Dalam mahakaryanya, La Peste (Sampar), Albert Camus tidak sedang menulis panduan cara membasmi hama. Dia sedang menulis tentang kita. Ya, kita—makhluk-makhluk yang sangat yakin bahwa hari esok akan selalu ada, sampai akhirnya takdir (atau bakteri Yersinia pestis) mengetuk pintu tanpa permisi.
Ceritanya sederhana tapi bikin frustrasi: Kota Oran dikarantina. Gerbang ditutup. Surat cinta tertahan. Dan tiba-tiba, semua orang jadi religius atau jadi sangat sinis. Camus, dengan gaya dinginnya, memperkenalkan Dr. Rieux—pria yang terlalu sibuk mengobati orang sampai tidak punya waktu untuk mempertanyakan "Kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi?". Bagi Rieux, Tuhan mungkin sedang cuti panjang, dan satu-satunya yang tersisa adalah melakukan tugas sebaik mungkin.
Camus menggunakan wabah sebagai metafora yang sangat provokatif. Sampar itu bisa jadi Nazi, bisa jadi birokrasi yang mencekik, atau bisa jadi rutinitas kantor Anda yang membuat Anda merasa seperti zombi sebelum benar-benar mati.
Ada beberapa tipe manusia saat "sampar" datang menyerang:
1. Si Paneloux: Pastor yang awalnya bilang ini azab Tuhan, tapi kemudian bingung saat melihat anak kecil menderita. Tiba-tiba khotbahnya berubah dari "Kalian berdosa" menjadi "Kita semua bingung".
2. Si Cottard: Penjahat yang justru senang ada wabah. Kenapa? Karena saat semua orang menderita, tidak ada polisi yang punya waktu untuk menangkapnya. Dia adalah prototipe orang yang memancing di air keruh—atau dalam hal ini, berjualan masker palsu di masa pandemi.
3. Si Tarrou: Orang asing yang mencari kedamaian batin dengan cara membantu orang lain, hanya untuk menyadari bahwa menjadi "orang suci" tanpa Tuhan itu melelahkan luar biasa.
Pesan Camus itu pahit: Sampar tidak punya logika. Ia tidak memilih korban berdasarkan amal ibadah. Ia hanya... ada. Dan itulah yang disebut Camus sebagai Absurdisme. Dunia ini tidak punya makna inheren, dan alam semesta sama sekali tidak peduli apakah Anda sudah bayar cicilan atau belum.
Lalu, apa solusinya? Apakah kita harus menyerah dan ikut mati bersama tikus?
"Satu-satunya cara untuk melawan sampar adalah kejujuran," kata Camus melalui Rieux. Kejujuran di sini bukan berarti tidak berbohong saat ditanya "Sudah mandi?", melainkan melakukan pekerjaanmu dengan integritas meskipun kamu tahu akhirnya kita semua akan jadi tanah.
Membaca La Peste sekarang terasa seperti membaca buku harian kolektif kita beberapa tahun lalu. Bedanya, di buku Camus tidak ada TikTok untuk mengalihkan isu.
Camus ingin mengingatkan bahwa sampar tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya bersembunyi di dalam lemari, di bawah tempat tidur, atau di dalam sistem pemerintahan kita, menunggu waktu yang tepat untuk mengirim tikus-tikusnya kembali dan mengajari manusia bahwa mereka sebenarnya tidak sepenting yang mereka kira.
Jadi, sebelum gerbang kota Anda ditutup lagi, mungkin ada baiknya Anda berhenti mengeluh soal koneksi internet yang lambat dan mulai bertanya: "Kalau besok saya dilarang keluar rumah selamanya, apakah saya sudah jadi manusia yang berguna, atau cuma sekadar statistik dalam daftar korban?"
Jangan dijawab sekarang. Simpan saja untuk bahan renungan saat Anda melihat tikus lewat di dapur nanti malam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar