Jumat, 13 Juni 2025

Ditinggalkan

Ada yang tidak pernah kita siapkan. Bukan karena kita tidak tahu, tapi karena kita tidak ingin tahu. Ditinggalkan—kata kerja pasif yang membuat kita merasa lumpuh. Ia tidak datang seperti tamu, tidak mengetuk pintu. Ia menyerbu, dan meninggalkan sesuatu yang kosong.

Kita sering bicara tentang meninggalkan. Tapi jarang tentang ditinggalkan. Meninggalkan memberi rasa kuasa; ditinggalkan memberi luka. Yang satu berjalan; yang lain diam, menggenggam sesuatu yang perlahan meleleh dari tangannya: harapan, janji, nama.

Dalam hidup, kita terbiasa membangun: rumah, hubungan, keyakinan. Tapi yang jarang kita pelajari adalah cara menghadapi runtuh. Kita diajar untuk mencintai, tapi tidak pernah cukup diajar bagaimana caranya ditinggal oleh cinta itu sendiri—entah karena waktu, karena pilihan, atau karena kematian.

Ditinggalkan bukan sekadar kehilangan. Ia adalah jeda panjang antara “dulu kita” dan “kini aku.” Ia tidak bising, tidak dramatis. Ia sepi, pelan, dan diam-diam menggerogoti. Seperti bangku kosong yang tak lagi dipandang. Seperti percakapan yang tinggal gema.

Dan yang paling menakutkan: seringkali yang meninggalkan tidak merasa bersalah. Dunia terus berjalan, seakan kepergian adalah hal biasa. Tapi bagi yang ditinggalkan, dunia menjadi museum. Setiap sudut menjadi kenangan. Setiap lagu menjadi luka. Setiap doa menjadi pertanyaan: “Kenapa aku?”

Ditinggalkan bisa berbentuk macam-macam: pasangan yang memilih pergi, teman yang tak menjawab pesan, orang tua yang terlalu sibuk untuk melihat, atau bahkan Tuhan—yang terasa diam saat kita paling membutuhkan. Dan yang paling menyakitkan: ketika mereka masih hidup, tapi sudah tak hadir.

Namun anehnya, dari semua itu, manusia tetap bertahan. Ia belajar menata ulang dirinya. Membuat makna baru. Kadang dari serpihan. Kadang dari kehampaan. Karena ternyata, yang tertinggal tidak selalu berarti kalah. Ada kekuatan sunyi yang hanya dimiliki mereka yang ditinggalkan—kekuatan untuk tetap tinggal.

Kamis, 12 Juni 2025

Injil

Injil. Sebuah kata yang telah terlalu sering diucap, dan karenanya barangkali telah kehilangan kejutannya. Ia disebut dalam doa, dikutip dalam khotbah, dicetak di sampul Alkitab dan dibisikkan dalam pengakuan dosa. Tapi seperti segala yang terlalu akrab, Injil bisa menjadi gema kosong—mengisi ruang, tapi tak lagi menggugah.

Injil berarti “kabar baik.” Tapi kita hidup dalam dunia di mana kabar baik kadang terdengar mencurigakan. Di tengah statistik penderitaan, kesenjangan, dan peperangan, “kabar baik” terdengar seperti janji yang terlalu indah. Terlalu polos. Terlalu tidak masuk akal. Maka orang mulai menanyakan ulang: baik bagi siapa?

Injil, pada mulanya, bukan teks yang tebal. Ia adalah kabar yang berbisik di lorong-lorong penderitaan abad pertama. Ia bukan diumumkan di istana, tapi di padang gembala. Bukan untuk mereka yang berkekuatan, tapi untuk yang terpinggirkan. Injil bukan kemenangan yang ditulis dalam tinta emas, melainkan pengharapan yang lahir dari tubuh yang tergantung di kayu salib.

Tapi Injil hari ini, di tangan gereja modern, sering kali tampil berbeda. Ia menjadi paket sistematis, lengkap dengan empat hukum keselamatan, slide PowerPoint, dan panggung altar yang dirancang seperti konser. Ia dijelaskan dengan logika pasar: siapa masuk surga, siapa tersingkir. Kabar baik, diubah menjadi produk. Siapa beli, siapa tidak.

Kita lupa, Injil bukan produk, melainkan proses. Ia tidak selesai dalam satu ayat atau satu keputusan. Ia adalah perjalanan: antara percaya dan ragu, antara pengampunan dan luka yang belum sembuh. Injil bukan hanya untuk diumumkan, tetapi untuk dijalani.

Di banyak tempat, Injil bahkan dipolitisasi. Ia dijadikan dasar untuk menolak yang berbeda, untuk menjustifikasi kekuasaan, untuk membangun pagar-pagar doktrin. Injil yang pada mulanya adalah pelukan bagi yang terbuang, berubah menjadi tembok bagi yang tak sesuai format. Seolah kabar baik hanya untuk mereka yang berpakaian rapi, berkata sopan, dan mengisi formulir keanggotaan.

Tapi Injil yang asli—yang mentah, yang belum dipoles institusi—adalah kabar yang subversif. Ia menumbangkan logika kekuasaan: yang terakhir menjadi pertama, yang miskin diberkati, yang mati dihidupkan. Ia tidak datang dari atas, tapi dari bawah. Tidak datang dalam kemenangan, tapi dalam luka.

Dan barangkali itulah mengapa Injil selalu menyakitkan sebelum ia menyembuhkan. Karena ia tidak sekadar memberi harapan, tapi juga menggugah kenyataan. Ia memaksa kita menatap dunia apa adanya—dan tetap percaya bahwa kasih lebih besar dari kebencian, bahwa pengampunan lebih kuat dari balas dendam.

Rabu, 11 Juni 2025

BPMJ (Badan Pekerja Majelis Jemaat)

BPMJ. Nama itu terdengar administratif, nyaris teknokratis. Badan Pekerja Majelis Jemaat. Sebuah lembaga di tubuh gereja Protestan yang, secara struktur, adalah urat nadi pengelolaan jemaat. Tapi di antara kata “badan” dan “pekerja,” yang sering hilang justru denyut pelayanannya.

Di atas kertas, BPMJ adalah perwujudan dari teologi presbiterial: gereja dipimpin secara kolektif, bukan oleh satu orang. Pendeta, Penatua, dan Diaken duduk bersama, merumuskan arah. Tidak ada imam tunggal, tidak ada takhta. Yang ada: meja persekutuan. Tapi kita tahu, meja pun bisa menjadi panggung.

Dalam praktiknya, BPMJ kadang lebih mirip kabinet mini. Ada agenda-agenda, notulen, voting, dan, tentu saja, dinamika kekuasaan. Yang membedakan dari politik di luar hanyalah dekorasi rohani: ayat-ayat disisipkan di awal rapat, doa ditutupkan sebelum perbedaan membeku. Tapi siapa pun yang pernah berada di dalam BPMJ tahu, tak semua keputusan bersumber dari Roh Kudus. Kadang dari logika politik kecil: siapa dekat dengan siapa, siapa diam demi damai, siapa bicara demi pamrih.

Kita jarang bertanya: mengapa gereja memerlukan "badan pekerja"? Apakah pekerjaan Tuhan sedemikian administratifnya hingga memerlukan struktur sekompleks itu? Atau, justru karena manusia yang membawa nama Tuhan cenderung tak teratur, maka struktur dibentuk sebagai pagar?

BPMJ, dalam fungsinya yang ideal, adalah jantung pelayanan. Ia bukan ruang kontrol, tapi ruang koordinasi. Ia bukan tempat untuk merasa berkuasa, tapi untuk saling menanggung. Namun godaan terbesar lembaga ini justru datang dari dalam: keinginan untuk mengatur, bukan mengabdi. Untuk menguasai tafsir, bukan mendengarkan luka.

Yang paling rawan adalah ketika BPMJ mulai melupakan jemaatnya. Ketika rapat-rapat menjadi tujuan, bukan alat. Ketika ketentuan menjadi lebih penting dari kehadiran. Ketika jadwal pelayanan lebih rapi dari relasi antar manusia. Maka gereja pun berubah pelan-pelan: dari komunitas iman menjadi lembaga yang sibuk mengurus dirinya sendiri.

Ada Penatua yang lebih hafal Program dan Anggaran ketimbang nama-nama jemaat yang dalam pergumulan. Ada Diaken yang lebih sigap mengatur keuangan daripada menemui jemaat yang butuh pertolongan. Ada Pendeta yang lebih cepat berada di tempat sukacita daripada menyentuh tangan jemaat yang sekarat.

Ironisnya, semua itu dilakukan demi efisiensi, demi ketertiban, demi “kesaksian yang baik.” Tapi di tengah ketertiban itu, kasih kadang kehilangan tempat.

Padahal gereja—dalam akar katanya, Ekklesia—bukan institusi, melainkan pertemuan. Yang lebih penting dari rapat adalah relasi. Yang lebih utama dari keputusan adalah kehadiran. Yang lebih bermakna dari program kerja adalah duduk bersama tanpa agenda.