Kita sudah susah payah membeli rumah, mencicil mobil, mengejar jabatan, mengumpulkan uang, memperdebatkan politik di Facebook, bahkan marah karena tetangga parkir sembarangan. Tetapi pada akhirnya, kita akan meninggalkan semuanya.
Rumah tetap berdiri. Mobil akan berpindah tangan. Rekening bank akan diwariskan. Jabatan akan segera dilupakan. Bahkan foto kita di media sosial mungkin suatu hari hanya menjadi benda yang membuat algoritma bertanya: “Apakah Anda ingin mengenang postingan ini?” Terima kasih, Facebook. Bahkan setelah mati pun kita masih bisa dijadikan konten.
Yang paling aneh adalah kita sering hidup seolah-olah dunia ini adalah kontrak seumur hidup. Kita berkata, “Nanti saja.” Nanti kalau sudah kaya, saya akan menikmati hidup. Nanti kalau sudah pensiun, saya akan bepergian. Nanti kalau sudah punya banyak uang, saya akan lebih sering bersama keluarga. Nanti kalau pekerjaan sudah selesai, saya akan menikmati matahari terbenam. Masalahnya, pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai. Selalu ada email baru, tagihan baru, rapat baru, cicilan baru, dan seseorang yang mengirim pesan, “Bisa bicara sebentar?”—yang biasanya berarti tiga jam.
Kita begitu sibuk mempersiapkan masa depan sampai lupa bahwa masa depan itu tidak pernah dijamin datang dalam keadaan kita masih menjadi pemeran utamanya.
Art Buchwald, yang terkenal karena menjadikan absurditas kehidupan sebagai bahan humor, juga pernah menghadapi kematian dengan cara yang tidak biasa: ia bahkan menjadikan proses menjelang kematiannya sebagai bahan tulisan dan lelucon. Mungkin di situlah letak kebijaksanaan yang sering kita lewatkan.
Kematian tidak selalu harus membuat kita takut. Kadang-kadang ia justru harus membuat kita lebih sadar untuk hidup.
Sebab suatu hari nanti kita tidak akan lagi melihat hujan turun di halaman rumah. Tidak akan lagi merasakan angin sore. Tidak akan lagi mencium aroma masakan dari dapur. Tidak akan lagi mendengar suara orang yang kita cintai memanggil nama kita.
Tidak akan lagi melihat laut, gunung, bunga, langit merah menjelang malam, atau secangkir kopi yang terlalu pahit tetapi tetap kita habiskan. Semua keindahan itu akan terus berlangsung. Hanya kita yang tidak. Dan mungkin justru karena itulah kehidupan menjadi indah.
Kalau semuanya abadi, tidak ada yang mendesak. Kalau matahari terbit setiap hari untuk selamanya, kita mungkin tidak akan pernah berhenti untuk melihatnya. Tetapi karena waktu terbatas, sebuah pagi biasa sebenarnya adalah kemewahan.
Lalu apa yang harus kita lakukan hari ini? Mungkin tidak perlu sesuatu yang heroik. Teleponlah orang yang kita cintai. Minta maaf kepada seseorang. Peluk anak kita. Duduk bersama pasangan tanpa memegang telepon. Minumlah kopi perlahan. Pergilah melihat laut. Tertawalah lebih banyak.
Berhentilah bertengkar hanya karena perbedaan pendapat politik dengan orang yang lima tahun lagi mungkin bahkan tidak kita ingat mengapa kita marahi.
Dan sesekali, berhentilah mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak akan kita bawa ke mana-mana. Karena pada akhirnya kita semua akan meninggalkan panggung.
Pertanyaannya bukan berapa lama kita berada di atas panggung. Pertanyaannya: Ketika tirai akhirnya turun, apakah kita benar-benar sempat menikmati pertunjukannya?
Jadi hari ini, jangan hanya bertanya: “Apa yang harus saya capai?” Cobalah bertanya: “Apa yang masih bisa saya nikmati sebelum semuanya menjadi kenangan?”
Karena hidup mungkin bukan tentang memiliki waktu sebanyak-banyaknya. Hidup adalah tentang menyadari bahwa waktu yang sedang kita miliki sekarang adalah satu-satunya waktu yang benar-benar kita punya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar