Injil berarti “kabar baik.” Tapi kita hidup dalam dunia di mana kabar baik kadang terdengar mencurigakan. Di tengah statistik penderitaan, kesenjangan, dan peperangan, “kabar baik” terdengar seperti janji yang terlalu indah. Terlalu polos. Terlalu tidak masuk akal. Maka orang mulai menanyakan ulang: baik bagi siapa?
Injil, pada mulanya, bukan teks yang tebal. Ia adalah kabar yang berbisik di lorong-lorong penderitaan abad pertama. Ia bukan diumumkan di istana, tapi di padang gembala. Bukan untuk mereka yang berkekuatan, tapi untuk yang terpinggirkan. Injil bukan kemenangan yang ditulis dalam tinta emas, melainkan pengharapan yang lahir dari tubuh yang tergantung di kayu salib.
Tapi Injil hari ini, di tangan gereja modern, sering kali tampil berbeda. Ia menjadi paket sistematis, lengkap dengan empat hukum keselamatan, slide PowerPoint, dan panggung altar yang dirancang seperti konser. Ia dijelaskan dengan logika pasar: siapa masuk surga, siapa tersingkir. Kabar baik, diubah menjadi produk. Siapa beli, siapa tidak.
Kita lupa, Injil bukan produk, melainkan proses. Ia tidak selesai dalam satu ayat atau satu keputusan. Ia adalah perjalanan: antara percaya dan ragu, antara pengampunan dan luka yang belum sembuh. Injil bukan hanya untuk diumumkan, tetapi untuk dijalani.
Di banyak tempat, Injil bahkan dipolitisasi. Ia dijadikan dasar untuk menolak yang berbeda, untuk menjustifikasi kekuasaan, untuk membangun pagar-pagar doktrin. Injil yang pada mulanya adalah pelukan bagi yang terbuang, berubah menjadi tembok bagi yang tak sesuai format. Seolah kabar baik hanya untuk mereka yang berpakaian rapi, berkata sopan, dan mengisi formulir keanggotaan.
Tapi Injil yang asli—yang mentah, yang belum dipoles institusi—adalah kabar yang subversif. Ia menumbangkan logika kekuasaan: yang terakhir menjadi pertama, yang miskin diberkati, yang mati dihidupkan. Ia tidak datang dari atas, tapi dari bawah. Tidak datang dalam kemenangan, tapi dalam luka.
Dan barangkali itulah mengapa Injil selalu menyakitkan sebelum ia menyembuhkan. Karena ia tidak sekadar memberi harapan, tapi juga menggugah kenyataan. Ia memaksa kita menatap dunia apa adanya—dan tetap percaya bahwa kasih lebih besar dari kebencian, bahwa pengampunan lebih kuat dari balas dendam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar