Minggu, 15 Juni 2025

Sinode

Sinode. Sebuah kata yang terdengar seperti gema dari altar tua, berlapis dupa dan protokol. Ia bukan sekadar rapat besar gereja, tapi panggung di mana suara-suara iman dikumpulkan, dipadatkan, disahkan—atau kadang, dibungkam dengan lembut.

Dalam struktur gereja Protestan, sinode adalah tubuh pengambilan keputusan tertinggi. Dari sini arah ditentukan: teologi, tata gereja, bahkan nasib seorang pendeta bisa dibicarakan dan disepakati. Tapi dalam ruang-ruang sidang yang disebut “demokratis” itu, seringkali suara yang paling lirih tertinggal di luar.

Ada ironi yang khas dalam sinode: sebuah forum yang seharusnya kolektif, tapi tak jarang dikuasai oleh segelintir suara dominan. Kebebasan untuk berbicara dijamin, tapi siapa yang sungguh mendengar? Ia menyerupai parlemen rohani, tapi tak selalu memiliki oposisi.

Sinode bisa menjadi ruang mulia—tempat di mana gereja merefleksikan misinya di tengah zaman yang bergerak cepat. Tapi ia juga bisa menjadi birokrasi keagamaan yang lamban dan canggung, sibuk merumuskan tata tertib, lupa bahwa iman tak selalu hidup dalam dokumen.

Lebih dari itu, sinode kadang menjadi cermin dari kekuasaan rohani yang tak terbuka pada kritik. Keputusan-keputusannya diklaim lahir dari “doa dan pertimbangan,” tapi acapkali menyisakan luka di antara umat. Tak semua yang “sudah disepakati” berarti “sudah adil.” Konsensus kadang hanya hasil dari kelelahan berpolemik.

Yang paling menyedihkan ialah saat sinode mulai menggantikan iman dengan manajemen, menggantikan penggembalaan dengan pengorganisasian. Gereja dilihat sebagai lembaga, bukan tubuh. Dan keputusan-keputusan rohani mulai diukur dengan efisiensi, bukan belas kasih.

Apakah sinode tak perlu? Tentu perlu. Tapi ia perlu terus diingatkan: bahwa di atas struktur, ada nurani. Bahwa di balik angka suara terbanyak, ada jiwa-jiwa yang ragu, yang takut, yang berbeda pendapat. Dan gereja, bila hendak hidup, tak boleh tuli terhadap yang rapuh.

Ada pendeta yang dimutasi oleh sinode, tapi tak pernah diberi kesempatan bicara. Ada keputusan doktrinal yang ditetapkan, tapi tak pernah disosialisasikan pada jemaat yang bertanya-tanya. Ada perbedaan tafsir yang dianggap sebagai ancaman, bukan kekayaan iman.

Mungkin, sinode bukan tempat untuk “menentukan” Tuhan—karena Tuhan tak bisa dimusyawarahkan. Tapi sinode bisa menjadi ruang untuk menyadari keterbatasan kita sebagai gereja: bahwa keputusan yang benar kadang datang dari diam, dari yang tak ikut sidang, dari hati yang patah tapi terus percaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar