Di masa lalu, perdagangan menyentuh barang. Kini monetisasi menyentuh makna. Seorang ibu membagikan kisah kehilangan anaknya di TikTok, lalu muncul endorse skincare. Seorang pendeta menyisipkan tautan donasi setelah khotbah tentang kesederhanaan. Seorang penulis puisi—barangkali juga saya—menerima honor untuk kata-kata yang mestinya lahir dari sunyi.
Apakah ini kejahatan? Tidak selalu. Tapi yang menarik: kita makin jarang bertanya kapan sesuatu tak seharusnya diberi harga.
Kita tahu, uang bukan musuh. Tapi monetisasi—jika tidak kita jaga—adalah jalan panjang yang perlahan mengubah motivasi. Yang dulu dilakukan karena cinta, kini dilakukan karena kemungkinan pemasukan. Yang dulu dikerjakan sebagai ibadah, kini dikemas sebagai “konten.” Dan ketika konten adalah raja, maka emosi menjadi tambang. Duka dipotong-potong. Marah disetir algoritma. Yang penting menarik, bukan lagi mendalam.
Nietzsche menulis bahwa nilai tertinggi manusia adalah kemampuannya mencipta makna, bukan menjualnya. Tapi hari ini, penciptaan itu sering ditimbang lewat klik, CPM, dan CTR. Kita bukan hanya bekerja untuk hidup, tapi hidup agar layak dibayar.
Maka batas antara kejujuran dan performa menjadi kabur. Kita tahu seseorang menangis bukan karena kehilangan, tapi karena kamera menyala. Kita tahu seseorang mengucap syukur bukan pada Tuhan, tapi pada audiens. Monetisasi bukan lagi soal transaksi, tapi tentang bagaimana eksistensi harus dipertontonkan agar pantas dihargai.
Saya teringat kata Milan Kundera: “Kehidupan adalah panggung, dan kita semua adalah aktor yang lupa bahwa ada hidup di balik layar.” Di era monetisasi ini, barangkali layar itulah yang hilang. Tak ada lagi ruang di mana kita bisa diam tanpa target. Menulis tanpa follower. Membantu tanpa tagar. Mencintai tanpa update status.
Apakah salah mencari uang dari hal yang kita sukai? Tidak. Tapi barangkali salah jika kita hanya menyukai sesuatu karena bisa dijadikan uang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar