Nietzsche tidak sedang mempromosikan kejahatan. Tapi ia bertanya, dengan nada sinis dan sekaligus jujur: dari mana datangnya nilai-nilai itu? Apakah “baik” itu sungguh berasal dari kebenaran yang hakiki, atau sekadar hasil kesepakatan, budaya, atau bahkan—yang lebih mengejutkan—rasa takut?
Di situlah Nietzsche berpisah jalan dengan moral Kristen tradisional, dan juga dengan para filsuf sebelumnya. Ia mencium bahwa banyak nilai yang kita agung-agungkan justru lahir dari kelemahan. Bahwa kebaikan, dalam narasi moral umum, sering kali hanya hasil dari kekalahan yang diberi nama baru. Moral budak, kata Nietzsche—moral yang lahir dari mereka yang lemah dan tak berdaya, lalu menyebut kelemahannya itu sebagai “kelembutan,” “kesabaran,” “kasih.”
Apa jadinya jika semua nilai itu dibalik? Jika yang kuat disebut jahat, dan yang tunduk disebut suci? Apakah kita telah keliru membaca sejarah jiwa manusia?
Nietzsche menginginkan semacam revaluasi semua nilai. Ia menghendaki manusia yang tak tunduk pada nilai yang diwariskan, melainkan menciptakan nilai. Der Übermensch—manusia unggul—bukanlah diktator berdarah dingin, tapi seseorang yang berani berkata ya pada kehidupan, dengan segala ambiguitas dan ketelanjangannya. Seseorang yang tidak butuh surga sebagai hadiah, atau neraka sebagai ancaman.
Tapi justru di sanalah dunia kita hari ini terasa seperti paradoks. Kita hidup di era pasca-kebenaran, ketika semua relativisme menjadi mode, ketika moral dipertanyakan dan “narasi besar” dicurigai. Tapi apakah kita sungguh telah melampaui “baik dan jahat”? Atau hanya menggantinya dengan versi yang lebih halus, lebih teknokratik, lebih terselubung?
Kini, “baik” sering diproduksi oleh algoritma. Ditetapkan oleh opini mayoritas. Dikelola oleh sistem rating. Aplikasi pemesanan makanan bisa memberi label “top” pada restoran, dan itu menjadi kebenaran sosial. Kita mengikuti, memberi bintang, memberi suka—tanpa pernah benar-benar menguji apakah yang kita beri label “baik” itu memang pantas.
Mungkin Nietzsche tidak akan terkesan dengan zaman kita. Bukan karena kita terlalu jahat, tapi karena kita terlalu penurut.
Dan barangkali, itu tugas filsafat hari ini: bukan membela apa yang baik, tapi bertanya, untuk siapa ia disebut baik? Dan siapa yang diam-diam menulis kamusnya?
Karena bisa jadi, “baik dan jahat” bukan dua kutub mutlak. Mereka mungkin hanya dua bayangan dari satu cahaya yang tak pernah utuh kita pahami.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar