Selasa, 29 Juli 2025

KONOHA

Saya pernah mendengar nama itu pertama kali dari seorang anak muda yang tertawa getir di pinggir meja kopi. “KONOHA,” katanya, “bukan lagi desa ninja. Tapi kerajaan.” Ia tak sedang membicarakan anime. Ia menunjuk ke sekelilingnya: lembaga-lembaga yang dikunci oleh nama-nama marga, pertemuan rapat yang hanya mengulang suara yang sama, dan ambisi yang tumbuh di balik doa-doa rohani.

KONOHA, singkatan yang nakal—Kingdom of Nepotism, Oligarchy and Hidden Ambition. Nakal karena ia berani menyindir dengan main-main, tapi juga getir karena ia menunjuk ke arah yang tak ingin dilihat.

Boleh jadi istilah itu tak muncul dalam naskah resmi. Tapi jejaknya ada. Dalam setiap pewarisan kekuasaan yang tak berbasis pada kompetensi, tapi pada kedekatan. Dalam elitisme terselubung yang menyamar dalam nama “pengabdian.” Dalam ambisi yang dikubur dalam senyum, tapi membakar dari dalam.

Nepotisme, katanya, adalah cinta yang salah alamat. Ia mencintai yang dekat, tapi melupakan yang layak. Kita pernah diajarkan bahwa meritokrasi adalah landasan dunia modern—bahwa yang terbaiklah yang mestinya memimpin. Tapi dalam Konoha, yang naik adalah mereka yang lahir dalam lingkaran, bukan yang berjalan dari pinggir. Jabatan diturunkan seperti warisan, bukan diperebutkan oleh mereka yang layak.

Seorang kawan berkata, “di sini, meritokrasi adalah mitos yang dibacakan dalam pelantikan, lalu dibuang ke tong sampah ketika pintu ditutup.” Mungkin ia berlebihan. Tapi kita tahu, berlebihan kadang hanya berarti jujur secara emosional.

Oligarki, lebih halus. Ia tidak selalu menunjuk. Ia cukup membisik. Ia tidak mengambil alih, hanya mengatur arah. Ia seperti bayangan yang tak pernah bisa disentuh, tapi mengatur cahaya. Dalam banyak sistem, termasuk yang bernama “komunitas rohani” sekalipun, kita melihat tangan-tangan tak kasat mata yang lebih menentukan dibanding suara mayoritas.

Lalu ambisi. Ah, ini yang paling tersembunyi. Karena ia bisa dikemas dalam frasa “melayani,” “mengabdi,” bahkan “berkorban.” Tapi di dalamnya, ada hasrat untuk diakui, dipilih, dicatat. Ambisi tak selalu buruk. Tapi yang tersembunyi, yang menipu dengan wajah rohani, itulah yang berbahaya.

Maka kita punya pemimpin yang tampaknya rendah hati, tapi sebenarnya sedang merancang peta kekuasaan. Kita punya panitia yang katanya melayani, tapi diam-diam menjaring suara untuk pemilihan berikutnya. Kita punya gereja yang terlihat bersinar, tapi dibangun dengan agenda yang tak pernah dibicarakan di altar.

Maka Konoha, pada akhirnya, bukan cuma tempat dalam komik Jepang. Ia adalah metafora tentang kekuasaan yang terlalu akrab dengan keluarga, terlalu sempit untuk dibagi, terlalu licik untuk jujur. Ia bisa berwujud dalam lembaga, organisasi, atau gereja. Ia bisa memakai jubah ninja, toga sarjana, atau bahkan seragam pelayanan.

Apa yang salah dari sistem seperti ini? Barangkali bukan sekadar moralitas. Tapi karena ia membuat kita percaya bahwa perubahan hanya mungkin lewat garis keturunan, bukan lewat ketulusan. Bahwa suara minoritas akan selalu diredam oleh tawa akrab mereka yang duduk dalam meja bundar kekuasaan.

Yang tertinggal dari Konoha adalah ironi: bahwa bahkan dalam dunia fiksi, kita bisa membaca kenyataan. Dan kenyataan itu tak selalu menyenangkan. Ia bisa mengecewakan—atau justru menyadarkan.

Mungkin, suatu hari, KONOHA akan berubah. Tapi bukan karena mereka yang berkuasa akhirnya tercerahkan. Melainkan karena mereka yang diam, akhirnya bersuara.

Karena yang paling tersembunyi bukan jurus rahasia. Tapi niat yang dikubur di balik senyum.

Minggu, 27 Juli 2025

Ibadah

Ibadah. Kata yang begitu lama dipakai, begitu sering diucap, tapi semakin jarang membuat hati berguncang. Ia diulang, dilafalkan, dijadwalkan. Dijalankan dengan tertib. Diukur dengan durasi. Tapi mungkin justru karena itu, ia kehilangan guncangannya.

Ibadah berlangsung seperti sebuah mekanisme. Tertib. Rapi. Teratur. Ada liturgi, ada jadwal, ada struktur suara. Tapi kita tahu: ketertiban tak selalu melahirkan kedalaman. Seperti konser tanpa gairah. Seperti pelukan tanpa detak.

Sebab ibadah yang terlalu dikejar dalam bentuk, sering menyisakan kekosongan dalam isi. Kita khusyuk dalam gerak, tapi tak tahu kepada siapa kita bicara. Kita hafal ayat, tapi tak lagi bergetar.

Ada masa ketika ibadah adalah perjumpaan yang menakutkan. Musa menanggalkan kasutnya. Yesaya gemetar di hadapan kekudusan. Para sufi menangis dalam sunyi. Tapi hari ini, kita hadir dalam ibadah seperti datang ke resepsi: berdiri, duduk, senyum, lalu pulang. Tuhan diperlakukan seperti pejabat yang harus dihormati, bukan kekasih yang dirindukan.

Ibadah menjadi upacara. Dan upacara, kadang hanya menjadi perpanjangan ego. Kita datang bukan untuk menyembah, tapi untuk dilihat sedang menyembah. Kita angkat tangan bukan karena iman, tapi karena tata panggung.

Yang lebih menyedihkan, ibadah kadang menjadi senjata. Ia digunakan untuk menilai. Untuk membeda-bedakan. Untuk menentukan siapa yang layak disebut suci. Padahal, bukankah ibadah seharusnya menghapus garis batas, bukan menggandakannya?

Ibadah, dalam bentuknya yang paling hakiki, mungkin adalah momen ketika manusia menyadari dirinya kecil—dan karena itu, terbuka. Terbuka pada pengampunan. Terbuka pada perubahan. Terbuka pada kemungkinan bahwa yang tak tampak bisa lebih nyata dari yang kasat mata.

Dan mungkin, itulah yang kini kita cari: ibadah yang tak hanya terdengar, tapi juga mengguncang. Yang tak hanya dijalankan, tapi juga dijalani. Yang tak hanya dideklarasikan, tapi diam-diam mengubah cara kita melihat orang lain—dan diri sendiri.

Sebab ibadah yang sejati, seperti puisi yang baik, bukan yang paling panjang, tapi yang paling jujur. Bukan yang lantang, tapi yang menyentuh. Bukan yang formal, tapi yang diam-diam membuat seseorang menangis tanpa tahu sebabnya.

Maka barangkali kita perlu berhenti sejenak di tengah liturgi, dan bertanya: apakah aku sedang berbicara, atau sekadar mengulang kata-kata? Apakah aku sedang hadir, atau hanya berada di dalam ruangan?

Sebab bisa jadi, ibadah sejati bukan saat tangan terangkat, melainkan saat hati tergeletak. Tak berdaya. Dan justru karena itu, siap disapa.

Sabtu, 19 Juli 2025

Sepi

Sepi adalah kata yang tak pernah selesai didefinisikan. Ia hadir tanpa mengetuk, mengendap dalam ruang yang tadinya riuh. Ia bukan sekadar ketiadaan suara, tapi absennya gema dari dunia. Bahkan dalam keramaian, orang bisa merasa lebih sepi dari dinding-dinding kosong. Sepi, dalam bentuk yang paling telanjang, adalah ketika keberadaan kita tak menyentuh siapa-siapa.

Mungkin itu alasan mengapa kita menulis, berbicara, mem-posting status: bukan untuk didengar, tapi untuk merasa tidak sendiri.

Dalam Mazmur, Daud berseru: "Sampai kapan, Tuhan, Kau diam saja?"—seolah kesepian bukan cuma pengalaman eksistensial, tapi juga teologis. Sepi yang paling menusuk adalah ketika langit tak memberi tanda. Doa menguap begitu saja, dan iman menjadi seperti surat yang tak pernah dibalas.

Namun mungkin, justru dalam sepi, kita menemukan sesuatu yang tak bisa dicapai oleh bising: keheningan yang mengundang kedalaman. Seperti palung laut yang tenang karena tak tersentuh gelombang permukaan. Kita hanya menyadari kedalaman ketika suara dunia berhenti.

Sepi bukan hanya ruang antara dua kata, tetapi mungkin tempat satu-satunya di mana kita bisa mengenali makna itu sendiri.

Dalam sejarah, orang-orang bijak justru memeluk sepi. Socrates berjalan sendiri di medan pikirnya. Yesus berdoa dalam sunyi Taman Getsemani. Buddha duduk diam di bawah pohon. Tapi sepi mereka bukan sekadar kesendirian. Ia adalah keheningan yang disiapkan untuk mendengar sesuatu yang lebih dalam—sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam kata-kata.

Namun zaman ini memusuhi sepi. Kita hidup dalam dunia yang dipenuhi notifikasi, suara mesin, dan algoritma yang terus membisikkan “jangan diam.” Sepi dianggap kegagalan. Orang yang tak aktif di media sosial dianggap menghilang. Seseorang yang duduk sendirian di kafe dilihat seperti makhluk asing yang tersesat.

Padahal mungkin, di situlah justru kekuatan tersembunyi. Karena dalam sepi, manusia bisa melihat dirinya—tanpa sorot mata orang lain. Bisa menangis, bisa mengutuk, bisa mengaku kalah... dan tak seorang pun akan menertawakan.

Barangkali, sepi adalah kondisi paling jujur yang bisa dialami manusia. Sebab di sanalah, tak ada ruang untuk berpura-pura. Kita hanya bertemu dengan diri kita sendiri. Dan itu menakutkan. Karena siapa, di antara kita, yang benar-benar mengenal siapa dirinya?

Tapi mungkin juga, hanya dari sepi kita bisa mulai mengenal. Dari kekosongan itulah suara hati muncul. Bukan teriakan, tapi bisikan pelan—yang selama ini tertutup oleh bising dunia.

Mungkin sepi adalah bahasa spiritual yang paling purba. Sebab Tuhan, kata orang, tidak selalu datang dalam petir. Ia datang dalam suara yang lirih. Dan hanya mereka yang tenang dalam sepi yang bisa mendengarnya.

Jumat, 18 Juli 2025

Zarathustra

Zarathustra bukan nabi biasa. Ia bukan pembawa wahyu, melainkan pembakar kitab. Ia turun dari gunung bukan untuk membawa hukum Tuhan, tapi untuk mengumumkan kematian-Nya. Di tangan Friedrich Nietzsche, tokoh fiktif ini menjadi suara paling nyaring dari zaman yang mulai kehilangan pegangan—pada iman, pada moral, bahkan pada makna itu sendiri. Also sprach Zarathustra adalah buku yang tak bisa dibaca seperti ceramah, melainkan harus dirasakan seperti mimpi buruk yang justru membangunkan kita.

Zarathustra bukan penjelas, ia pengacau. Ia tidak menawarkan ketenangan, melainkan kegelisahan yang jujur. Ketika ia berkata bahwa “Tuhan telah mati”, itu bukan selebrasi ateisme, tapi duka atas dunia yang kehilangan pusat. Dunia modern, kata Nietzsche melalui mulut sang nabi, telah membunuh Tuhannya sendiri dengan pisau ilmu pengetahuan, konsumerisme, dan nihilisme. Dan yang paling tragis: kita bahkan tak sadar bahwa kita sedang berkabung.

Dalam kekosongan itu, Zarathustra tidak meminta kita bersujud pada kebenaran baru. Ia justru mendorong kita menciptakannya sendiri. Di sinilah muncul konsep Übermensch—manusia unggul. Tapi jangan salah, ini bukan manusia super dalam bayangan komik, bukan pahlawan atau tiran. Übermensch adalah manusia yang berani hidup tanpa ilusi. Ia menciptakan nilai-nilainya sendiri, tanpa menggantungkan makna pada surga, negara, atau norma yang diwariskan begitu saja. Ia adalah makhluk yang tahu bahwa hidup ini absurd, namun tetap memilih untuk menari di tengah absurditas itu.

Namun Zarathustra tidak sedang berkhotbah pada umat yang bersedia mendengar. Ia lebih sering diabaikan, ditertawakan, atau disalahpahami. Ini barangkali alegori paling jujur dari zaman kita sendiri: kebenaran yang tidak populer akan selalu dikalahkan oleh kenyamanan yang palsu. Masyarakat tidak suka diganggu oleh pertanyaan besar; kita lebih senang larut dalam rutinitas, konsumsi, dan hiburan. Zarathustra menjadi simbol bagi siapa saja yang mencoba hidup dengan cara yang berbeda, dan harus menanggung kesepiannya sendiri.

Secara filosofis, Zarathustra adalah perwujudan perlawanan terhadap kepasrahan. Ia menolak hidup yang dijalani karena “memang begitu”. Ia menantang kita untuk menanyakan ulang segalanya: dari keyakinan religius hingga etika sosial. Bahkan waktu pun tak luput: konsep eternal recurrence—gagasan bahwa kita harus menjalani hidup seolah akan mengulangnya selamanya—adalah ujian paling radikal bagi keotentikan hidup kita.

Di tengah dunia hari ini—yang terus menyembah tren, algoritma, dan popularitas—Zarathustra datang seperti suara asing yang mengajak kita berhenti, diam, lalu bertanya: apakah hidup yang kau jalani ini milikmu sendiri? Atau kau hanya sedang menjalani hidup orang lain yang kau warisi tanpa sadar?

Zarathustra tak meminta kita menjadi pengikut. Ia tak butuh disembah. Ia hanya ingin kita bangun—dan hidup dengan kesadaran yang utuh, meski itu berarti berjalan sendirian dalam badai. Sebab, barangkali, itulah satu-satunya cara menjadi manusia yang sungguh bebas.

Kamis, 17 Juli 2025

Suicidal Thought

Ada saat dalam hidup manusia ketika malam terasa terlalu panjang dan pagi tak menawarkan harapan. Saat-saat di mana pikiran tentang kematian tidak datang sebagai ancaman, melainkan sebagai pelarian yang terlihat logis. Pikiran bunuh diri — atau suicidal thought — bukan sekadar gejala kejiwaan. Ia adalah jeritan sunyi dari jiwa yang kelelahan, dari hati yang merasa tak lagi punya tempat di dunia yang terus bergerak, seolah-olah tanpa peduli.

Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan tuntutan: harus kuat, harus bahagia, harus produktif. Kita diajarkan untuk tidak mengeluh, untuk "bersyukur", bahkan ketika batin kita sekarat. Maka tidak heran jika banyak orang menyembunyikan pikirannya tentang kematian di balik senyum tipis, status motivasional, atau rutinitas kerja. Mereka tertawa di luar, tapi tenggelam di dalam.

