Kita sering bicara tentang meninggalkan. Tapi jarang tentang ditinggalkan. Meninggalkan memberi rasa kuasa; ditinggalkan memberi luka. Yang satu berjalan; yang lain diam, menggenggam sesuatu yang perlahan meleleh dari tangannya: harapan, janji, nama.
Dalam hidup, kita terbiasa membangun: rumah, hubungan, keyakinan. Tapi yang jarang kita pelajari adalah cara menghadapi runtuh. Kita diajar untuk mencintai, tapi tidak pernah cukup diajar bagaimana caranya ditinggal oleh cinta itu sendiri—entah karena waktu, karena pilihan, atau karena kematian.
Ditinggalkan bukan sekadar kehilangan. Ia adalah jeda panjang antara “dulu kita” dan “kini aku.” Ia tidak bising, tidak dramatis. Ia sepi, pelan, dan diam-diam menggerogoti. Seperti bangku kosong yang tak lagi dipandang. Seperti percakapan yang tinggal gema.
Dan yang paling menakutkan: seringkali yang meninggalkan tidak merasa bersalah. Dunia terus berjalan, seakan kepergian adalah hal biasa. Tapi bagi yang ditinggalkan, dunia menjadi museum. Setiap sudut menjadi kenangan. Setiap lagu menjadi luka. Setiap doa menjadi pertanyaan: “Kenapa aku?”
Ditinggalkan bisa berbentuk macam-macam: pasangan yang memilih pergi, teman yang tak menjawab pesan, orang tua yang terlalu sibuk untuk melihat, atau bahkan Tuhan—yang terasa diam saat kita paling membutuhkan. Dan yang paling menyakitkan: ketika mereka masih hidup, tapi sudah tak hadir.
Namun anehnya, dari semua itu, manusia tetap bertahan. Ia belajar menata ulang dirinya. Membuat makna baru. Kadang dari serpihan. Kadang dari kehampaan. Karena ternyata, yang tertinggal tidak selalu berarti kalah. Ada kekuatan sunyi yang hanya dimiliki mereka yang ditinggalkan—kekuatan untuk tetap tinggal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar