Sabtu, 21 Juni 2025

The God Delusion

Iman bukan monopoli mereka yang tidak bertanya.

Richard Dawkins, biolog evolusioner asal Inggris, menulis sebuah buku yang seperti granat dilemparkan ke altar: The God Delusion. Judulnya sendiri telah bicara—bahwa Tuhan, bagi Dawkins, tak lebih dari ilusi. Sebuah konstruksi psikologis yang diwariskan oleh budaya, dan dipertahankan oleh ketakutan. Sebuah virus ide, katanya, yang menyebar dari generasi ke generasi tanpa pembuktian, hanya karena diwariskan.

Ia menyerang dengan argumen ilmiah, tajam, dan kadang sinis. Ia menyebut agama sebagai “kejahatan besar,” menyandingkannya dengan perang, diskriminasi, dan fanatisme. Baginya, kepercayaan kepada Tuhan bukan hanya salah, tapi berbahaya. Dan para pembela iman, dalam narasi Dawkins, adalah mereka yang menolak berpikir secara rasional.

Tentu, buku ini mengundang reaksi. Para teolog mengangkat pena, filsuf menyusun sanggahan. Tapi yang menarik, bukan pada siapa yang benar—melainkan pada bagaimana kita memahami benturan ini. Karena di tengah argumen yang berlapis dan debat yang panjang, ada satu hal yang sering luput: bahwa pertanyaan tentang Tuhan, pada dasarnya, bukan hanya soal logika, tapi soal luka.

Dawkins menyodorkan dunia yang tertata dalam hukum alam, tanpa intervensi adikodrati. Sebuah dunia yang tidak memerlukan Tuhan untuk berjalan. Tapi bagaimana dengan mereka yang hidup dalam kehilangan? Dalam kesakitan? Dalam ketidakadilan yang tak bisa dijelaskan oleh statistik?

Iman, bagi sebagian orang, bukan soal pembuktian. Ia adalah cara bertahan. Cara menjelaskan yang tak terjelaskan. Dawkins menolak hal ini sebagai “god of the gaps”—Tuhan yang hanya hadir di celah ketidaktahuan manusia. Tapi barangkali, celah itulah tempat paling sunyi dan paling jujur untuk menyebut nama-Nya.

Tentu, Dawkins bukan tanpa alasan. Sejarah agama memang menyimpan ironi. Perang Salib, inkuisisi, bom atas nama Tuhan—semuanya menodai makna iman. Tapi menyimpulkan bahwa semua agama adalah penyakit dari fakta-fakta itu, sama seperti menyimpulkan bahwa semua cinta adalah kekerasan dari satu kisah patah hati.

Dawkins ingin menggantikan iman dengan sains, doa dengan penalaran, dan Tuhan dengan keajaiban alam semesta. Tapi sains—meski agung—tak selalu menjawab pertanyaan terdalam manusia: mengapa kita rindu? mengapa kita takut mati? mengapa kita mengampuni?

Mungkin The God Delusion bukan buku yang harus ditolak, tapi juga bukan yang harus disembah. Ia bukan kitab suci ateisme, tapi cermin yang membuat iman bertanya: apakah aku percaya karena aku tahu, atau karena aku takut tidak tahu? Di situlah kritik menjadi berguna—bukan untuk meruntuhkan, tapi untuk memperdalam.

Sebab iman yang tidak pernah terguncang, adalah iman yang belum pernah berpikir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar