Lalu datanglah seorang pria Jerman abad ke-19 dengan kumis super lebat yang tampak seperti sapu ijuk—namanya Friedrich Nietzsche. Lewat bukunya yang berjudul Beyond Good and Evil (Melampaui Kebajikan dan Kejahatan), dia membawa palu besar dan menghantam kotak-kotak moral kita sampai hancur berkeping-keping.
Nietzsche, dengan gaya provokatifnya yang bikin telinga para pemuka agama merah padam, berbisik: "Hei kawan, bagaimana jika moralitas yang kamu agung-agungkan itu sebenarnya cuma karangan sejarah? Bagaimana jika semua konsep suci itu hanyalah produk dari ketakutan orang-orang lemah yang tidak punya nyali untuk berkuasa?"
Kedengarannya seperti teori konspirasi tingkat dewa, bukan? Tapi mari kita bedah komedi sejarah ini dengan kepala dingin.
Nietzsche membagi moralitas manusia menjadi dua kubu besar: Moralitas Tuan (Master Morality) dan Moralitas Budak (Slave Morality).
Dahulu kala, kaum "Tuan"—para kesatria, bangsawan, dan orang-orang kuat—menentukan bahwa "Baik" adalah segala hal yang agung, kuat, berani, dan bangga. Sedangkan "Buruk" adalah mereka yang lemah, penakut, dan kasihan. Sederhananya: kalau kamu kuat, kamu baik.
Namun, kaum "Budak" yang jumlahnya mayoritas tapi tertindas tentu saja tidak terima dengan aturan main ini. Karena tidak bisa menang bertarung secara fisik, mereka melakukan balas dendam paling jenius dalam sejarah peradaban: Balas Dendam Linguistik.
Mereka memutarbalikkan kamus! Lewat narasi sejarah yang panjang, mereka berkhotbah bahwa menjadi lemah, miskin, menderita, dan mengalah adalah esensi dari "Kebajikan". Sementara menjadi kuat, kaya, bangga, dan berkuasa diubah labelnya menjadi "Jahat".
Nietzsche sedang menelanjangi kita semua. Dia mengatakan bahwa rasa bersalah yang sering membuat Anda susah tidur di malam hari itu bukan karena Anda telah berdosa pada semesta, melainkan karena Anda telah menginternalisasi ketakutan-ketakutan kuno yang diwariskan oleh nenek moyang kita agar kita semua tetap menjadi "domba yang penurut."
Moralitas, pada akhirnya, sering kali hanyalah alat bagi mereka yang tidak berdaya untuk membuat orang-orang kuat merasa berdosa karena telah menjadi kuat. Ini adalah sebuah komedi psikologis di mana singa dipaksa merasa bersalah karena telah memakan rusa, lalu sang rusa tersenyum sambil merasa dirinya paling suci sedunia karena telah pasrah dimakan.
Lalu, apakah setelah membaca Nietzsche kita harus menjadi penjahat? Tentu tidak. Kumis Lebat kita ini hanya ingin kita berhenti menjadi domba yang mengekor tanpa berpikir. Dia menantang kita untuk menciptakan nilai-nilai kita sendiri secara autentik, bukan karena takut masuk neraka sosial bernama "omongan tetangga."
Jadi, sebelum Anda kembali menjadi warga negara yang teladan hari ini, tanyakan pada diri Anda: Apakah Anda berbuat baik karena Anda tulus mencintai kemanusiaan, atau Anda hanya terlalu takut untuk menjadi egois?
Hati-hati dalam menjawab, karena Nietzsche sedang menertawakan isi kepala Anda dari alam kubur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar