Jika belum, Anda jelas belum membaca Sapiens karya Yuval Noah Harari. Buku ini, dengan sangat tidak sopan, membongkar rahasia terbesar peradaban kita: bahwa seluruh sejarah manusia dibentuk oleh kemampuan kita menyebarkan selentingan, gosip, dan dongeng pengantar tidur.
Dahulu kala, nenek moyang kita berkeliaran di savana tanpa pakaian, sibuk menghindar dari incaran macan tutul. Lalu, tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul: Bagaimana kalau kita pura-pura percaya pada hal-hal yang sebenarnya tidak ada?
Seketika itu juga, lahirlah peradaban.
Harari menunjukkan bahwa rahasia keberhasilan Homo sapiens menaklukkan planet ini bukanlah otot yang kuat atau taring yang tajam, melainkan Imajinasi Kolektif. Kita menciptakan agama, negara, hak asasi manusia, hingga Perseroan Terbatas (PT). Coba Anda lemparkan selembar uang kertas $100 ke dalam kandang simpanse. Simpanse itu akan mengunyahnya atau membuangnya ke lumpur. Namun, berikan uang itu kepada manusia, dan mereka siap saling sikut, bekerja jam lembur, atau bahkan berperang demi selembar kertas bertuliskan angka tersebut. Mengapa? Karena kita semua sepakat untuk percaya pada dongeng yang sama.
Lalu datanglah Revolusi Pertanian. Jika buku sejarah sekolah mengagungkannya sebagai puncaknya kemajuan manusia, Harari justru menyebutnya sebagai penipuan terbesar sepanjang sejarah. Kita mengira telah menjinakkan gandum, padahal gandumlah yang menjinakkan kita. Sebelum ada gandum, manusia hidup santai, berburu, mengumpulkan buah, dan punya banyak waktu luang untuk bersantai. Setelah gandum datang, kita mendadak harus bekerja dari terbit hingga terbenamnya matahari, sakit punggung karena mencangkul, dan menetap di satu tempat hanya demi melayani sebatang rumput yang rewel.
Hari ini, dongeng kita telah berevolusi dari dewa-dewa Olimpus menjadi algoritma dan pasar bebas. Kita dengan bangga merasa sebagai penguasa rantai makanan, padahal kita hanyalah budak dari fiksi yang kita buat sendiri.
Jadi, saat nanti malam Anda lembur demi membayar cicilan rumah atau membeli saham perusahaan rintisan yang belum tentu berwujud, tersenyumlah. Ingatlah bahwa Anda sedang menjalankan tradisi tertua Homo sapiens: menukar keringat demi sebuah cerita rekaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar