Rabu, 18 Juni 2025

Monetisasi

Monetisasi. Kata yang terasa teknokratik, tapi punya nafsu tua: menjadikan apa pun sebagai uang. Kini ia tidak sekadar istilah dalam ekonomi makro atau laporan kas digital. Ia telah menjelma kredo zaman. Dari media sosial hingga mimbar agama, dari kemiskinan hingga kemuliaan, dari cinta hingga kematian—segala sesuatu bisa dijadikan komoditas. Asal viral, bisa dijual.

Di masa lalu, perdagangan menyentuh barang. Kini monetisasi menyentuh makna. Seorang ibu membagikan kisah kehilangan anaknya di TikTok, lalu muncul endorse skincare. Seorang pendeta menyisipkan tautan donasi setelah khotbah tentang kesederhanaan. Seorang penulis puisi—barangkali juga saya—menerima honor untuk kata-kata yang mestinya lahir dari sunyi.

Apakah ini kejahatan? Tidak selalu. Tapi yang menarik: kita makin jarang bertanya kapan sesuatu tak seharusnya diberi harga.

Kita tahu, uang bukan musuh. Tapi monetisasi—jika tidak kita jaga—adalah jalan panjang yang perlahan mengubah motivasi. Yang dulu dilakukan karena cinta, kini dilakukan karena kemungkinan pemasukan. Yang dulu dikerjakan sebagai ibadah, kini dikemas sebagai “konten.” Dan ketika konten adalah raja, maka emosi menjadi tambang. Duka dipotong-potong. Marah disetir algoritma. Yang penting menarik, bukan lagi mendalam.

Nietzsche menulis bahwa nilai tertinggi manusia adalah kemampuannya mencipta makna, bukan menjualnya. Tapi hari ini, penciptaan itu sering ditimbang lewat klik, CPM, dan CTR. Kita bukan hanya bekerja untuk hidup, tapi hidup agar layak dibayar.

Maka batas antara kejujuran dan performa menjadi kabur. Kita tahu seseorang menangis bukan karena kehilangan, tapi karena kamera menyala. Kita tahu seseorang mengucap syukur bukan pada Tuhan, tapi pada audiens. Monetisasi bukan lagi soal transaksi, tapi tentang bagaimana eksistensi harus dipertontonkan agar pantas dihargai.

Saya teringat kata Milan Kundera: “Kehidupan adalah panggung, dan kita semua adalah aktor yang lupa bahwa ada hidup di balik layar.” Di era monetisasi ini, barangkali layar itulah yang hilang. Tak ada lagi ruang di mana kita bisa diam tanpa target. Menulis tanpa follower. Membantu tanpa tagar. Mencintai tanpa update status.

Apakah salah mencari uang dari hal yang kita sukai? Tidak. Tapi barangkali salah jika kita hanya menyukai sesuatu karena bisa dijadikan uang.

Senin, 16 Juni 2025

Beyond Good and Evil

Nietzsche menulis Jenseits von Gut und Böse—Beyond Good and Evil—pada 1886. Tapi gaungnya masih terasa seperti pukulan palu di zaman kita yang penuh slogan moral. Buku itu tidak memberi jawaban, apalagi pelipur lara. Ia menggugat. Ia seperti menyalakan api di altar kepercayaan yang selama ini disucikan tanpa diperiksa: bahwa ada yang disebut “baik,” dan ada yang disebut “jahat”—dan semua itu bisa diketahui dengan pasti.

Nietzsche tidak sedang mempromosikan kejahatan. Tapi ia bertanya, dengan nada sinis dan sekaligus jujur: dari mana datangnya nilai-nilai itu? Apakah “baik” itu sungguh berasal dari kebenaran yang hakiki, atau sekadar hasil kesepakatan, budaya, atau bahkan—yang lebih mengejutkan—rasa takut?

Di situlah Nietzsche berpisah jalan dengan moral Kristen tradisional, dan juga dengan para filsuf sebelumnya. Ia mencium bahwa banyak nilai yang kita agung-agungkan justru lahir dari kelemahan. Bahwa kebaikan, dalam narasi moral umum, sering kali hanya hasil dari kekalahan yang diberi nama baru. Moral budak, kata Nietzsche—moral yang lahir dari mereka yang lemah dan tak berdaya, lalu menyebut kelemahannya itu sebagai “kelembutan,” “kesabaran,” “kasih.”

Apa jadinya jika semua nilai itu dibalik? Jika yang kuat disebut jahat, dan yang tunduk disebut suci? Apakah kita telah keliru membaca sejarah jiwa manusia?


Nietzsche menginginkan semacam revaluasi semua nilai. Ia menghendaki manusia yang tak tunduk pada nilai yang diwariskan, melainkan menciptakan nilai. Der Übermensch—manusia unggul—bukanlah diktator berdarah dingin, tapi seseorang yang berani berkata ya pada kehidupan, dengan segala ambiguitas dan ketelanjangannya. Seseorang yang tidak butuh surga sebagai hadiah, atau neraka sebagai ancaman.

Tapi justru di sanalah dunia kita hari ini terasa seperti paradoks. Kita hidup di era pasca-kebenaran, ketika semua relativisme menjadi mode, ketika moral dipertanyakan dan “narasi besar” dicurigai. Tapi apakah kita sungguh telah melampaui “baik dan jahat”? Atau hanya menggantinya dengan versi yang lebih halus, lebih teknokratik, lebih terselubung?

Kini, “baik” sering diproduksi oleh algoritma. Ditetapkan oleh opini mayoritas. Dikelola oleh sistem rating. Aplikasi pemesanan makanan bisa memberi label “top” pada restoran, dan itu menjadi kebenaran sosial. Kita mengikuti, memberi bintang, memberi suka—tanpa pernah benar-benar menguji apakah yang kita beri label “baik” itu memang pantas.

Mungkin Nietzsche tidak akan terkesan dengan zaman kita. Bukan karena kita terlalu jahat, tapi karena kita terlalu penurut.

Dan barangkali, itu tugas filsafat hari ini: bukan membela apa yang baik, tapi bertanya, untuk siapa ia disebut baik? Dan siapa yang diam-diam menulis kamusnya?

Karena bisa jadi, “baik dan jahat” bukan dua kutub mutlak. Mereka mungkin hanya dua bayangan dari satu cahaya yang tak pernah utuh kita pahami.

Minggu, 15 Juni 2025

Sinode

Sinode. Sebuah kata yang terdengar seperti gema dari altar tua, berlapis dupa dan protokol. Ia bukan sekadar rapat besar gereja, tapi panggung di mana suara-suara iman dikumpulkan, dipadatkan, disahkan—atau kadang, dibungkam dengan lembut.

Dalam struktur gereja Protestan, sinode adalah tubuh pengambilan keputusan tertinggi. Dari sini arah ditentukan: teologi, tata gereja, bahkan nasib seorang pendeta bisa dibicarakan dan disepakati. Tapi dalam ruang-ruang sidang yang disebut “demokratis” itu, seringkali suara yang paling lirih tertinggal di luar.

Ada ironi yang khas dalam sinode: sebuah forum yang seharusnya kolektif, tapi tak jarang dikuasai oleh segelintir suara dominan. Kebebasan untuk berbicara dijamin, tapi siapa yang sungguh mendengar? Ia menyerupai parlemen rohani, tapi tak selalu memiliki oposisi.

Sinode bisa menjadi ruang mulia—tempat di mana gereja merefleksikan misinya di tengah zaman yang bergerak cepat. Tapi ia juga bisa menjadi birokrasi keagamaan yang lamban dan canggung, sibuk merumuskan tata tertib, lupa bahwa iman tak selalu hidup dalam dokumen.

Lebih dari itu, sinode kadang menjadi cermin dari kekuasaan rohani yang tak terbuka pada kritik. Keputusan-keputusannya diklaim lahir dari “doa dan pertimbangan,” tapi acapkali menyisakan luka di antara umat. Tak semua yang “sudah disepakati” berarti “sudah adil.” Konsensus kadang hanya hasil dari kelelahan berpolemik.

Yang paling menyedihkan ialah saat sinode mulai menggantikan iman dengan manajemen, menggantikan penggembalaan dengan pengorganisasian. Gereja dilihat sebagai lembaga, bukan tubuh. Dan keputusan-keputusan rohani mulai diukur dengan efisiensi, bukan belas kasih.

Apakah sinode tak perlu? Tentu perlu. Tapi ia perlu terus diingatkan: bahwa di atas struktur, ada nurani. Bahwa di balik angka suara terbanyak, ada jiwa-jiwa yang ragu, yang takut, yang berbeda pendapat. Dan gereja, bila hendak hidup, tak boleh tuli terhadap yang rapuh.

Ada pendeta yang dimutasi oleh sinode, tapi tak pernah diberi kesempatan bicara. Ada keputusan doktrinal yang ditetapkan, tapi tak pernah disosialisasikan pada jemaat yang bertanya-tanya. Ada perbedaan tafsir yang dianggap sebagai ancaman, bukan kekayaan iman.

Mungkin, sinode bukan tempat untuk “menentukan” Tuhan—karena Tuhan tak bisa dimusyawarahkan. Tapi sinode bisa menjadi ruang untuk menyadari keterbatasan kita sebagai gereja: bahwa keputusan yang benar kadang datang dari diam, dari yang tak ikut sidang, dari hati yang patah tapi terus percaya.