Sejak tahun 1934, GMIM memutuskan bahwa mengurus rumah tangga gereja secara mandiri adalah ide yang luar biasa. Konsepnya sungguh indah: persatuan, persekutuan, dan kepemimpinan bersama. Namun, siapa pun yang pernah menghadiri sidang sinode tahu betul bahwa kata "musyawarah" dalam konteks gerejani sering kali berarti: “Mari kita berdoa bersama agar Anda semua menyetujui pendapat saya.”
Memasuki usia ke-92, perayaan "Bersinode" ini menjadi momentum yang sangat terhormat. Semua orang mengenakan pakaian terbaik, tersenyum lebar, dan mengucapkan selamat satu sama lain. Namun di balik kehangatan itu, ada tradisi luhur yang tidak tercantum dalam tata gereja: seni berdebat soal tata tertib selama tiga jam penuh, sebelum akhirnya menyadari bahwa mikrofon ruang sidang ternyata belum dinyalakan.
Ada keindahan tersendiri dalam birokrasi suci ini. Di satu sisi, kita merayakan kemandirian teologis dan struktur gereja yang telah bertahan menembus melintasi zaman, rezim politik, hingga era serba-digital. Di sisi lain, kita kadang lupa bahwa menjadi "Satu dalam Sinode" tidak harus berarti menjadi "Satu dalam Pendapat Soal Rencana dan Anggaran".
Sering kali, ujian terberat dari semangat bersinode bukanlah menghadapi tantangan zaman atau sekularisme global, melainkan bagaimana tetap tersenyum ramah pada syamas atau penatua dari kolom sebelah yang baru saja menolak usulan program kerja Anda dengan alasan "belum ada petunjuk teknis dari wilayah".
Namun bagaimanapun rumitnya pasal-pasal, intrik komisi, dan panjangnya sambutan pejabat, 92 tahun adalah bukti ketangguhan yang tak terbantahkan. Jika GMIM mampu bertahan melewati hampir satu abad persidangan, rapat evaluasi, dan dinamika pemilihan pengurus tanpa kehilangan rasa kebersamaan—serta tanpa kehabisan konsumsi—maka gereja ini sungguh-sungguh dibangun di atas batu karang yang sangat kokoh.
Selamat Hari Ulang Tahun ke-92 GMIM Bersinode. Semoga roh persekutuan tetap lebih nyaring daripada ketukan palu sidang, dan semoga perdebatan di ruang sidang selalu berakhir manis di meja makan.
Semoga gereja tidak hanya semakin kuat dalam struktur, tetapi juga semakin rendah hati dalam pelayanan. Semoga kita tidak hanya memiliki cerita panjang tentang sejarah organisasi, tetapi juga jutaan cerita tentang manusia yang pernah merasakan kasih Tuhan melalui kehadiran gereja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar