Selamat datang di negeri Konoha. Di sini, kapal boleh tenggelam, rakyat boleh megap-megap, tetapi perdebatan tentang siapa yang pantas memegang kemudi bisa berlangsung lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan untuk menyelamatkan kapal.
Sungguh sebuah pertunjukan yang luar biasa! Kapal sedang menuju dasar laut, tetapi para penumpangnya yang duduk di ruang VIP tampaknya lebih khawatir kehilangan hak untuk memegang kemudi daripada kehilangan kapal itu sendiri.
Bayangkan sebuah kapal besar. Di lambungnya sudah muncul lubang. Air laut masuk tanpa permisi. Rakyat berlarian mencari ember, gayung, panci, bahkan gelas kopi untuk mengeluarkan air. Ada yang sampai menggunakan kedua tangannya karena tidak punya alat lain. Mereka bekerja sambil cemas, sebab setiap menit air semakin tinggi.
Sementara itu, di ruang VIP, para elite sedang mengadakan rapat penting.
Agendanya? Memastikan apakah nakhoda memiliki ijazah tahan mabuk laut.
Sebagian meminta dokumen asli. Sebagian meragukan tanda tangannya. Yang lain membentuk tim khusus untuk memeriksa apakah sertifikat tersebut diterbitkan oleh lembaga yang berwenang. Ada pula yang mengusulkan seminar nasional tentang standar kompetensi nakhoda di era modern.
Hebat. Air sudah masuk ke ruang mesin, tetapi mereka masih sibuk memeriksa map dokumen.
Barangkali mereka berpikir, kalau ijazah nakhoda terbukti sah, air akan merasa malu lalu keluar sendiri dari kapal. Atau kalau sertifikatnya palsu, laut akan bersedia menunggu sampai proses hukum selesai.
Sayangnya, air tidak mengenal birokrasi. Ia tidak peduli siapa yang menang debat, siapa yang punya gelar akademis, atau siapa yang paling banyak tampil di televisi. Air hanya mengikuti hukum alam: kalau lubangnya tidak ditutup, kapal akan tenggelam.
Di sinilah persoalan sebenarnya. Para elite tampaknya lebih tertarik memenangkan perdebatan daripada menyelesaikan masalah. Mereka sibuk menghitung kesalahan lawan, sementara rakyat menghitung sisa uang untuk membeli beras. Mereka beradu argumentasi tentang siapa yang paling benar, sementara rakyat berjuang agar bulan ini bisa bertahan sampai akhir.
Bagi sebagian elite, politik mungkin permainan catur. Bagi rakyat, politik adalah soal apakah dapur masih bisa mengepulkan asap besok pagi.
Dan yang paling menggelikan, orang-orang yang duduk di ruang VIP itu sering menganggap diri mereka penyelamat kapal. Mereka memberikan komentar tentang teknik menyendok air, mengkritik cara rakyat memegang ember, bahkan memperdebatkan siapa yang paling berjasa mengeluarkan satu gayung air. Padahal, mereka sendiri tidak pernah turun membantu.
Mungkin mereka takut jas mahalnya basah. Atau jangan-jangan, kalau kapal berhasil diselamatkan, mereka kehilangan panggung untuk berpidato tentang betapa berbahayanya kapal yang hampir tenggelam.
Rakyat sudah terlalu lama menderita untuk terus dijadikan penonton dalam pertunjukan semacam ini. Mereka tidak membutuhkan elite yang pandai menciptakan kegaduhan, melainkan pemimpin yang mampu menemukan kebocoran dan menutupnya. Mereka tidak membutuhkan lebih banyak konferensi pers, melainkan keputusan yang membuat kehidupan sedikit lebih layak.
Ijazah tentu penting. Kompetensi nakhoda juga penting. Tetapi semua itu kehilangan makna ketika dipakai sebagai alasan untuk mengabaikan kapal yang sedang tenggelam.
Jangan-jangan, selama ini para elite bukan sedang mencari cara menyelamatkan kapal. Mereka hanya sedang memastikan bahwa sekoci untuk menyelamatkan diri sendiri sudah tersedia. Dan rakyat? Silakan terus menimba air sampai kapal benar-benar tenggelam.
Jadi, silakan lanjutkan perdebatan tentang ijazah, sertifikat, dan kemampuan tahan mabuk laut. Rakyat akan tetap menimba air. Hanya saja, ada satu hal yang mungkin perlu diingat para elite: ketika kapal benar-benar tenggelam, tidak ada satu pun ijazah yang bisa dijadikan pelampung. Dan sayangnya, tak ada satu pun rekomendasi yang bisa mengapungkan kapal yang sudah tenggelam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar