi dengan tekanan ormas, demokrasi mulai goyah bukan dari atas, tapi dari pinggir-pinggir jalan.

Rabu, 25 Juni 2025

Nikah

Kesetiaan lebih sulit daripada cinta.

Nikah. Kata yang pendek, tapi menyimpan muatan sejarah, sosial, teologis, dan tentu saja—emosi yang tak selalu bisa ditebak. Diucapkan dalam satu tarikan napas, tapi dijalani dalam puluhan tahun yang panjang. Ia bukan sekadar perayaan; ia adalah keberanian. Tapi keberanian untuk apa?

Kita hidup di zaman ketika segala sesuatu dirayakan, termasuk pernikahan. Akun Instagram penuh foto pre-wedding. Gaun putih, taman bunga, lilin-lilin romantis. Tapi pernikahan sering kali berhenti pada estetika. Kita menyentuh kulitnya, tapi lupa dagingnya. Kita mempersiapkan pesta, tapi bukan percakapan. Kita menata dekorasi, tapi bukan pengampunan.

Padahal nikah bukan puisi. Ia bukan hanya janji indah di altar, tapi keputusan yang diulang setiap hari—bahkan ketika cinta sedang tidak terasa. Bahkan ketika yang tersisa hanya pertengkaran tentang cucian piring atau saldo rekening yang kosong.

Nikah, di dalam banyak budaya, dikemas sebagai “penyatuan.” Tapi siapa yang benar-benar bersatu? Dua individu dengan latar berbeda, luka berbeda, mimpi berbeda—diharapkan hidup satu atap, satu dapur, satu kasur, dan satu visi. Itu bukan hal kecil. Itu nyaris mustahil. Tapi justru di sanalah letak keajaibannya: bukan pada kesamaan, tapi pada kesanggupan bertahan dalam perbedaan.

Dalam banyak agama, pernikahan disebut “kudus.” Tapi kekudusan bukan berarti steril dari konflik. Kudus bukan berarti tanpa cacat. Kudus, mungkin, justru berarti: kita tetap memilih tinggal, ketika pergi tampak lebih mudah.

Dan di balik semua itu, ada pertanyaan sosial yang lebih luas: siapa yang diuntungkan oleh pernikahan? Dalam banyak sistem patriarki, pernikahan justru menjadi alat untuk menundukkan perempuan. Seolah cinta adalah kontrak tak tertulis bahwa istri harus “melayani,” dan suami punya kuasa. Maka kata “istri yang baik” sering kali lebih berarti “yang patuh,” bukan “yang jujur.” Maka pertanyaannya bukan: apakah kamu menikah? Tapi: bagaimana kamu menikah?

Institusi manusia selalu menyimpan paradoks. Kita mencintai gagasannya, tapi tak siap menanggung realitasnya. Pernikahan, jika hanya dibayangkan sebagai kebahagiaan, akan mengecewakan. Tapi jika dilihat sebagai latihan kesetiaan—ia menjadi ruang spiritual.

Mungkin kita tak pernah benar-benar siap menikah. Tapi cinta bukan soal kesiapan. Ia soal keberanian. Dan keberanian yang sejati tidak bersuara keras. Ia hanya tinggal, di dapur, di ranjang, di ruang tamu yang sepi, dan berkata dalam hati: “Aku tetap di sini.”

Nikah bukan tempat untuk menjadi sempurna. Ia tempat untuk belajar mencintai yang tidak sempurna. Termasuk diri sendiri.

Sabtu, 21 Juni 2025

The God Delusion

Iman bukan monopoli mereka yang tidak bertanya.

Richard Dawkins, biolog evolusioner asal Inggris, menulis sebuah buku yang seperti granat dilemparkan ke altar: The God Delusion. Judulnya sendiri telah bicara—bahwa Tuhan, bagi Dawkins, tak lebih dari ilusi. Sebuah konstruksi psikologis yang diwariskan oleh budaya, dan dipertahankan oleh ketakutan. Sebuah virus ide, katanya, yang menyebar dari generasi ke generasi tanpa pembuktian, hanya karena diwariskan.

Ia menyerang dengan argumen ilmiah, tajam, dan kadang sinis. Ia menyebut agama sebagai “kejahatan besar,” menyandingkannya dengan perang, diskriminasi, dan fanatisme. Baginya, kepercayaan kepada Tuhan bukan hanya salah, tapi berbahaya. Dan para pembela iman, dalam narasi Dawkins, adalah mereka yang menolak berpikir secara rasional.

Tentu, buku ini mengundang reaksi. Para teolog mengangkat pena, filsuf menyusun sanggahan. Tapi yang menarik, bukan pada siapa yang benar—melainkan pada bagaimana kita memahami benturan ini. Karena di tengah argumen yang berlapis dan debat yang panjang, ada satu hal yang sering luput: bahwa pertanyaan tentang Tuhan, pada dasarnya, bukan hanya soal logika, tapi soal luka.

Dawkins menyodorkan dunia yang tertata dalam hukum alam, tanpa intervensi adikodrati. Sebuah dunia yang tidak memerlukan Tuhan untuk berjalan. Tapi bagaimana dengan mereka yang hidup dalam kehilangan? Dalam kesakitan? Dalam ketidakadilan yang tak bisa dijelaskan oleh statistik?

Iman, bagi sebagian orang, bukan soal pembuktian. Ia adalah cara bertahan. Cara menjelaskan yang tak terjelaskan. Dawkins menolak hal ini sebagai “god of the gaps”—Tuhan yang hanya hadir di celah ketidaktahuan manusia. Tapi barangkali, celah itulah tempat paling sunyi dan paling jujur untuk menyebut nama-Nya.

Tentu, Dawkins bukan tanpa alasan. Sejarah agama memang menyimpan ironi. Perang Salib, inkuisisi, bom atas nama Tuhan—semuanya menodai makna iman. Tapi menyimpulkan bahwa semua agama adalah penyakit dari fakta-fakta itu, sama seperti menyimpulkan bahwa semua cinta adalah kekerasan dari satu kisah patah hati.

Dawkins ingin menggantikan iman dengan sains, doa dengan penalaran, dan Tuhan dengan keajaiban alam semesta. Tapi sains—meski agung—tak selalu menjawab pertanyaan terdalam manusia: mengapa kita rindu? mengapa kita takut mati? mengapa kita mengampuni?

Mungkin The God Delusion bukan buku yang harus ditolak, tapi juga bukan yang harus disembah. Ia bukan kitab suci ateisme, tapi cermin yang membuat iman bertanya: apakah aku percaya karena aku tahu, atau karena aku takut tidak tahu? Di situlah kritik menjadi berguna—bukan untuk meruntuhkan, tapi untuk memperdalam.

Sebab iman yang tidak pernah terguncang, adalah iman yang belum pernah berpikir.