Selasa, 10 Juni 2025

Mati

Kematian, kata Chairil Anwar, adalah sesuatu yang datang “sendiri / dan tak dikenal.” Ia seperti ketukan di pintu yang tak pernah dijadwalkan. Dan tak ada rumah yang benar-benar siap menerimanya.

Dalam sejarah manusia, tak ada tema yang lebih sering dielakkan tapi sekaligus paling tak terelakkan. Kita menyebutnya dengan banyak nama: wafat, meninggal, berpulang. Tapi dalam segala perhalusan itu, kita tahu: mati adalah peristiwa yang mencabut kita dari segala yang akrab—waktu, tubuh, cinta.

Namun yang menarik, mati tak hanya menyisakan duka. Ia juga menyisakan keteraturan. Di negeri ini, kematian adalah urusan administratif. Ada surat keterangan, akta, bahkan kadang tarif penguburan. Di gereja, di masjid, di kantor kelurahan, mati adalah prosedur. Seolah setelah segalanya berakhir, yang tersisa hanyalah pengarsipan.

Tapi barangkali yang paling pelik dari mati bukan lenyapnya tubuh, melainkan apa yang tinggal setelahnya. Dalam banyak kebudayaan, orang mati tak pernah benar-benar mati. Ia terus hadir, sebagai bayang-bayang, kenangan, kadang bahkan beban. Kita mendoakan mereka, mengingat mereka, kadang berselisih tentang warisan mereka. Mati, anehnya, bisa memperpanjang hidup dalam bentuk yang lain: trauma, kerinduan, atau pertanyaan.

Dalam masyarakat modern yang sibuk merayakan kehidupan, mati adalah kegagalan. Kegagalan medis. Kegagalan keamanan. Kegagalan doa. Maka kita menyembunyikannya. Rumah sakit dibangun untuk menyekat kematian dari pandangan umum. Kuburan diletakkan jauh dari pusat kota. Kita belajar menghindar, bukan berdamai.

Tapi barangkali karena itulah mati menjadi semakin menakutkan—karena kita tak lagi mengizinkannya menjadi bagian dari hidup. Padahal segala yang hidup akan menyusul. Bahkan pohon yang paling tinggi pun akan tumbang. Bahkan bintang pun akan padam.

Beberapa filsuf mengatakan: hanya dengan mengingat kematian, kita benar-benar hidup. Karena saat kita tahu segalanya akan berakhir, kita mulai mencintai hal-hal kecil: secangkir teh, udara pagi, suara anak yang tertawa. Mati, dalam pengertian itu, bukan musuh. Ia adalah cermin: yang menunjukkan betapa fana segalanya, dan karena itu betapa berharganya.

Tapi kematian juga bisa dibungkam oleh angka. Ketika ratusan tewas dalam bencana, dalam perang, dalam kelalaian, kita menyebutnya “korban jiwa.” Dan dalam istilah itu, yang paling hilang justru jiwa itu sendiri. Nama berubah jadi statistik. Kesedihan menjadi laporan. Kita berhenti menangis, dan mulai mengutip data.

Maka barangkali yang paling menyedihkan dari kematian adalah ketika ia dianggap biasa. Ketika seseorang mati, dan kita hanya bergumam pelan, lalu melanjutkan pekerjaan. Ketika seorang pengungsi mati tenggelam, dan kita hanya melihatnya sebagai berita. Ketika seorang tahanan mati dalam sel, dan kita menyebutnya “risiko sistem.”

Padahal setiap mati adalah dunia yang runtuh. Seorang anak kehilangan ibu. Sebuah rumah kehilangan suara. Seekor anjing menunggu di depan pintu yang tak akan terbuka lagi. Mati, dalam diamnya, mengguncang yang tinggal hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar