Rabu, 30 September 2026

92 Tahun GMIM Bersinode

Di Indonesia, kita mengenal berbagai jenis mukjizat. Tetapi bagi warga Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), mukjizat terbesar yang berulang tiap beberapa tahun sekali bukanlah air menjadi anggur, melainkan fakta bahwa 92 tahun setelah menyatakan diri "Bersinode", ribuan pendeta dan pelsus masih bisa duduk bersama dalam satu aula tanpa perlu memanggil pasukan anti-huru-hara.

Sejak tahun 1934, GMIM memutuskan bahwa mengurus rumah tangga gereja secara mandiri adalah ide yang luar biasa. Konsepnya sungguh indah: persatuan, persekutuan, dan kepemimpinan bersama. Namun, siapa pun yang pernah menghadiri sidang sinode tahu betul bahwa kata "musyawarah" dalam konteks gerejani sering kali berarti: “Mari kita berdoa bersama agar Anda semua menyetujui pendapat saya.”

Memasuki usia ke-92, perayaan "Bersinode" ini menjadi momentum yang sangat terhormat. Semua orang mengenakan pakaian terbaik, tersenyum lebar, dan mengucapkan selamat satu sama lain. Namun di balik kehangatan itu, ada tradisi luhur yang tidak tercantum dalam tata gereja: seni berdebat soal tata tertib selama tiga jam penuh, sebelum akhirnya menyadari bahwa mikrofon ruang sidang ternyata belum dinyalakan.

Ada keindahan tersendiri dalam birokrasi suci ini. Di satu sisi, kita merayakan kemandirian teologis dan struktur gereja yang telah bertahan menembus melintasi zaman, rezim politik, hingga era serba-digital. Di sisi lain, kita kadang lupa bahwa menjadi "Satu dalam Sinode" tidak harus berarti menjadi "Satu dalam Pendapat Soal Rencana dan Anggaran".

Sering kali, ujian terberat dari semangat bersinode bukanlah menghadapi tantangan zaman atau sekularisme global, melainkan bagaimana tetap tersenyum ramah pada syamas atau penatua dari kolom sebelah yang baru saja menolak usulan program kerja Anda dengan alasan "belum ada petunjuk teknis dari wilayah".

Namun bagaimanapun rumitnya pasal-pasal, intrik komisi, dan panjangnya sambutan pejabat, 92 tahun adalah bukti ketangguhan yang tak terbantahkan. Jika GMIM mampu bertahan melewati hampir satu abad persidangan, rapat evaluasi, dan dinamika pemilihan pengurus tanpa kehilangan rasa kebersamaan—serta tanpa kehabisan konsumsi—maka gereja ini sungguh-sungguh dibangun di atas batu karang yang sangat kokoh.

Selamat Hari Ulang Tahun ke-92 GMIM Bersinode. Semoga roh persekutuan tetap lebih nyaring daripada ketukan palu sidang, dan semoga perdebatan di ruang sidang selalu berakhir manis di meja makan.

Semoga gereja tidak hanya semakin kuat dalam struktur, tetapi juga semakin rendah hati dalam pelayanan. Semoga kita tidak hanya memiliki cerita panjang tentang sejarah organisasi, tetapi juga jutaan cerita tentang manusia yang pernah merasakan kasih Tuhan melalui kehadiran gereja.

Miskin di Lumbung

Bagaimana kalau seseorang mengambil semua uang di dompet Anda, lalu menyuruh Anda belajar hidup mandiri? Selamat datang di ekonomi desentralisasi versi kita.

Katanya daerah harus mandiri. Jangan terlalu bergantung kepada pemerintah pusat. Daerah harus kreatif mencari pendapatan sendiri, meningkatkan pelayanan publik, membangun infrastruktur, dan mengurus rakyatnya dengan anggaran yang sehat.

Masalahnya sederhana: kalau sumber uangnya dibawa pergi, mandirinya pakai apa?

Tambang ada di daerah, tetapi pengelolaannya bisa ditentukan dari jauh. Gas keluar dari perut bumi daerah, tetapi sebagian besar keputusan dan manfaat ekonominya berputar di tingkat nasional. Lautnya luas, ikannya banyak, mineralnya melimpah, tetapi ketika pemerintah daerah mulai menghitung potensi pendapatannya, tiba-tiba muncul kalimat sakti: efisiensi.

Efisiensi memang kata yang indah. Dengan kata “efisiensi”, anggaran bisa dipotong. Dengan “efisiensi”, kewenangan bisa dirapikan. Dengan “efisiensi”, kantor-kantor bisa diminta berhemat. Bahkan mungkin suatu hari rakyat diminta efisien dalam mengeluh: cukup mengeluh satu kali setahun agar tidak boros energi. Tetapi ada pertanyaan yang agak mengganggu: efisiensi untuk siapa?

Kita sering memperlakukan negara seperti keluarga besar. Kalau satu rumah tangga punya lima anak dan satu anak memegang semua uang, kemudian empat anak lainnya disuruh mandiri, itu bukan pendidikan kemandirian. Itu namanya distribusi uang saku yang sangat kreatif.

Daerah akhirnya berada dalam posisi yang aneh. Mereka diminta membangun jalan, menyediakan pelayanan kesehatan, memperbaiki sekolah, mengurus sampah, mengembangkan ekonomi lokal, dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Tetapi ketika berbicara tentang sumber daya ekonomi terbesar, daerah sering hanya kebagian peran sebagai lokasi geografis.

Tanahnya di daerah. Tambangnya di daerah. Pelabuhannya di daerah. Lautnya di daerah. Tetapi uangnya bisa berjalan jauh sekali.

Ironisnya, ketika daerah kekurangan anggaran, mereka kembali diminta kreatif. Seolah-olah kreativitas adalah mesin ATM yang belum ditemukan pemerintah daerah.

Ini adalah eksperimen sosial yang luar biasa. Pusat bertindak seperti magnet raksasa yang menyedot segala hal bernilai ekonomis, lalu melemparkan buku panduan Cara Menjadi Wirausaha Sukses Tanpa Modal ke muka pemerintah daerah. "Ayo, bikin inovasi! Naikkan PAD! Jangan cuma bergantung pada APBN!" seru para pejabat pusat dari balik meja jati mereka yang berkilau.

Tentu pemerintah pusat memiliki alasan: pemerataan nasional, stabilitas fiskal, efisiensi birokrasi, kepentingan strategis, dan sebagainya. Semua itu masuk akal. Negara memang membutuhkan kebijakan nasional. Tetapi sentralisasi tidak otomatis menjadi efisiensi, sebagaimana desentralisasi tidak otomatis menjadi pemborosan.

Yang perlu dipertanyakan bukan sekadar siapa yang memegang uang, melainkan siapa yang menanggung akibat ketika uang itu pergi.

Sebab ketika sebuah tambang dibuka, daerah menerima bukan hanya royalti dan angka statistik. Daerah juga menghadapi jalan rusak, perubahan lingkungan, tekanan sosial, urbanisasi, kebutuhan layanan publik, dan berbagai konsekuensi ekonomi lainnya.

Kalau keuntungan menjadi urusan nasional sementara bebannya menjadi urusan lokal, kita sedang membangun sebuah sistem yang sangat efisien—efisien dalam memindahkan keuntungan ke atas dan tanggung jawab ke bawah.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti mengatakan kepada daerah, “Jadilah mandiri.” Pertanyaan yang lebih jujur adalah: “Apakah kita sudah memberikan daerah cukup alasan, kewenangan, dan sumber daya untuk benar-benar mandiri?”

Sebab menyuruh orang mandiri setelah mengambil sumber penghidupannya bukanlah filosofi pembangunan. Itu hanya cara yang sopan untuk mengatakan: “Uangnya kami bawa. Kamu urus sendiri sisanya.”

Jika pola ini terus berlanjut, jangan kaget kalau suatu hari nanti daerah-daerah akan belajar cara paling efisien untuk membalasnya. Lagipula, bukankah pusat juga harus belajar mandiri?

Selasa, 29 September 2026

Kita Akan Pergi

Bayangkan suatu pagi kita bangun, membuka jendela, melihat matahari, mendengar burung, mencium aroma kopi—lalu tiba-tiba sadar: suatu hari nanti semua ini akan menjadi tontonan tanpa kita. Agak menyebalkan, bukan?

Kita sudah susah payah membeli rumah, mencicil mobil, mengejar jabatan, mengumpulkan uang, memperdebatkan politik di Facebook, bahkan marah karena tetangga parkir sembarangan. Tetapi pada akhirnya, kita akan meninggalkan semuanya.

Rumah tetap berdiri. Mobil akan berpindah tangan. Rekening bank akan diwariskan. Jabatan akan segera dilupakan. Bahkan foto kita di media sosial mungkin suatu hari hanya menjadi benda yang membuat algoritma bertanya: “Apakah Anda ingin mengenang postingan ini?” Terima kasih, Facebook. Bahkan setelah mati pun kita masih bisa dijadikan konten.

Yang paling aneh adalah kita sering hidup seolah-olah dunia ini adalah kontrak seumur hidup. Kita berkata, “Nanti saja.” Nanti kalau sudah kaya, saya akan menikmati hidup. Nanti kalau sudah pensiun, saya akan bepergian. Nanti kalau sudah punya banyak uang, saya akan lebih sering bersama keluarga. Nanti kalau pekerjaan sudah selesai, saya akan menikmati matahari terbenam. Masalahnya, pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada email baru, tagihan baru, rapat baru, cicilan baru, dan seseorang yang mengirim pesan, “Bisa bicara sebentar?”—yang biasanya berarti tiga jam.

Kita begitu sibuk mempersiapkan masa depan sampai lupa bahwa masa depan itu tidak pernah dijamin datang dalam keadaan kita masih menjadi pemeran utamanya.

Art Buchwald, yang terkenal karena menjadikan absurditas kehidupan sebagai bahan humor, juga pernah menghadapi kematian dengan cara yang tidak biasa: ia bahkan menjadikan proses menjelang kematiannya sebagai bahan tulisan dan lelucon. Mungkin di situlah letak kebijaksanaan yang sering kita lewatkan.

Kematian tidak selalu harus membuat kita takut. Kadang-kadang ia justru harus membuat kita lebih sadar untuk hidup.

Sebab suatu hari nanti kita tidak akan lagi melihat hujan turun di halaman rumah. Tidak akan lagi merasakan angin sore. Tidak akan lagi mencium aroma masakan dari dapur. Tidak akan lagi mendengar suara orang yang kita cintai memanggil nama kita.

Tidak akan lagi melihat laut, gunung, bunga, langit merah menjelang malam, atau secangkir kopi yang terlalu pahit tetapi tetap kita habiskan. Semua keindahan itu akan terus berlangsung. Hanya kita yang tidak. Dan mungkin justru karena itulah kehidupan menjadi indah.

Kalau semuanya abadi, tidak ada yang mendesak. Kalau matahari terbit setiap hari untuk selamanya, kita mungkin tidak akan pernah berhenti untuk melihatnya. Tetapi karena waktu terbatas, sebuah pagi biasa sebenarnya adalah kemewahan.

Lalu apa yang harus kita lakukan hari ini? Mungkin tidak perlu sesuatu yang heroik. Teleponlah orang yang kita cintai. Minta maaf kepada seseorang. Peluk anak kita. Duduk bersama pasangan tanpa memegang telepon. Minumlah kopi perlahan. Pergilah melihat laut. Tertawalah lebih banyak.

Berhentilah bertengkar hanya karena perbedaan pendapat politik dengan orang yang lima tahun lagi mungkin bahkan tidak kita ingat mengapa kita marahi.

Dan sesekali, berhentilah mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak akan kita bawa ke mana-mana. Karena pada akhirnya kita semua akan meninggalkan panggung.

Pertanyaannya bukan berapa lama kita berada di atas panggung. Pertanyaannya: Ketika tirai akhirnya turun, apakah kita benar-benar sempat menikmati pertunjukannya?

Jadi hari ini, jangan hanya bertanya: “Apa yang harus saya capai?” Cobalah bertanya: “Apa yang masih bisa saya nikmati sebelum semuanya menjadi kenangan?”

Karena hidup mungkin bukan tentang memiliki waktu sebanyak-banyaknya. Hidup adalah tentang menyadari bahwa waktu yang sedang kita miliki sekarang adalah satu-satunya waktu yang benar-benar kita punya.