Dalam pemikiran filsuf Albert Camus, hidup adalah absurditas. Ia menyebut bunuh diri sebagai satu-satunya pertanyaan filosofis yang serius. Mengapa kita tidak mengakhiri hidup ketika semuanya terasa tak masuk akal? Namun Camus justru menemukan keberanian di titik itu. Ia menolak menyerah. Baginya, menyadari bahwa hidup itu absurd bukan alasan untuk mengakhirinya, tetapi undangan untuk memberontak — bukan dengan peluru, tetapi dengan makna yang diciptakan sendiri.

Sayangnya, masyarakat modern kita cenderung salah kaprah. Ketika seseorang mengaku punya pikiran bunuh diri, respons paling umum adalah menyuruhnya “berpikir positif” atau “jangan lebay”. Padahal, itu seperti menyuruh orang yang tenggelam untuk berenang lebih kuat, tanpa memberinya pelampung. Pikiran bunuh diri bukan kelemahan. Ia adalah sinyal: bahwa sistem kita—baik sosial, ekonomi, maupun spiritual—sedang gagal merengkuh manusia pada titik paling rapuhnya.

Kita sering membayangkan bahwa orang yang ingin bunuh diri pasti terlihat murung, tertutup, atau menangis sepanjang hari. Nyatanya, banyak dari mereka adalah teman-teman kita yang paling ceria, paling ringan tangannya, paling rajin hadir. Mereka pandai menyembunyikan luka, karena merasa bahwa dunia tak cukup aman untuk menampungnya.

Apa yang bisa kita lakukan? Mungkin yang paling mendasar adalah belajar mendengar — sungguh-sungguh mendengar. Bukan untuk membalas, bukan untuk menasihati, tetapi untuk hadir. Kadang, seseorang tidak ingin diselamatkan. Ia hanya ingin tahu bahwa ada seseorang di dunia ini yang peduli cukup untuk duduk bersamanya dalam gelap, tanpa menghakimi.

Pikiran bunuh diri tidak akan hilang hanya dengan kata-kata semangat. Tapi ia bisa melemah ketika seseorang merasa dipahami. Dan barangkali, dalam dunia yang terlalu cepat berlalu, kehadiran yang tulus adalah satu-satunya obat yang tak bisa dijual dalam botol, namun menyelamatkan lebih banyak jiwa daripada yang kita bayangkan.

Jika hari ini terasa berat, ingatlah: keberanian bukan hanya tentang menaklukkan dunia, tapi juga tentang tetap hidup satu hari lagi, bahkan ketika semua terasa tak masuk akal. Karena esok, siapa tahu, langit bisa berubah. Dan hidup — meski hancur — masih bisa dirakit kembali. Pelan-pelan. Bersama.

Rabu, 16 Juli 2025

Metaverse

Lima tahun silam, “Metaverse” didengungkan Mark Zuckerberg bak Injil baru teknologi: sebuah jagat tiga‑dimensi tempat kita bekerja, berbelanja, dan jatuh cinta—tanpa meninggalkan sofa. Tetapi 2025 menunjukkan pemandangan yang lebih kusut. Unit Reality Labs Meta tetap merugi belasan miliar dolar tiap tahun, namun perusahaan justru menggandakan investasi pada kacamata pintar Ray‑Ban dan Oakley demi “konvergensi AI‑Metaverse” yang konon akan menggusur ponsel satu dekade lagi. Ibarat mengganti atap ketika pondasi retak, ambisi itu menegaskan satu hal: mitos belum selesai, meski realitas tertatih.

Di lapangan, angka‑angka bicara getir. Hanya 14 % bisnis yang benar‑benar mengadopsi solusi AR/VR penuh; sisanya terganjal harga perangkat, infrastruktur komputasi, dan ongkos pelatihan karyawan yang bisa tembus puluhan ribu dolar per kepala. Sementara itu Horizon Worlds—“kota pertama” versi Meta—masih dihantui bug dan tingkat retensi pengguna yang tipis, sampai perlu menyiapkan studio gim internal demi menyelamatkan daya tariknya. Visi kota kosmik ternyata gampang runtuh oleh banalitas lag, latency, dan dompet membengkak.

Secara filosofis, Metaverse menghidupkan ulang alegori gua Plato dalam resolusi 8K. Manusia modern duduk terpaku pada bayang‑bayang digital, mengira cahaya headset sebagai matahari. Dalam gua baru ini, identitas bisa diganti sekali klik, tetapi kuasa platform menjadi maha‑pencipta: merekam gerak mata, memonetisasi ekspresi wajah, bahkan merekayasa gravitasi demi iklan. Tak heran, 55 % pengguna lebih takut pada pelacakan data ketimbang monster VR mana pun; 44 % resah terhadap perundungan, dan 38 % cemas soal pelecehan seksual di ruang imersif. Ketika segala sudut tubuh disensor, privasi menjadi fosil kenangan.

Problem mendasar Metaverse bukan sekadar teknologi belum matang, melainkan jawaban keliru atas pertanyaan salah. Ia berangkat dari keyakinan bahwa pengalaman manusia setara piksel—bahwa kehadiran dapat diserahkan kepada bandwidth. Namun Intel sendiri memperkirakan butuh seribu kali efisiensi komputasi agar “dunia persistensi miliaran orang” benar‑benar mungkin. Bahkan bila hambatan itu terpecahkan, kita masih dihadang dilema etika: siapa pemilik ruang, hukum apa yang berlaku, dan bagaimana menakar dosa dalam semesta terprogram?

Kiranya inilah saat kita menghidupkan filosofi epoche—menahan diri sebelum menilai. Metaverse bisa menjadi laboratorium empati, memungkinkan dokter melatih operasi kompleks atau arkeolog menelusuri kota purba tanpa merusak situs asli. Tetapi ia juga dapat mengekspor kapitalisme pengawasan ke ranah yang lebih intim: detak jantung, pupil menyusut, lirikan rindu. Simpul moralnya sederhana: teknologi hanyalah amplifier; ia membesarkan kebijaksanaan atau kebodohan, tergantung stok nilai yang kita sematkan.

Maka daripada sibuk menjawab apakah Metaverse akan “sukses”, lebih urgen bertanya: masa depan macam apa yang layak kita sukseskan? Barangkali kita perlu jeda kontemplasi di trotoar dunia fisik—mendengar angin, menatap wajah tanpa avatar, meraba tanah tanpa haptic glove—agar ingat bahwa realitas bukan cacat desain yang harus ditambal piksel. Bila tidak, kita berisiko menjadi Homo Avatar: makhluk yang rela melepas daging demi cahaya neon, menukar makna panjang dengan sensasi instan, dan—ironisnya—kehilangan tempat berpijak, baik di bumi maupun di server awan.

Metaverse, pada akhirnya, bukan sekadar soal kemajuan teknologi, tetapi ujian bagi kedewasaan moral kita: apakah kita sedang menciptakan ruang baru untuk merayakan kemanusiaan, atau justru menggali kubur bagi realitas itu sendiri? Maka pertanyaannya kini bukan lagi bisa atau tidak, tetapi sebaiknya untuk apa—dan apakah kita cukup bijak untuk tak menjadi tamu abadi di dunia semu yang kita bangun sendiri.

Sabtu, 12 Juli 2025

Dilupakan

Ada yang lebih sunyi dari ditinggalkan: dilupakan.

Setiap orang ingin dikenang. Tapi tak satu pun dari kita bisa memilih ingatan macam apa yang akan tinggal, atau siapa yang akan tetap mengingat.

Mungkin karena itu, “dilupakan” terdengar lebih sunyi daripada “kehilangan.” Kehilangan masih mengandung luka yang hidup; ada jejak yang belum kering. Tapi dilupakan—adalah ketika nama kita tak lagi dipanggil, bahkan bayangan kita pun tak sempat dikenali. Ia bukan kepergian, melainkan penghapusan. Dilupakan adalah keheningan yang utuh. Ia seperti debu yang tak pernah sempat diingat pernah menempel.

“Kita hanya ingin dikenang agar tak punah.” Barangkali itu yang membuat manusia menulis buku, membangun tugu, berdoa, mencinta, bahkan berperang. Semua demi satu perkara yang samar: agar jejak kita tak lenyap tanpa gema.

Tapi dunia, seperti air yang terus mengalir, tidak peduli.

Ada orang-orang yang pernah jadi pahlawan. Tapi kini, tak satu pun yang menaruh bunga di nisannya. Ada penyair yang pernah memukau masa—tapi kini hanya tinggal catatan kaki. Ada ibu-ibu yang merawat malam demi anaknya, tapi tak satu pun dari mereka sempat bertanya: “Apa Ibu bahagia?”

Kita hidup di zaman ketika yang cepat lebih diingat daripada yang dalam. Yang viral lebih dirayakan daripada yang setia. Maka siapa yang peduli pada kesunyian yang lama? Pada kerja-kerja diam? Pada nama yang tak tertera dalam riwayat?

Namun, yang lebih menyesakkan adalah ketika yang dilupakan bukan hanya orang, tapi nilai. Tentang kejujuran. Tentang rasa malu. Tentang menghormati tanpa kamera. Kita lupa bahwa dalam kebudayaan yang bising, diam adalah bentuk keberanian. Dalam zaman yang haus eksistensi, menghilang bisa jadi sikap politik.

Barangkali inilah tragedi terbesar: ketika dilupakan menjadi kebiasaan kolektif. Ketika sejarah hanya menghafal yang kuat. Ketika yang kecil hanya menjadi angka, dan yang bisu hanya jadi bunyi yang terhapus algoritma.

Ada kekuatan justru dalam dilupakan. Seperti akar yang tak pernah tampak tapi menopang pohon. Seperti doa yang tak pernah terdengar tapi mengubah arah hidup seseorang. Seperti cinta yang tak disebut, tapi menahan runtuhnya seseorang di ambang putus asa.

Dilupakan adalah bentuk kehadiran yang paling jujur: ia tidak menuntut dikenang. Ia cukup tahu bahwa ia pernah ada. Yang abadi bukanlah nama yang terpahat di prasasti. Yang abadi adalah kebaikan kecil yang tak disebut, keputusan sulit yang tak dikisahkan, pelukan yang tak sempat difoto.

Karena yang paling menggetarkan dari manusia bukan kemauannya untuk diingat, tetapi kesediaannya untuk menghilang tanpa menyisakan dendam.

Maka jika suatu hari kau merasa telah dilupakan, namamu tak lagi disebut, dan wajahmu tak dikenali bahkan di rumah sendiri, jangan tergesa marah.

Barangkali justru di situlah engkau bebas—tak lagi menjadi tokoh, tak lagi ditonton, tak lagi ditakar. Engkau tinggal menjadi: senyap, tapi utuh. Itu cukup. Meski dunia lupa, semesta tidak.

Selasa, 08 Juli 2025

Animal Farm

Seekor babi berdiri di atas podium, mengangkat kaki depannya, dan berkata dengan lantang: “Semua binatang adalah setara.” Di hadapannya, kerumunan binatang diam, terpukau. Sebuah revolusi baru saja dimulai. Tapi seperti semua revolusi yang pernah tercatat dalam sejarah manusia, ia lahir dari idealisme dan tumbuh dalam kebohongan.

George Orwell tidak menulis Animal Farm untuk menghibur. Ia menulisnya untuk memperingatkan. Dan karena itu, novel tipis ini bukan sekadar dongeng tentang binatang, tetapi alegori getir tentang bagaimana kekuasaan bekerja—dan lebih dari itu, bagaimana ia menggoda.

Orwell tahu, bahasa bisa menjadi senjata. Dalam Animal Farm, bahasa tidak hanya digunakan untuk menyampaikan ide, tapi untuk membengkokkannya. Ketika babi-babi penguasa mengubah slogan “Semua binatang adalah setara” menjadi “Semua binatang adalah setara, tetapi beberapa lebih setara daripada yang lain”, kita menyaksikan bagaimana absurditas dapat disulap menjadi doktrin. Dan barangkali, lebih dari itu, bagaimana manusia (atau dalam hal ini: binatang) dapat mempercayai absurditas itu ketika ia disampaikan cukup sering.

Kekuasaan dalam Animal Farm tidak datang dengan tanduk, tapi dengan retorika. Napoleon—si babi yang ambisius—tidak hanya merebut kursi, tapi juga narasi. Ia menghapus sejarah, mengarang kembali masa lalu, dan membungkam suara-suara yang tak sepakat. Ia adalah Stalin dalam bentuk binatang, tapi juga adalah cermin kecil dari banyak pemimpin di dunia nyata: yang datang membawa janji pembebasan, lalu menjelma menjadi tiran yang lebih halus, lebih sopan, dan lebih licik.

Binatang-binatang lain—kuda pekerja, domba yang terus mengembik slogan, ayam-ayam yang memberontak tapi gagal—adalah gambaran dari masyarakat yang terlalu letih untuk berpikir. Mereka adalah simbol dari rakyat yang, dalam kelelahan hidup sehari-hari, menyerahkan nasibnya kepada mereka yang bersuara paling nyaring. Dalam kelelahan itu, kritik menjadi dosa, dan kesetiaan menjadi mata uang kekuasaan.

Tapi Orwell juga menyisipkan ironi yang lebih dalam: bahwa para binatang ini, yang awalnya memberontak terhadap manusia demi kebebasan, justru menciptakan manusia baru dari jenis mereka sendiri. Ketika pada akhir cerita para babi berdiri di meja makan dan mulai berjalan tegak seperti manusia, binatang-binatang lainnya tak bisa lagi membedakan mana manusia, mana babi.

Dan di situlah Animal Farm menjadi abadi. Ia bukan sekadar cerita tentang komunisme Soviet. Ia adalah kisah tentang bagaimana idealisme bisa dipelintir oleh ambisi. Tentang bagaimana revolusi bisa menjadi ladang baru bagi para penguasa, dan tentang bagaimana rakyat bisa lupa mengapa mereka dulu melawan.

Mungkin yang paling menyedihkan dari Animal Farm adalah kenyataan bahwa novel ini tetap relevan. Ia tidak menua. Ia seperti cermin kusam yang selalu bisa kita arahkan ke wajah siapa pun yang sedang berkuasa. Dan barangkali, juga ke wajah kita sendiri—yang terlalu mudah melupakan, terlalu cepat memaafkan, dan terlalu malas untuk bertanya.

Karena seperti kata Orwell, kebohongan politik hanya bisa tumbuh subur di tanah yang subur dengan pelupa.

Senin, 07 Juli 2025

Mengenangmu

Di sela duka yang tak selesai.

Kematian tak pernah benar-benar datang seperti pencuri. Ia lebih menyerupai tamu tua yang sabar menunggu, duduk diam di beranda, menunggu kita siap membuka pintu. Tapi apakah kita pernah siap? Aku tidak. Tidak saat melihatmu terbaring dalam diam, tidak saat tanganmu tak lagi menggenggam, dan tidak saat dunia terasa terlalu luas karena kehilanganmu di dalamnya.

Dan kini, setelah semuanya menjadi sunyi, aku mengingatmu—bukan sebagai sosok yang hilang, tapi sebagai kehadiran yang terlalu penuh untuk dilenyapkan waktu. Kau, bukan hanya kenangan. Kau adalah bagian dari bahasa yang kugunakan untuk mencintai dunia. Dan kini, saat kata-kata menjadi terlalu sempit untuk menampung perasaan, aku menulis ini, seperti orang yang menaburkan bunga ke laut: tak berharap kembali, hanya berharap diterima.

Orang berkata waktu menyembuhkan. Tapi mereka tidak tahu bahwa waktu justru memperdalam luka. Ia membuat ingatan menjadi tajam, seperti pisau yang perlahan mengiris. Hari-hari tanpamu bukanlah pemulihan, tapi pengulangan rasa kehilangan yang tak henti-henti. Dalam tidurku, kau hadir tanpa tubuh. Dalam bangunku, kau absen namun tak pernah pergi.

Ada kalanya aku merasa kau hanya sedang bepergian, seperti dulu saat kau pamit ke sekolah, atau saat kau pulang dari tempat ibadah. Tapi malam datang, dan tak ada pintu yang terbuka. Tidak ada langkah yang datang dari dapur. Hanya keheningan yang kian dalam, menelan detik-detik yang terlalu panjang.

Kita dulu percaya bahwa cinta adalah bentuk kecil dari kekekalan. Kita mengucapkannya di altar, dalam doa, dalam sisa-sisa kecupan pagi. Tapi kini aku mengerti, bahwa cinta justru adalah keberanian untuk tetap hidup dalam ketiadaan. Dan kau, lebih dulu mengajarkannya padaku: bagaimana mencintai tanpa harus memiliki, bagaimana pergi tanpa benar-benar meninggalkan.

Aku tahu, kau tidak hilang. Aku tahu, dalam semesta yang tak terukur ini, ada bagian dari dirimu yang tetap hidup. Di suara angin yang menyentuh jendela. Di cahaya pagi yang merembes ke kamar tidur kita. Di setiap upaya kecilku untuk tetap menjadi manusia, meski setengah jiwaku telah pergi bersamamu.

Keabadian bukanlah surga seperti yang dikhotbahkan banyak orang. Keabadian adalah saat seseorang tetap hidup dalam ingatan orang lain. Dan kau, telah menjadi bagian dari keabadianku. Aku membawamu ke mana pun aku melangkah—bukan sebagai beban, tapi sebagai cahaya yang tak pernah padam.

Seseorang pernah berkata bahwa cinta sejati adalah kesediaan untuk melihat yang kita cintai bersemayam dalam yang tak terlihat. Maka hari ini, aku menatap langit, dan percaya kau ada di sana—bukan sebagai bintang, bukan sebagai bayangan, tetapi sebagai doa yang telah menemukan jawabannya.

Dan aku, yang masih tertinggal di dunia ini, akan terus menulis namamu. Bukan di batu nisan, tapi di setiap laku, di setiap kasih yang kutebarkan kepada dunia, karena aku tahu, mengenangmu bukan tentang menolak kehilangan, melainkan tentang belajar hidup dengan setengah hati yang telah menetap di keabadian.

Minggu, 06 Juli 2025

Gereja

Gereja, seperti semua institusi yang menyebut nama Tuhan, selalu menyimpan paradoks. Ia dibangun atas nama kasih, tapi kadang memisahkan. Ia memanggil umat untuk bersatu, tapi kadang menyusun hierarki. Ia mengangkat salib sebagai lambang pengorbanan, tapi tak jarang memamerkan kuasa.

Kita mengenalnya sebagai rumah ibadah, tempat orang-orang berkumpul dalam kidung dan doa. Tapi juga tempat di mana suara-suara tertentu lebih didengar daripada yang lain. Gereja seharusnya menjadi ruang suci—sanctum—di mana manusia menanggalkan egonya. Tapi, sebagaimana semua ruang yang ditempati manusia, ia pun tak lepas dari sejarah yang berliku, bahkan luka.

Sejarah gereja adalah sejarah tubuh dan kuasa. Sejak Konstantinus mengangkat Kristen sebagai agama resmi Kekaisaran Romawi, gereja berubah dari sekadar komunitas pengikut menjadi institusi politik. Ia memiliki tanah, tentara, dan kadang—ironisnya—senjata. Dari Konsili Nicea hingga pengadilan inkuisisi, dari reformasi Luther hingga Vatikan modern, gereja terus bergulat dengan satu pertanyaan yang tak kunjung selesai: bagaimana membicarakan Tuhan tanpa merampas manusia?

Dan mungkin itu yang menjadi persoalan mendasar: bahwa setiap kali kekudusan dilembagakan, ia cenderung beku. Kasih yang seharusnya bebas, dijadikan doktrin. Iman yang mestinya bergerak, dijadikan sistem. Maka Tuhan pun, yang dalam Injil datang sebagai bayi miskin dan mati sebagai penjahat, kini diperkenalkan lewat tata ibadah dan seragam liturgi. Ia menjadi formal, bahkan administratif.

Kita hidup di zaman ketika gereja-gereja menjelma gedung-gedung megah, lengkap dengan proyektor, musik elektronik, dan pengkhotbah yang tampil layaknya selebritas rohani. Tuhan, dalam banyak khotbah, terdengar seperti manajer sukses, dan jemaat seperti konsumen yang harus “diberkati”. Doa berubah menjadi permintaan. Ibadah menjadi hiburan. Dan iman, sayangnya, menjadi transaksi.

Kritik ini bukan untuk membubarkan gereja. Tapi justru untuk mengingatkan: bahwa gereja, pada hakikatnya, bukan bangunan, bukan sistem, bukan bahkan liturgi. Gereja adalah kumpulan manusia yang saling menanggung. Yang duduk bersama dalam perjamuan sederhana. Yang meratap bersama dalam kesunyian tanpa panggung. Yang menolak kekuasaan atas nama kasih, dan merayakan kasih yang tak butuh pengesahan.

Gereja yang sejati mungkin tak selalu ramai. Ia bisa hadir di kamar kecil seorang ibu yang berdoa dalam bisu. Ia bisa hidup di tenda pengungsian, di mana sekelompok orang menyanyikan mazmur tanpa alat musik. Ia bisa muncul dalam pelukan pada seorang anak yang kehilangan. Karena gereja, pada dasarnya, adalah tubuh yang saling menjaga luka satu sama lain.

Tentu, kita tak bisa melepaskan gereja dari waktu. Ia akan selalu berubah. Ia akan selalu terancam oleh kehendak mengatur lebih dari menyembah. Tapi justru di situlah iman diuji: bukan dalam kemenangan, tapi dalam pengakuan bahwa kita pun bisa keliru.

Dan bila gereja tak mampu mengakui itu—maka mungkin yang tinggal hanya bangunannya, bukan jiwanya.

Kamis, 03 Juli 2025

Nuklir

Kemajuan tak selalu searah dengan kebijaksanaan.

Nuklir. Kata yang lahir dari laboratorium fisika dan tumbuh menjadi mitos geopolitik. Ia adalah anak kandung dari sains dan kekuasaan, dari rasa ingin tahu dan rasa takut. Di tangan yang satu, ia menjadi energi bersih. Di tangan yang lain, ia menjadi senjata pemusnah massal. Tapi di antara kedua tangan itu, yang tercecer adalah nurani.

Dari Hiroshima dan Nagasaki, kita belajar bahwa satu kilatan cahaya bisa menghapus seluruh kota. Tapi lebih menyakitkan dari kehancuran fisik adalah keheningan setelahnya. Tak ada lagi jeritan, hanya debu dan bayangan tubuh yang membatu di dinding. Di situlah nuklir menjadi paradoks: ia begitu kuat, sampai-sampai dunia takut menggunakannya lagi.

Namun, takut tidak berarti mundur. Dunia justru semakin merayunya. Negara-negara berlomba mengayunkan centrifuge. Bukan untuk perang, katanya, melainkan untuk "penjagaan". Dan di sinilah yang menggelikan—dan mengerikan. Energi nuklir dipromosikan sebagai penyelamat iklim, tapi di bawah tanah, hulu ledaknya disimpan rapi, cukup untuk menghanguskan dunia berkali-kali.

Ketika manusia menciptakan sesuatu yang terlalu besar untuk dikendalikan, tapi terlalu menggoda untuk dilepaskan. Seperti Faust yang menjual jiwanya pada setan, kita menukar ketakutan akan kiamat dengan stabilitas politik. Maka, yang disebut “deteren nuklir” sebenarnya adalah ancaman yang disepakati.

Apakah kita masih bisa percaya pada rasionalitas negara-negara pemilik senjata nuklir? Atau sebenarnya yang menguasai bukan nalar, tapi rasa gentar kolektif? Ketakutan itu membuat kita menunduk pada logika kekuatan. “Kalau bukan kita yang punya, mereka yang punya,” begitu kata diplomasi. Dan di situlah moralitas disingkirkan, diganti strategi.

Tentu kita bisa bicara soal teknologi nuklir yang ramah: pembangkit listrik tenaga nuklir, terapi radiasi untuk kanker, pengawetan pangan, dan sebagainya. Tapi nuklir, seperti semua kekuatan besar, menyimpan ambiguitas yang tak bisa diseterilkan. Dalam satu partikel yang dibelah, tersimpan janji terang dan potensi kiamat.

Dan hari ini, nuklir tidak lagi hanya berada di bawah kunci dan sandi peluncuran. Ia bisa jadi target serangan, bisa bocor karena kelalaian, bisa jatuh ke tangan yang salah. Dunia menyimpan teknologi ini di lemari besi, tapi lupa bahwa besi pun bisa berkarat. Seperti di Chernobyl dan Fukushima, yang dibutuhkan bukan niat jahat, tapi hanya satu kesalahan manusia—dan sejarah pun berubah.

Kita sering berkata bahwa kekuatan besar membutuhkan tanggung jawab besar. Tapi tanggung jawab tak cukup dalam bentuk perjanjian internasional. Ia butuh kesadaran bahwa ada batas yang tak layak dilanggar—meski secara teknis mungkin. Dan barangkali, yang tak kalah penting, adalah kemampuan untuk berhenti.

Mungkin karena itu, nuklir bukan sekadar teknologi. Ia adalah cermin. Tentang sejauh mana manusia berani menatap hasil ciptaannya, dan berkata: cukup.

Mungkin dunia tak akan kiamat karena nuklir. Tapi bisa saja ia perlahan membusuk dalam ketakutan yang abadi—di mana damai bukan karena kasih, tapi karena semua orang memegang pelatuk yang sama.