Dalam bahasa Yunani, meta berarti “melampaui.” Tapi seperti kata-kata besar lain dalam sejarah, ia menyembunyikan hasrat. Meta bukan sekadar melampaui Facebook—ia ingin melampaui dunia yang nyata. Ia menciptakan metaverse: ruang maya tempat orang bisa bekerja, bermain, jatuh cinta, membangun identitas baru. Dunia alternatif, tempat tubuh digantikan avatar, dan tatap muka digantikan headset.
Tapi ketika dunia menjadi layar, siapa yang mengatur cahaya?
Mark Zuckerberg menyebut metaverse sebagai masa depan internet. Tapi masa depan macam apa yang dibangun dari data yang terus-menerus dikumpulkan, dari interaksi yang ditakar engagement, dari hubungan yang dimonetisasi dengan iklan? Meta, seperti Facebook sebelumnya, menjanjikan koneksi. Tapi koneksi tidak sama dengan kedekatan. Kita bisa terhubung dengan ribuan orang, tapi merasa lebih sendiri dari sebelumnya.
Dan barangkali itu yang paling ganjil dari Meta: ia membuat kita sibuk membangun diri digital, sambil perlahan mengikis kepekaan tubuh kita yang nyata. Kita tersenyum di depan kamera, tapi diam dalam ruang tamu. Kita merayakan ulang tahun lewat notifikasi, tapi lupa mengangkat telepon.
“Teknologi selalu netral. Tapi cara kita menggunakannya, tidak pernah.” Meta bukan mesin jahat. Tapi ia tumbuh dari logika pasar yang ingin tahu kita lebih dari yang kita tahu tentang diri sendiri. Ia tahu kapan kita sedih, kapan kita menatap layar terlalu lama, kapan kita berhenti menggulir.
Dan dari situ, ia membentuk dunia yang dikurasi oleh algoritma. Kita tidak lagi memilih apa yang ingin kita lihat; kita ditunjukkan apa yang menurut sistem paling menguntungkan—bukan bagi kita, tapi bagi platform. Maka dunia pun makin mirip ruang cermin: kita melihat hal-hal yang membuat kita nyaman, seolah dunia ini sepakat dengan kita, seolah perbedaan tak perlu ada.
Meta menyebut dirinya sebagai penghubung komunitas. Tapi komunitas macam apa yang lahir dari algoritma? Kita dikelompokkan bukan berdasarkan nilai, tapi berdasarkan klik. Kita bertemu orang bukan karena keinginan, tapi karena sistem menilai mereka “relevan.” Maka persahabatan menjadi hasil logika statistik. Dan cinta, kadang, hanya efek dari rekomendasi mutual friends.
Yang lebih mencemaskan bukan hanya teknologi Meta, tapi cara pikir yang mengikutinya: bahwa semua hal harus terdokumentasi, semua pengalaman harus bisa dipamerkan. Kita tidak cukup lagi melihat sunset. Kita harus memotretnya, memberi caption, dan mengukur validitasnya dari jumlah emoji hati.
Di dunia yang penuh notifikasi ini, sunyi terasa mencurigakan. Padahal justru di sanalah kita bisa kembali bertanya: siapa aku di luar layar? Apakah aku masih hadir ketika tidak ada yang menonton?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar