Di negeri ini, kita memiliki dua hal yang stoknya tidak akan pernah habis: sumber daya alam dan ayat-ayat suci. Secara logika matematika dasar, perpaduan antara kekayaan bumi yang luar biasa dan moralitas agama yang dijunjung tinggi seharusnya menciptakan sebuah utopia, di mana keadilan sosial adalah menu sarapan sehari-hari. Namun, karena kita adalah bangsa yang tidak suka hal-hal yang terlalu mudah ditebak, kita memilih jalan ninja yang berbeda.
Mari kita bedah anatomi absurditas negeri ini dengan pendekatan filosofis yang ringan namun mengiris hati:
Di negara sekuler yang membosankan, korupsi dianggap sebagai kejahatan luar biasa. Di negeri kita yang religius, korupsi telah berevolusi menjadi semacam sistem "distribusi kekayaan alternatif".
Pejabat kita sangat memahami ajaran agama tentang pentingnya berbagi. Oleh karena itu, ketika ada anggaran triliunan untuk pembangunan, mereka membaginya kepada istri pertama, istri muda, paman, keponakan, dan tentu saja, tukang suap langganan mereka. Ketika ketahuan, mereka tidak lari. Mereka akan tampil di televisi, memakai pakaian yang paling rapi, tersenyum santun, dan meminta masyarakat untuk mendoakan agar mereka "tabah menghadapi ujian Tuhan."
Pernahkah Anda berpikir, mengapa kemiskinan sengaja dipelihara di negeri yang begitu kaya? Jawabannya sangat filosofis. Jika semua orang tiba-tiba menjadi kaya raya dari hasil tambang dan hutan mereka sendiri, lalu siapa yang akan bangun di sepertiga malam untuk menangis dan berdoa meminta berkat?
Pemerintah dan para elite tampaknya memiliki misi mulia untuk menjaga tingkat keimanan masyarakat tetap tinggi. Mereka rela mengambil semua kekayaan tambang, membabat hutan, dan membiarkan rakyat hidup pas-pasan, semata-mata agar rakyat tetap memiliki alasan untuk bersandar kepada Tuhan. Ini adalah pengorbanan elite politik yang sangat jarang diapresiasi!
Mari kita lihat pembagian perannya:
• Tugas Alam: Menyediakan emas, batu bara, dan nikel.
• Tugas Pejabat: Mengurus perizinan dan menguras hasilnya ke rekening luar negeri.
• Tugas Rakyat Jelata: Bersabar, berdoa, memaafkan, dan mencoblos ulang mereka di pemilu berikutnya dengan imbalan kaus partai ukuran all-size.
Kehebatan lain dari perpaduan "Korupsi" dan "Agama" di negeri ini adalah terciptanya carbon offset versi spiritual. Seorang pejabat bisa merampok dana bantuan sosial yang seharusnya masuk ke perut anak-anak gizi buruk, namun ia bisa langsung mencuci nuraninya di akhir pekan dengan menyumbang marmer dari Italia untuk pembangunan rumah ibadah setempat.
Rakyat yang kelaparan akan berdiri di atas marmer hasil korupsi tersebut dan mendoakan kebaikan sang pejabat. Bukankah ini sebuah siklus ekonomi sirkular yang sangat puitis? Korupsi membiayai agama, dan agama memberikan pengampunan instan untuk korupsi. Semua orang menang.
Pada akhirnya, hidup di negeri yang kaya, religius, namun miskin dan korup ini membutuhkan tingkat kewarasan di atas rata-rata. Kita diajarkan untuk tidak terlalu rakus pada harta duniawi, dan ajaran itu berhasil—karena pada kenyataannya, harta duniawi kita memang sudah diambil oleh segelintir elite sebelum kita sempat menyentuhnya.
Jadi, besok pagi, ketika Anda berangkat kerja menembus jalan berlubang akibat aspal yang dikorupsi, tariklah napas dalam-dalam. Tersenyumlah kepada langit. Anda tidak sedang ditindas; Anda sedang ditempa menjadi manusia yang paling siap menghadapi kehidupan akhirat. Biarlah dunia ini dinikmati oleh para pejabat dan oligarki. Lagipula, mengurus mobil sport mewah dan menyimpan uang di Swiss itu sangat melelahkan. Anda harus bersyukur karena dijauhkan dari beban seberat itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar