Di atas kertas, BPMJ adalah perwujudan dari teologi presbiterial: gereja dipimpin secara kolektif, bukan oleh satu orang. Pendeta, Penatua, dan Diaken duduk bersama, merumuskan arah. Tidak ada imam tunggal, tidak ada takhta. Yang ada: meja persekutuan. Tapi kita tahu, meja pun bisa menjadi panggung.
Dalam praktiknya, BPMJ kadang lebih mirip kabinet mini. Ada agenda-agenda, notulen, voting, dan, tentu saja, dinamika kekuasaan. Yang membedakan dari politik di luar hanyalah dekorasi rohani: ayat-ayat disisipkan di awal rapat, doa ditutupkan sebelum perbedaan membeku. Tapi siapa pun yang pernah berada di dalam BPMJ tahu, tak semua keputusan bersumber dari Roh Kudus. Kadang dari logika politik kecil: siapa dekat dengan siapa, siapa diam demi damai, siapa bicara demi pamrih.
Kita jarang bertanya: mengapa gereja memerlukan "badan pekerja"? Apakah pekerjaan Tuhan sedemikian administratifnya hingga memerlukan struktur sekompleks itu? Atau, justru karena manusia yang membawa nama Tuhan cenderung tak teratur, maka struktur dibentuk sebagai pagar?
BPMJ, dalam fungsinya yang ideal, adalah jantung pelayanan. Ia bukan ruang kontrol, tapi ruang koordinasi. Ia bukan tempat untuk merasa berkuasa, tapi untuk saling menanggung. Namun godaan terbesar lembaga ini justru datang dari dalam: keinginan untuk mengatur, bukan mengabdi. Untuk menguasai tafsir, bukan mendengarkan luka.
Yang paling rawan adalah ketika BPMJ mulai melupakan jemaatnya. Ketika rapat-rapat menjadi tujuan, bukan alat. Ketika ketentuan menjadi lebih penting dari kehadiran. Ketika jadwal pelayanan lebih rapi dari relasi antar manusia. Maka gereja pun berubah pelan-pelan: dari komunitas iman menjadi lembaga yang sibuk mengurus dirinya sendiri.
Ada Penatua yang lebih hafal Program dan Anggaran ketimbang nama-nama jemaat yang dalam pergumulan. Ada Diaken yang lebih sigap mengatur keuangan daripada menemui jemaat yang butuh pertolongan. Ada Pendeta yang lebih cepat berada di tempat sukacita daripada menyentuh tangan jemaat yang sekarat.
Ironisnya, semua itu dilakukan demi efisiensi, demi ketertiban, demi “kesaksian yang baik.” Tapi di tengah ketertiban itu, kasih kadang kehilangan tempat.
Padahal gereja—dalam akar katanya, Ekklesia—bukan institusi, melainkan pertemuan. Yang lebih penting dari rapat adalah relasi. Yang lebih utama dari keputusan adalah kehadiran. Yang lebih bermakna dari program kerja adalah duduk bersama tanpa agenda.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar