Pernahkah Anda merasa ngeri menyadari bahwa kesadaran Anda hanyalah "kecelakaan" kimiawi yang sangat singkat dalam bentang waktu kosmik yang nyaris abadi? Brian Greene dalam Until the End of Time mengajak kita melakukan perjalanan terjauh: dari dentuman besar menuju kesunyian mutlak, sambil menyeruput secangkir nihilisme yang manis.
Sejak awal, naskah alam semesta sudah tertulis dengan tinta entropi—hukum yang menyatakan bahwa segala sesuatu akan menuju kekacauan. Namun, di tengah kecenderungan kosmos untuk menjadi berantakan, evolusi justru berhasil merakit struktur yang luar biasa rumit: kita.
Kritik filosofis Greene sangat menohok: kita adalah anomali. Kita terbentuk dari debu bintang yang belajar cara berpikir, namun kemampuan berpikir itu pulalah yang membuat kita sadar bahwa kita sedang menuju kehancuran. Kita berada di "masa keemasan" kosmos di mana cahaya bintang masih cukup terang untuk dilihat, sebelum ekspansi ruang angkasa membuat langit menjadi gelap gulita dan dingin.
Jika sejarah adalah sebuah buku, manusia mungkin hanya menempati satu huruf di halaman terakhir sebelum perpustakaan itu terbakar habis. Greene memprovokasi kita dengan pertanyaan tentang warisan:
• Sekarang: Kita sibuk membangun peradaban, menciptakan seni, dan menulis sejarah.
• Masa Depan: Partikel-partikel penyusun tubuh kita akan tercerai-berai, dan akhirnya, bahkan memori tentang keberadaan kita akan lenyap ditelan hukum fisika.
Lantas, apakah ini berarti hidup itu sia-sia? Greene justru menawarkan sudut pandang yang puitis. Karena kita tahu pesta ini akan berakhir dan lampu-lampu akan dipadamkan, setiap detik kesadaran menjadi sangat mahal. Kita tidak butuh makna dari luar jika kita bisa menciptakan makna sendiri di tengah kesementaraan ini.
Until the End of Time adalah sebuah pengingat bahwa sains tidak menghapus keajaiban; ia hanya mengganti dongeng dengan realitas yang lebih megah sekaligus mengerikan. Kita adalah cara alam semesta untuk mengagumi dirinya sendiri.
Mungkin tugas kita bukan untuk bertahan selamanya, karena itu mustahil. Tugas kita adalah menjadi saksi yang cerdas atas keindahan kosmos selama jendela waktu kita masih terbuka. Sebelum semua atom kita kembali menjadi sunyi, mari kita pastikan kebisingan yang kita buat adalah sebuah simfoni, bukan sekadar teriakan ketakutan.
Jika pada akhirnya semua akan menjadi abu dan ruang hampa, apa yang membuat Anda merasa bahwa hari ini masih layak untuk dijalani?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar