Logical Fallacy (kesesatan logika) adalah bumbu penyedap dalam setiap obrolan warung kopi hingga podium politik. Ini adalah seni menyambungkan hal-hal yang tidak nyambung agar terlihat masuk akal bagi orang yang malas berpikir. Di negeri ini, menguasai sesat logika lebih penting daripada menguasai data, karena data bisa bikin pusing, tapi sesat logika bisa bikin Anda menang sorak.
Mari kita bedah beberapa "jurus maut" yang sering kita temui di sekitar kita:
Ini adalah favorit semua orang. Saat anda tidak bisa membantah argumen lawan tentang kenaikan harga BBM, jangan panik! Cukup katakan: "Halah, kamu saja jarang mandi, mau bicara soal ekonomi negara?"
Tiba-tiba, masalah ekonomi hilang, dan fokus beralih ke bau badan lawan bicara. Efektif? Sangat. Logis? Sama sekali tidak. Kecuali jika anda sedang berdebat soal kualitas sabun, penampilan seseorang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebenaran argumennya. Tapi hei, siapa yang butuh kebenaran kalau kita bisa mempermalukan orang di depan umum?
Jurus ini sering dipakai oleh para politisi dan pasangan yang sedang bertengkar. Caranya: pelintir omongan lawan bicara menjadi sesuatu yang sangat ekstrem, lalu serang pelintiran itu.
• Lawan: "Saya rasa kita perlu mengurangi konsumsi daging merah demi kesehatan."
• Anda: "Ooo, jadi kamu mau semua peternak sapi mati kelaparan dan seluruh dunia jadi hutan belantara? Kamu kejam sekali!"
Anda tidak sedang mendebat kesehatan, anda sedang mendebat imajinasi anda sendiri. Tapi bagi penonton, anda terlihat seperti pahlawan pelindung peternak.
Di sini, logika menyerah pada jabatan. Jika seorang artis terkenal bilang bahwa meminum air rendaman batu akik bisa menyembuhkan patah hati, ribuan orang akan melakukannya. Kenapa? Karena dia terkenal! Kita sering lupa bahwa seorang ahli nuklir tidak otomatis menjadi ahli dalam urusan asmara, dan seorang influencer tidak otomatis menjadi pakar epidemiologi. Tapi di dunia Logical Fallacy, gelar atau popularitas adalah pengganti otak yang paling praktis.
Manusia itu makhluk yang malas. Berpikir logis itu melelahkan; ia butuh energi, riset, dan kerendahan hati untuk mengakui kalau kita salah. Sedangkan sesat logika? Ia seperti makanan cepat saji: enak, bikin kenyang sesaat, tapi merusak kesehatan otak jangka panjang.
Kesesatan logika adalah benteng bagi ego kita. Ia melindungi kita dari kenyataan bahwa mungkin saja kita ini sebenarnya tidak tahu apa-apa. Kita lebih suka menang debat dengan cara kotor daripada kalah debat dengan cara yang terhormat dan tercerahkan.
Jadi, tantangan saya untuk anda hari ini adalah: Cobalah sehari saja berbicara tanpa menggunakan jurus-jurus di atas. Saat pasangan anda mengkritik cara anda menyetir, jangan jawab dengan "Kamu sendiri kalau masak sering gosong!".
Dunia ini sudah penuh dengan kebisingan yang tidak bermakna. Jika kita terus-terusan memelihara sesat logika, kita hanya akan menjadi sekumpulan orang yang berteriak di dalam gua, merasa hebat karena gema suara kita sendiri, padahal kita hanya sedang membodohi diri sendiri secara kolektif.
Ingat: Memenangkan argumen dengan sesat logika itu seperti menang balapan lari karena anda menyabotase sepatu lawan. Anda mungkin dapat pialanya, tapi anda tetaplah seorang pecundang yang tidak bisa lari.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar