Rabu, 11 Juni 2025

BPMJ (Badan Pekerja Majelis Jemaat)

BPMJ. Nama itu terdengar administratif, nyaris teknokratis. Badan Pekerja Majelis Jemaat. Sebuah lembaga di tubuh gereja Protestan yang, secara struktur, adalah urat nadi pengelolaan jemaat. Tapi di antara kata “badan” dan “pekerja,” yang sering hilang justru denyut pelayanannya.

Di atas kertas, BPMJ adalah perwujudan dari teologi presbiterial: gereja dipimpin secara kolektif, bukan oleh satu orang. Pendeta, Penatua, dan Diaken duduk bersama, merumuskan arah. Tidak ada imam tunggal, tidak ada takhta. Yang ada: meja persekutuan. Tapi kita tahu, meja pun bisa menjadi panggung.

Dalam praktiknya, BPMJ kadang lebih mirip kabinet mini. Ada agenda-agenda, notulen, voting, dan, tentu saja, dinamika kekuasaan. Yang membedakan dari politik di luar hanyalah dekorasi rohani: ayat-ayat disisipkan di awal rapat, doa ditutupkan sebelum perbedaan membeku. Tapi siapa pun yang pernah berada di dalam BPMJ tahu, tak semua keputusan bersumber dari Roh Kudus. Kadang dari logika politik kecil: siapa dekat dengan siapa, siapa diam demi damai, siapa bicara demi pamrih.

Kita jarang bertanya: mengapa gereja memerlukan "badan pekerja"? Apakah pekerjaan Tuhan sedemikian administratifnya hingga memerlukan struktur sekompleks itu? Atau, justru karena manusia yang membawa nama Tuhan cenderung tak teratur, maka struktur dibentuk sebagai pagar?

BPMJ, dalam fungsinya yang ideal, adalah jantung pelayanan. Ia bukan ruang kontrol, tapi ruang koordinasi. Ia bukan tempat untuk merasa berkuasa, tapi untuk saling menanggung. Namun godaan terbesar lembaga ini justru datang dari dalam: keinginan untuk mengatur, bukan mengabdi. Untuk menguasai tafsir, bukan mendengarkan luka.

Yang paling rawan adalah ketika BPMJ mulai melupakan jemaatnya. Ketika rapat-rapat menjadi tujuan, bukan alat. Ketika ketentuan menjadi lebih penting dari kehadiran. Ketika jadwal pelayanan lebih rapi dari relasi antar manusia. Maka gereja pun berubah pelan-pelan: dari komunitas iman menjadi lembaga yang sibuk mengurus dirinya sendiri.

Ada Penatua yang lebih hafal Program dan Anggaran ketimbang nama-nama jemaat yang dalam pergumulan. Ada Diaken yang lebih sigap mengatur keuangan daripada menemui jemaat yang butuh pertolongan. Ada Pendeta yang lebih cepat berada di tempat sukacita daripada menyentuh tangan jemaat yang sekarat.

Ironisnya, semua itu dilakukan demi efisiensi, demi ketertiban, demi “kesaksian yang baik.” Tapi di tengah ketertiban itu, kasih kadang kehilangan tempat.

Padahal gereja—dalam akar katanya, Ekklesia—bukan institusi, melainkan pertemuan. Yang lebih penting dari rapat adalah relasi. Yang lebih utama dari keputusan adalah kehadiran. Yang lebih bermakna dari program kerja adalah duduk bersama tanpa agenda.

Selasa, 10 Juni 2025

Mati

Kematian, kata Chairil Anwar, adalah sesuatu yang datang “sendiri / dan tak dikenal.” Ia seperti ketukan di pintu yang tak pernah dijadwalkan. Dan tak ada rumah yang benar-benar siap menerimanya.

Dalam sejarah manusia, tak ada tema yang lebih sering dielakkan tapi sekaligus paling tak terelakkan. Kita menyebutnya dengan banyak nama: wafat, meninggal, berpulang. Tapi dalam segala perhalusan itu, kita tahu: mati adalah peristiwa yang mencabut kita dari segala yang akrab—waktu, tubuh, cinta.

Namun yang menarik, mati tak hanya menyisakan duka. Ia juga menyisakan keteraturan. Di negeri ini, kematian adalah urusan administratif. Ada surat keterangan, akta, bahkan kadang tarif penguburan. Di gereja, di masjid, di kantor kelurahan, mati adalah prosedur. Seolah setelah segalanya berakhir, yang tersisa hanyalah pengarsipan.

Tapi barangkali yang paling pelik dari mati bukan lenyapnya tubuh, melainkan apa yang tinggal setelahnya. Dalam banyak kebudayaan, orang mati tak pernah benar-benar mati. Ia terus hadir, sebagai bayang-bayang, kenangan, kadang bahkan beban. Kita mendoakan mereka, mengingat mereka, kadang berselisih tentang warisan mereka. Mati, anehnya, bisa memperpanjang hidup dalam bentuk yang lain: trauma, kerinduan, atau pertanyaan.

Dalam masyarakat modern yang sibuk merayakan kehidupan, mati adalah kegagalan. Kegagalan medis. Kegagalan keamanan. Kegagalan doa. Maka kita menyembunyikannya. Rumah sakit dibangun untuk menyekat kematian dari pandangan umum. Kuburan diletakkan jauh dari pusat kota. Kita belajar menghindar, bukan berdamai.

Tapi barangkali karena itulah mati menjadi semakin menakutkan—karena kita tak lagi mengizinkannya menjadi bagian dari hidup. Padahal segala yang hidup akan menyusul. Bahkan pohon yang paling tinggi pun akan tumbang. Bahkan bintang pun akan padam.

Beberapa filsuf mengatakan: hanya dengan mengingat kematian, kita benar-benar hidup. Karena saat kita tahu segalanya akan berakhir, kita mulai mencintai hal-hal kecil: secangkir teh, udara pagi, suara anak yang tertawa. Mati, dalam pengertian itu, bukan musuh. Ia adalah cermin: yang menunjukkan betapa fana segalanya, dan karena itu betapa berharganya.

Tapi kematian juga bisa dibungkam oleh angka. Ketika ratusan tewas dalam bencana, dalam perang, dalam kelalaian, kita menyebutnya “korban jiwa.” Dan dalam istilah itu, yang paling hilang justru jiwa itu sendiri. Nama berubah jadi statistik. Kesedihan menjadi laporan. Kita berhenti menangis, dan mulai mengutip data.

Maka barangkali yang paling menyedihkan dari kematian adalah ketika ia dianggap biasa. Ketika seseorang mati, dan kita hanya bergumam pelan, lalu melanjutkan pekerjaan. Ketika seorang pengungsi mati tenggelam, dan kita hanya melihatnya sebagai berita. Ketika seorang tahanan mati dalam sel, dan kita menyebutnya “risiko sistem.”

Padahal setiap mati adalah dunia yang runtuh. Seorang anak kehilangan ibu. Sebuah rumah kehilangan suara. Seekor anjing menunggu di depan pintu yang tak akan terbuka lagi. Mati, dalam diamnya, mengguncang yang tinggal hidup.

Senin, 09 Juni 2025

Pentakosta

Pentakosta adalah tentang lidah-lidah api. Tentang bahasa yang mendadak dimengerti lintas bangsa. Tentang tiupan angin dari langit yang merobek rutinitas para murid yang resah. Dan murid-murid berbicara dalam bahasa yang bukan milik mereka, tapi dimengerti semua orang. Tapi juga, pada akhirnya, tentang keberanian berkata—bukan hanya dalam bahasa orang lain, tapi dalam suara diri yang paling jujur.

Ia adalah sebuah peristiwa yang tak tertib. Roh Kudus turun, dan semua yang mapan mendadak porak-poranda. Hierarki dibuyarkan, tembok bahasa runtuh, dan yang semula hanya berani berdoa dalam diam kini berbicara kepada dunia.

Kisah itu begitu dramatis, nyaris teatrikal. Tapi seperti banyak peristiwa rohani, tafsirnya beraneka. Di satu sisi, Pentakosta adalah momentum: sebuah letupan awal dari Gereja yang bergerak. Di sisi lain, ia menjadi simbol kekuasaan spiritual, yang kemudian diklaim, dimiliki, dan dikelola.

Tetapi di balik keramaian itu, kita bisa bertanya: apakah Roh Kudus masih bicara dalam bahasa yang bisa dimengerti semua orang? Ataukah kini Ia hanya bersuara dalam bahasa eksklusif gereja—yang tidak semua peka menangkapnya?

Sebab Roh tidak selalu datang dalam dentum. Ia juga hadir dalam bisik. Dalam kelelahan seseorang yang tetap berdoa meski tak tahu apakah didengar. Dalam pengampunan yang tidak diumumkan. Dalam air mata yang jatuh diam-diam.

Barangkali kita perlu ingat: lidah-lidah api itu turun kepada semua. Bukan hanya kepada pemimpin, tapi juga kepada mereka yang tidak dikenal sejarah. Roh Kudus, dalam teks Kisah Para Rasul, adalah Roh yang egaliter. Ia tak bisa diperdagangkan, dipolitisasi, apalagi dimiliki satu denominasi saja.

Pentakosta seharusnya tentang keterbukaan: ketika Roh menjangkau tanpa sekat budaya, ras, atau struktur. Tapi dalam praktiknya, banyak gereja justru mempersempitnya. Bahasa roh dijadikan syarat kesalehan. Mereka yang tidak "dipenuhi" dianggap belum sepenuhnya percaya. Maka Roh Kudus pun, ironisnya, dibatasi oleh teologi institusional.

Ada pula paradoks yang mencolok: semangat Pentakosta sering tidak menyentuh dunia luar. Ia menjadi pesta internal. Gereja penuh semangat berdoa dalam bahasa roh, tapi bisu melihat ketidakadilan di luar pintu. Lidah menari dalam ibadah, tapi kelu saat menghadapi kemiskinan, korupsi, atau kekerasan yang dilembagakan.

Roh yang turun di Yerusalem dulu justru mendorong para murid keluar—berjalan, bersaksi, menyeberang batas. Tapi kini, banyak yang justru berlindung dalam tembok rohani, membangun komunitas yang hanya berbicara pada dirinya sendiri. Mereka berkata "Tuhan hadir," tapi tak menjawab ketika dunia bertanya: "Di mana?"

Barangkali yang perlu kita renungkan bukan soal apakah Roh Kudus masih bekerja, tapi apakah kita masih mendengarkannya tanpa syarat. Apakah kita masih siap terbakar oleh nyala yang tak menyala-nyala, tapi membersihkan. Apakah kita bisa percaya bahwa Pentakosta bukan tentang efek panggung, tapi tentang keberanian berkata benar, dalam bahasa siapa pun, kepada siapa pun.