Kamis, 19 Juni 2025

Meta. Sebuah nama yang menggantikan “Facebook Inc.” sejak 2021. Tapi lebih dari sekadar rebranding, Meta adalah ambisi. Ia ingin menjadi bukan hanya media sosial, tapi semesta sosial itu sendiri. Ia bukan lagi tempat orang berkumpul; ia ingin menjadi ruang tempat manusia merasa eksis.

Dalam bahasa Yunani, meta berarti “melampaui.” Tapi seperti kata-kata besar lain dalam sejarah, ia menyembunyikan hasrat. Meta bukan sekadar melampaui Facebook—ia ingin melampaui dunia yang nyata. Ia menciptakan metaverse: ruang maya tempat orang bisa bekerja, bermain, jatuh cinta, membangun identitas baru. Dunia alternatif, tempat tubuh digantikan avatar, dan tatap muka digantikan headset.

Tapi ketika dunia menjadi layar, siapa yang mengatur cahaya?

Mark Zuckerberg menyebut metaverse sebagai masa depan internet. Tapi masa depan macam apa yang dibangun dari data yang terus-menerus dikumpulkan, dari interaksi yang ditakar engagement, dari hubungan yang dimonetisasi dengan iklan? Meta, seperti Facebook sebelumnya, menjanjikan koneksi. Tapi koneksi tidak sama dengan kedekatan. Kita bisa terhubung dengan ribuan orang, tapi merasa lebih sendiri dari sebelumnya.

Dan barangkali itu yang paling ganjil dari Meta: ia membuat kita sibuk membangun diri digital, sambil perlahan mengikis kepekaan tubuh kita yang nyata. Kita tersenyum di depan kamera, tapi diam dalam ruang tamu. Kita merayakan ulang tahun lewat notifikasi, tapi lupa mengangkat telepon.

“Teknologi selalu netral. Tapi cara kita menggunakannya, tidak pernah.” Meta bukan mesin jahat. Tapi ia tumbuh dari logika pasar yang ingin tahu kita lebih dari yang kita tahu tentang diri sendiri. Ia tahu kapan kita sedih, kapan kita menatap layar terlalu lama, kapan kita berhenti menggulir.

Dan dari situ, ia membentuk dunia yang dikurasi oleh algoritma. Kita tidak lagi memilih apa yang ingin kita lihat; kita ditunjukkan apa yang menurut sistem paling menguntungkan—bukan bagi kita, tapi bagi platform. Maka dunia pun makin mirip ruang cermin: kita melihat hal-hal yang membuat kita nyaman, seolah dunia ini sepakat dengan kita, seolah perbedaan tak perlu ada.

Meta menyebut dirinya sebagai penghubung komunitas. Tapi komunitas macam apa yang lahir dari algoritma? Kita dikelompokkan bukan berdasarkan nilai, tapi berdasarkan klik. Kita bertemu orang bukan karena keinginan, tapi karena sistem menilai mereka “relevan.” Maka persahabatan menjadi hasil logika statistik. Dan cinta, kadang, hanya efek dari rekomendasi mutual friends.

Yang lebih mencemaskan bukan hanya teknologi Meta, tapi cara pikir yang mengikutinya: bahwa semua hal harus terdokumentasi, semua pengalaman harus bisa dipamerkan. Kita tidak cukup lagi melihat sunset. Kita harus memotretnya, memberi caption, dan mengukur validitasnya dari jumlah emoji hati.

Di dunia yang penuh notifikasi ini, sunyi terasa mencurigakan. Padahal justru di sanalah kita bisa kembali bertanya: siapa aku di luar layar? Apakah aku masih hadir ketika tidak ada yang menonton?

Rabu, 18 Juni 2025

Monetisasi

Monetisasi. Kata yang terasa teknokratik, tapi punya nafsu tua: menjadikan apa pun sebagai uang. Kini ia tidak sekadar istilah dalam ekonomi makro atau laporan kas digital. Ia telah menjelma kredo zaman. Dari media sosial hingga mimbar agama, dari kemiskinan hingga kemuliaan, dari cinta hingga kematian—segala sesuatu bisa dijadikan komoditas. Asal viral, bisa dijual.

Di masa lalu, perdagangan menyentuh barang. Kini monetisasi menyentuh makna. Seorang ibu membagikan kisah kehilangan anaknya di TikTok, lalu muncul endorse skincare. Seorang pendeta menyisipkan tautan donasi setelah khotbah tentang kesederhanaan. Seorang penulis puisi—barangkali juga saya—menerima honor untuk kata-kata yang mestinya lahir dari sunyi.

Apakah ini kejahatan? Tidak selalu. Tapi yang menarik: kita makin jarang bertanya kapan sesuatu tak seharusnya diberi harga.

Kita tahu, uang bukan musuh. Tapi monetisasi—jika tidak kita jaga—adalah jalan panjang yang perlahan mengubah motivasi. Yang dulu dilakukan karena cinta, kini dilakukan karena kemungkinan pemasukan. Yang dulu dikerjakan sebagai ibadah, kini dikemas sebagai “konten.” Dan ketika konten adalah raja, maka emosi menjadi tambang. Duka dipotong-potong. Marah disetir algoritma. Yang penting menarik, bukan lagi mendalam.

Nietzsche menulis bahwa nilai tertinggi manusia adalah kemampuannya mencipta makna, bukan menjualnya. Tapi hari ini, penciptaan itu sering ditimbang lewat klik, CPM, dan CTR. Kita bukan hanya bekerja untuk hidup, tapi hidup agar layak dibayar.

Maka batas antara kejujuran dan performa menjadi kabur. Kita tahu seseorang menangis bukan karena kehilangan, tapi karena kamera menyala. Kita tahu seseorang mengucap syukur bukan pada Tuhan, tapi pada audiens. Monetisasi bukan lagi soal transaksi, tapi tentang bagaimana eksistensi harus dipertontonkan agar pantas dihargai.

Saya teringat kata Milan Kundera: “Kehidupan adalah panggung, dan kita semua adalah aktor yang lupa bahwa ada hidup di balik layar.” Di era monetisasi ini, barangkali layar itulah yang hilang. Tak ada lagi ruang di mana kita bisa diam tanpa target. Menulis tanpa follower. Membantu tanpa tagar. Mencintai tanpa update status.

Apakah salah mencari uang dari hal yang kita sukai? Tidak. Tapi barangkali salah jika kita hanya menyukai sesuatu karena bisa dijadikan uang.

Senin, 16 Juni 2025

Beyond Good and Evil

Nietzsche menulis Jenseits von Gut und Böse—Beyond Good and Evil—pada 1886. Tapi gaungnya masih terasa seperti pukulan palu di zaman kita yang penuh slogan moral. Buku itu tidak memberi jawaban, apalagi pelipur lara. Ia menggugat. Ia seperti menyalakan api di altar kepercayaan yang selama ini disucikan tanpa diperiksa: bahwa ada yang disebut “baik,” dan ada yang disebut “jahat”—dan semua itu bisa diketahui dengan pasti.

Nietzsche tidak sedang mempromosikan kejahatan. Tapi ia bertanya, dengan nada sinis dan sekaligus jujur: dari mana datangnya nilai-nilai itu? Apakah “baik” itu sungguh berasal dari kebenaran yang hakiki, atau sekadar hasil kesepakatan, budaya, atau bahkan—yang lebih mengejutkan—rasa takut?

Di situlah Nietzsche berpisah jalan dengan moral Kristen tradisional, dan juga dengan para filsuf sebelumnya. Ia mencium bahwa banyak nilai yang kita agung-agungkan justru lahir dari kelemahan. Bahwa kebaikan, dalam narasi moral umum, sering kali hanya hasil dari kekalahan yang diberi nama baru. Moral budak, kata Nietzsche—moral yang lahir dari mereka yang lemah dan tak berdaya, lalu menyebut kelemahannya itu sebagai “kelembutan,” “kesabaran,” “kasih.”

Apa jadinya jika semua nilai itu dibalik? Jika yang kuat disebut jahat, dan yang tunduk disebut suci? Apakah kita telah keliru membaca sejarah jiwa manusia?


Nietzsche menginginkan semacam revaluasi semua nilai. Ia menghendaki manusia yang tak tunduk pada nilai yang diwariskan, melainkan menciptakan nilai. Der Übermensch—manusia unggul—bukanlah diktator berdarah dingin, tapi seseorang yang berani berkata ya pada kehidupan, dengan segala ambiguitas dan ketelanjangannya. Seseorang yang tidak butuh surga sebagai hadiah, atau neraka sebagai ancaman.

Tapi justru di sanalah dunia kita hari ini terasa seperti paradoks. Kita hidup di era pasca-kebenaran, ketika semua relativisme menjadi mode, ketika moral dipertanyakan dan “narasi besar” dicurigai. Tapi apakah kita sungguh telah melampaui “baik dan jahat”? Atau hanya menggantinya dengan versi yang lebih halus, lebih teknokratik, lebih terselubung?

Kini, “baik” sering diproduksi oleh algoritma. Ditetapkan oleh opini mayoritas. Dikelola oleh sistem rating. Aplikasi pemesanan makanan bisa memberi label “top” pada restoran, dan itu menjadi kebenaran sosial. Kita mengikuti, memberi bintang, memberi suka—tanpa pernah benar-benar menguji apakah yang kita beri label “baik” itu memang pantas.

Mungkin Nietzsche tidak akan terkesan dengan zaman kita. Bukan karena kita terlalu jahat, tapi karena kita terlalu penurut.

Dan barangkali, itu tugas filsafat hari ini: bukan membela apa yang baik, tapi bertanya, untuk siapa ia disebut baik? Dan siapa yang diam-diam menulis kamusnya?

Karena bisa jadi, “baik dan jahat” bukan dua kutub mutlak. Mereka mungkin hanya dua bayangan dari satu cahaya yang tak pernah utuh kita pahami.