Kamis, 02 Juli 2009

Dua Puluh Empat September Dua Ribu Delapan

Masih agak pagi aku tiba di rumahnya Pak Pek. Ketika aku duduk, Nescafe Panas disuguhkan. Dan setelah memberi penjelasan singkat ia berkata “Jus ngana musti brangkat”, aku kaget juga, karena apa yang dibutuhkan mereka sudah kusiapkan, sesuai kesepaktan aku tidak akan ke lokasi proyek, disana ada yang akan menangani. Dengan banyak pertimbangan, kuputuskan untuk berangkat. Kebetulan aku belum pernah ke Sitaro. Tujuan kami Siau, ibukota kabupaten baru itu.

Cuaca cerah berawan, laut tenang sore itu ketika kami bertiga (aku, pak pek dan pak Alfrets) tiba di pelabuhan Manado. Mereka berdua masing-masing pimpinan GAPEKSINDO Manado dan Bitung. Queen Marry demikian nama kapal yang akan membawa kami. Rencana berangkat pukul 17.00. Mereka mengurus segala keperluan termasuk tiket. Suasana di pelabuhan tersebut cukup ramai dan tak beraturan seperti kebanyakan pelabuhan laut di negeri ini.

Akhirnya setelah beberapa lama di atas geladak sambil mondar-mandir kapalpun meniupkan terompetnya lalu berangkat. Jam menunjukan pukul 18.00 itu artinya molor 1 jam dari rencana. Cuaca baik, cerah berawan dan laut tenang membuat hati ini tenang. Aku tak bisa berdiam di kamar, keluar melihat pemandangan laut yang indah. Hari menjelang malam, pantai Manado nampak penuh cahaya, semakin lama semakin menjauh dan hilang.

Pukul 19.30 listrik padam, suasana pun jadi gelap gulita. Mesin kapalpun mati. Aku melihat ke samping kapal sepertinya hanya berputar-putar di tempat. Aku agak kuatir, untung laut tenang. Bule (turis) asal Prancis yang tidur-tiduran di buritan bergerak ke depan menggunakan senter di kepala, bolak-balik dari ruang kemudi kembali keburitan dan kembali lagi keruang kemudi, sepertinya tidak tenang.

Pukul 19.43 listrik kembali dinyalakan, suasana menjadi terang, mesin terdengar dihidupkan. Perjalanan dilanjutkan. Namun tak lama kemudian listrik kembali padam dan mesin mati, ini berulang sampai tiga kali. Untung cuaca baik, laut tenang. Kalau cuaca buruk, laut bergelora, mungkin kami terombang ambing di lautan pasifik atau diam di dasar samudera selamanya.

Aku keluar masuk kamar, beberapa saat di luar, beberapa saat di dalam. Pak pek dengan usianya 60-an tahun itu kulihat asik ngobrol dengan beberapa orang dan hanya menggunakan kaus tanpa jaket. Sekeliling di kejauhan kulihat lampu-lampu nelayan maklum jalur ini kawasan dengan beberapa pulau.

Senin, 22 Juni 2009

Dua Puluh Satu Juli Dua Ribu Tujuh

Pukul 03.10 dini hari udara mulai dingin, kami mulai mencapai perbatasan Sulteng-Sulut. Di Molosipat kami singgah untuk makan. Sopir langsung tidur. Memang ada tempat untuk mereka bahkan makan mereka gratis. Teman baruku itu mengeluarkan 2 Laptopnya merek Toshiba. Sambil menunggu sopir yang sedang tidur, kami bercerita atau dapat dikatakan bediskusi tentang banyak hal yang berhubungan dengan Komputer yang kebetulan sedikitnya aku mengerti. Katanya ia menangani sistem Data Base kantor-kantor di Parigi. Bukan dia yang membuat sistemnya tapi ia meminta bantuan temannya yang memang mengerti soal itu melalui Internet. Sambil menunggu aku mencoba Laptopnya, tapi bosan juga karena software yang tersedia masih standart di tambah tanpa koneksi internet maklum di antara hutan belantara. Kami melanjutkan perjalanan. Pukul 12.50 kami singgah makan di RM Muslim “Dengi”. Di sini penyiapan/penyajian makanan agak lama, member kesempatan kepada Sopir untuk tidur lagi. Kami memilih ikan untuk dibakar. Menunya hanya nasi putih, ikan (bobara, kerapuh, dll.) bakar, sayur kangkung dan dabu-dabu (sambal). Ini rumah makan favoritku di jalan Trans Sulawesi ini. Malam harinya kami tiba di Amurang, kemudian menuju Tondano, dan Tomohon. Selesai sudah perjalan……..

Dua Puluh Juli Dua Ribu Tujuh

Akhirnya akan kutinggalkan semua keindahan Danau Poso serta desa yang kecil dan indah ini. Kupersiapkan segalanya untuk sebuah perjalan kembali yang panjang. Motor danau papa Nining sudah siap. Aku berjalan menyusuri jalan menuju pelabuhan sambil melambaikan tangan kepada orang-orang yang kujumpai di sepanjang jalan. Di depan Baruga (tempat pertemuan) ketemu Kepala Desa dan perangkat-perangkatnya, mereka sedang mempersiapkan kerja. Pukul 08.15 bertolak dari pelabuhan, motor danaunya agak kecil. Mendekati Desa Peyura danau mulai bergelora, tandokasa (nama ombak yang datang dari arah selatan) memulaikan aktivitasnya di di pagi menjelang siang itu. Guncangannya cukup untuk membuat hati ini berdebar. Pukul 10.30 tiba di Tentena. Ku hubungi Is Sopir Panther Biru yang akan membawa aku kembali. Mereka sudah siap dan langsung menjemput di pelabuhan. Aku ketemu Budi Kayupa di Pusat Informasi “Tourism”, teman dulu ketika masih di Lombugia jauh sebelum pecah kerusuhan Poso. Katanya dia kepala di situ. Hebat, calon perawat akhirnya menajadi kepala pusat informasi wisata. Aku “men-charge Batteray” yang sudah lemah itu di KUD Kasintuwu Tentena. Kata bapak di situ listrik tidak lama akan dipadamkan. Listrik hanya sampai pkl.12.00 dan nanti menyala lagi pkl.18.00. Memprihatinkan memang, ibu kota kecamatan ini yang sepantasnya dikatakan Kota, listriknya hanya dinyalakan sampai pkl.12.00. Pukul 13.30 kami berangkat, meninggalkan Tentena melewati hutan pinus dengan padang ilalangnya, Tentena serta danau posonya di belakang seakan memanggil untuk kembali. Jalan berkelok-kelok menurun. Kami melewati lokasi Proyek PLTA Sulewana yang kapasitas dayanya cukup besar, mungkin dapat menyuplai listrik se-sulawesi. Tapi sementara ini tentu untuk industry di Sulawesi Selatan, tentu karena arah line cable-nya ke sana. Pukul 15.30 singgah makan di Sausu. Udara di sini cukup panas. Selesai makan aku langsung ke luar mencari tempat yang tiupan anginnya cukup untuk mendinginkan tubuhku yang kepanasan. Kami singgah sebentar di Parigi, karena ada seorang penumpang yang hendak di jemput. Ia duduk di sampingku. Kami berkenalan, rupanya dia akan kembali ke Bitung untuk berlibur. Kerjanya di BRI Parigi dan juga mempunyai usaha penjualan Komputer (Toko Komputer). Luar biasa, anak muda ini membuat hidupnya lebih hidup. Pukul 23.10 terdengar bunyi keras, aku yang mulai ngantuk tiba-tiba tersentak karena bunyinya cukup keras. Ternyata “kaca spion” bersinggungan dengan kas Truck yang lewat. Namun tetap kulanjutkan rasa tidurku…dan aku tertidur.