Ia adalah sebuah peristiwa yang tak tertib. Roh Kudus turun, dan semua yang mapan mendadak porak-poranda. Hierarki dibuyarkan, tembok bahasa runtuh, dan yang semula hanya berani berdoa dalam diam kini berbicara kepada dunia.
Kisah itu begitu dramatis, nyaris teatrikal. Tapi seperti banyak peristiwa rohani, tafsirnya beraneka. Di satu sisi, Pentakosta adalah momentum: sebuah letupan awal dari Gereja yang bergerak. Di sisi lain, ia menjadi simbol kekuasaan spiritual, yang kemudian diklaim, dimiliki, dan dikelola.
Tetapi di balik keramaian itu, kita bisa bertanya: apakah Roh Kudus masih bicara dalam bahasa yang bisa dimengerti semua orang? Ataukah kini Ia hanya bersuara dalam bahasa eksklusif gereja—yang tidak semua peka menangkapnya?
Sebab Roh tidak selalu datang dalam dentum. Ia juga hadir dalam bisik. Dalam kelelahan seseorang yang tetap berdoa meski tak tahu apakah didengar. Dalam pengampunan yang tidak diumumkan. Dalam air mata yang jatuh diam-diam.
Barangkali kita perlu ingat: lidah-lidah api itu turun kepada semua. Bukan hanya kepada pemimpin, tapi juga kepada mereka yang tidak dikenal sejarah. Roh Kudus, dalam teks Kisah Para Rasul, adalah Roh yang egaliter. Ia tak bisa diperdagangkan, dipolitisasi, apalagi dimiliki satu denominasi saja.
Pentakosta seharusnya tentang keterbukaan: ketika Roh menjangkau tanpa sekat budaya, ras, atau struktur. Tapi dalam praktiknya, banyak gereja justru mempersempitnya. Bahasa roh dijadikan syarat kesalehan. Mereka yang tidak "dipenuhi" dianggap belum sepenuhnya percaya. Maka Roh Kudus pun, ironisnya, dibatasi oleh teologi institusional.
Ada pula paradoks yang mencolok: semangat Pentakosta sering tidak menyentuh dunia luar. Ia menjadi pesta internal. Gereja penuh semangat berdoa dalam bahasa roh, tapi bisu melihat ketidakadilan di luar pintu. Lidah menari dalam ibadah, tapi kelu saat menghadapi kemiskinan, korupsi, atau kekerasan yang dilembagakan.
Roh yang turun di Yerusalem dulu justru mendorong para murid keluar—berjalan, bersaksi, menyeberang batas. Tapi kini, banyak yang justru berlindung dalam tembok rohani, membangun komunitas yang hanya berbicara pada dirinya sendiri. Mereka berkata "Tuhan hadir," tapi tak menjawab ketika dunia bertanya: "Di mana?"
Barangkali yang perlu kita renungkan bukan soal apakah Roh Kudus masih bekerja, tapi apakah kita masih mendengarkannya tanpa syarat. Apakah kita masih siap terbakar oleh nyala yang tak menyala-nyala, tapi membersihkan. Apakah kita bisa percaya bahwa Pentakosta bukan tentang efek panggung, tapi tentang keberanian berkata benar, dalam bahasa siapa pun, kepada siapa pun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar