Senin, 02 Juni 2025

Algoritma


Tak semua pilihan lahir dari kehendak bebas, dan tak semua kebetulan adalah kebetulan.

Di awalnya, algoritma adalah sesuatu yang sederhana. Ia hanya urutan instruksi logis—langkah demi langkah, mirip resep memasak. Tak ada yang mistis. Ia netral, bersih, dan katanya: objektif. Tapi dalam dunia yang pelan-pelan menyerahkan pikirannya ke layar, algoritma menjelma entitas yang tak lagi sederhana. Ia mulai membentuk dunia. Diam-diam.
Kita membayangkan algoritma sebagai mesin yang tahu kita lebih baik dari diri kita sendiri. Ia merekomendasikan lagu yang kita sukai, video yang membuat kita tertawa, berita yang membuat kita marah. Ia tahu jam berapa kita bangun, seberapa lama kita menatap meme, bahkan berapa detik kita berhenti di foto seseorang.
Namun justru di sanalah letak persoalannya. Algoritma bukan hanya mengamati kita. Ia memengaruhi kita. Ia menyusun apa yang kita lihat. Ia memutuskan mana yang layak muncul, mana yang diabaikan. Kita merasa bebas berselancar di dunia maya, padahal jalannya sudah digariskan.
Dalam dunia media sosial, algoritma bukan hanya mengatur isi layar, tapi juga membentuk isi kepala. Ia memperkuat bias. Ia mengurung kita dalam gelembung—di mana kita terus mendengar opini yang sama, emosi yang sama, kemarahan yang sama. Kebenaran yang berbeda terasa semakin asing. Dunia menjadi gema yang disetel ulang oleh mesin.
Kita tidak lagi membaca karena ingin tahu, tapi karena “direkomendasikan untuk Anda.” Dan karena itu, ada ironi besar yang menggantung di era digital: makin banyak informasi, makin sempit wawasan. Bukan karena tak tersedia, tapi karena tak disajikan.
Lebih jauh, algoritma tak hanya bekerja untuk menyenangkan. Ia bekerja untuk menguntungkan. Setiap klik, setiap like, setiap scroll—dikonversi menjadi data. Dan dari data, menjadi komoditas. Kita bukan lagi sekadar pengguna; kita adalah produk. Yang dijual bukan barang, tapi perhatian. Dan algoritma adalah makelar yang paling sabar dan paling cerdas.
Masalahnya, algoritma tak punya etika. Ia tak tahu apakah yang ditampilkannya akan memperkuat kebencian, mempercepat polarisasi, atau memperlebar jurang. Ia hanya tahu satu hal: mempertahankan perhatian kita. Maka yang ekstrem lebih disukai. Yang aneh lebih diprioritaskan. Yang membuat takut lebih sering muncul. Kecemasan, tampaknya, lebih menguntungkan daripada ketenangan.

Minggu, 01 Juni 2025

Pendeta

Pendeta. Sebuah kata yang nyaris tak pernah berbisik. Ia hadir dengan jubah, kadang dengan Alkitab yang dibuka, kadang dengan tangan yang mengarah. Dalam liturgi ia berdiri di atas mimbar, dan umat duduk di bawahnya, mendengar. Ia bicara tentang kasih, tentang dosa, tentang pengampunan. Tapi siapa yang mengawasi suara-suara yang merasa datang dari Tuhan?

Tak semua pendeta haus kuasa, tentu. Tapi di zaman ketika agama kerap dipakai sebagai otoritas moral dan politik, jabatan rohani bisa menjelma alat yang menggoda. Di balik panggilan pelayanan, kadang tersembunyi kehendak untuk mengatur. Dan di balik senyum yang menyebut “jemaat”, ada yang melihatnya sebagai “umat yang bisa diarahkan.”

Kita pernah mengenal pendeta yang berjalan kaki, menumpang makan di rumah umat, menghibur yang sakit, memakamkan yang sepi. Tapi kini, tak sedikit pendeta yang disambut seperti duta besar: dengan kursi khusus, mobil khusus, bahkan pendamping khusus. Pendeta tak lagi sekadar gembala, tapi figur publik. Ia difoto, dikutip, disanjung—dan barangkali terlalu nyaman dengan semua itu.

Yang lebih mengganggu adalah ketika mimbar berubah menjadi panggung, dan khotbah menjadi pertunjukan. Firman Tuhan dipadatkan seperti slogan politik, penuh janji, penuh retorika, minim penggalian. Jemaat bukan lagi tubuh Kristus yang hidup, tapi audiens yang harus diyakinkan untuk tetap setia—pada gerejanya, pada pendetanya, dan kadang pada sistem yang diam-diam sudah mapan.

Lebih jauh lagi, pendeta hari ini tak jarang masuk ke dalam urusan-urusan negara. Ia bicara tentang pemilu, tentang calon pemimpin, tentang arah bangsa. Ia menolak untuk sekadar “rohaniwan” dan memilih menjadi “nabi”. Tapi bukankah seorang nabi—dalam kitab-kitab kuno—justru berdiri berhadapan dengan kekuasaan, bukan merayunya?

Maka ketika seorang pendeta sibuk dekat dengan para elit, kita patut bertanya: siapa yang sedang ia layani?

Tentu tak semua demikian. Ada yang masih setia pada panggilan sunyi. Yang mengunjungi penjara. Yang duduk bersama anak muda yang ragu akan Tuhan. Yang tak sibuk membangun gedung megah, tapi menampung luka umat. Namun sayangnya, suara mereka kalah dari yang bersuara keras—yang viral, yang penuh urapan dan euforia.

Kita hidup di zaman ketika gelar “pendeta” bisa menjadi profesi. Ada yang melihatnya sebagai karier. Bahkan ada sekolah yang menjanjikan “sertifikat kependetaan” dalam waktu singkat, lengkap dengan pelatihan retorika. Tapi siapa yang bisa melatih belas kasih?

Minggu, 25 Mei 2025

Tuhan

Tuhan. Kata yang pendek, tapi mengandung kedalaman yang tak kunjung selesai dijelajahi. Ia disebut dalam doa, diperdebatkan dalam filsafat, disembah dalam ritual, dan sering, tak sengaja, disalahgunakan dalam kekuasaan.
Tuhan, dalam banyak peradaban, adalah yang maha tak terlihat namun maha hadir. Ia tak bisa dijamah oleh logika, tapi terus didekati oleh tafsir. Ia tak bisa dipastikan oleh indera, tapi diyakini oleh jutaan hati. Dan justru karena itu, Tuhan adalah misteri yang tak pernah tuntas.
Kita menyebut-Nya dalam pelbagai nama: Allah, Yahweh, Elohim, Brahman, Sang Hyang, dan entah berapa lagi. Masing-masing nama membawa sejarah, luka, dan harapan. Tapi adakah nama yang benar-benar mewakili? Atau semua nama hanyalah cara manusia yang terbatas mencoba mengikat yang tak terbatas?
Sejak ribuan tahun, manusia mencoba menata hidup atas nama Tuhan. Lalu muncullah hukum-hukum, moral, larangan, dan anjuran. Muncul pula pendeta, kiai, pastor, dan pemuka yang mengambil peran sebagai penyambung antara langit dan bumi. Di sanalah dimulai problemnya: ketika suara manusia mulai terdengar lebih nyaring daripada sunyi yang melingkupi kehadiran Tuhan itu sendiri.
Tuhan lalu menjadi institusi. Ia dijaga, dikawal, diproteksi. Seolah Ia bisa diserang. Seolah Tuhan perlu pembela. Maka, mereka yang bertanya dijuluki sesat. Mereka yang ragu dianggap lemah. Padahal, tidakkah iman justru tumbuh dari keberanian untuk menggugat? Bukankah yang paling setia justru yang tetap mencari, bahkan saat sunyi panjang datang tanpa jawaban?
Ada paradoks dalam pencarian terhadap Tuhan. Kita ingin mendekat, tapi semakin dekat, semakin terasa bahwa Ia tak bisa dimiliki. Kita ingin tahu, tapi semakin tahu, semakin sadar bahwa kita hanya menebak. Dan mungkin itulah esensinya: bahwa Tuhan bukan untuk dimiliki, tapi untuk terus didekati. Bukan untuk disimpulkan, tapi untuk terus direnungkan.
Di zaman ini, Tuhan kadang terdengar seperti alat. Dipakai dalam politik. Diusung dalam perang. Diagungkan dalam ujaran kebencian. Ia dijadikan merek dagang keyakinan. “Tuhan kami lebih benar dari Tuhanmu,” kata sebagian. Padahal, apakah Tuhan pernah memilih satu sisi dan menolak yang lain, atas dasar bendera?
Kita sering lupa bahwa jika Tuhan adalah cinta, seperti banyak kitab menyebut, maka cinta itu tak mungkin menyuruh untuk membenci. Jika Tuhan adalah keadilan, maka keadilan itu tak mungkin lahir dari penindasan atas nama-Nya. Dan jika Tuhan adalah kebenaran, maka kebenaran itu tak mungkin butuh kekerasan agar diakui.
Lalu, di manakah Tuhan sesungguhnya?
Mungkin Ia hadir dalam air mata orang miskin yang tetap bersyukur. Dalam keheningan seorang narapidana yang berdoa diam-diam di sel. Dalam pelukan anak kecil kepada ibunya. Dalam sepasang tangan yang menolong tanpa syarat. Dalam kesediaan untuk meminta maaf. Dalam keberanian untuk mengampuni. Mungkin Tuhan lebih dekat kepada mereka yang tak mengucap nama-Nya setiap hari, tapi hidup dalam belas kasih.
Tentu, semua ini bisa salah. Karena siapa kita untuk memahami Tuhan? Tapi justru karena itulah—karena keterbatasan kita—iman menjadi perjalanan, bukan kepastian.