Senin, 30 Juni 2025

ORMAS

Kata “ormas” terdengar seperti singkatan yang biasa—Organisasi Kemasyarakatan. Netral, administratif, bahkan seakan steril dari emosi. Tapi dalam kenyataannya, “ormas” tak jarang membuat jantung sedikit berdebar. Bukan karena semangat sosialnya, tapi karena kadang ia datang bersama intimidasi.

Ormas adalah makhluk yang tumbuh dari semangat kolektivitas. Ia lahir dari hak dasar manusia untuk berkumpul dan berserikat. Ia bisa berbentuk kelompok tani di lereng gunung, komunitas keagamaan di lorong kota, atau sanggar seni di sudut kampung. Tapi seperti banyak hal di negeri ini, yang ideal kerap tergerus oleh yang bising.

Kini, sebagian ormas tak lagi bicara tentang masyarakat, tapi tentang massa. Dan massa, bila tak punya arah, bisa menjelma gerombolan. Maka ormas yang mestinya menjadi perpanjangan suara warga, perlahan-lahan berubah menjadi alat penekan. Mereka datang ke kantor pemerintah, membawa spanduk dan ancaman. Mereka mendatangi pertunjukan, memaksa seniman membungkam. Mereka merasa punya mandat, padahal tak dipilih siapa-siapa.

Apa yang membuat sebagian ormas merasa punya hak untuk mengatur hidup orang lain? Mungkin karena kita terlalu lama membiarkan kekuasaan informal hidup tanpa koreksi. Kita mengira “masyarakat sipil” itu otomatis baik, padahal sipil pun bisa menindas. Apalagi jika dibungkus dalih agama, adat, atau “nilai-nilai luhur bangsa”.

Dalam sejarah kita, ormas pernah punya peran mulia. Mereka mendirikan sekolah saat negara belum hadir. Mereka membela rakyat kecil saat hukum terlalu lambat. Tapi kini, terlalu banyak yang menggunakan nama ormas untuk menagih proyek, mengklaim moral, bahkan menguasai wilayah. Negara pun kerap ambigu: menindak satu, membiarkan yang lain.

Ada ormas yang menyerukan jihad, tapi tak pernah terlihat di daerah bencana. Ada ormas yang bicara tentang kebudayaan, tapi anti-pada seni yang tak mereka pahami. Dan ada pula ormas yang hidup dari kucuran anggaran, namun tak pernah benar-benar transparan kepada publik.

Apakah semua ormas harus dicurigai? Tentu tidak. Tapi semua ormas harus diawasi. Sebab kekuatan sosial tanpa akuntabilitas bisa sama berbahayanya dengan kekuasaan negara yang sewenang-wenang. Dan ketika negara mulai merasa perlu berkompromi dengan tekanan ormas, demokrasi mulai goyah bukan dari atas, tapi dari pinggir-pinggir jalan.

Rabu, 25 Juni 2025

Nikah

Kesetiaan lebih sulit daripada cinta.

Nikah. Kata yang pendek, tapi menyimpan muatan sejarah, sosial, teologis, dan tentu saja—emosi yang tak selalu bisa ditebak. Diucapkan dalam satu tarikan napas, tapi dijalani dalam puluhan tahun yang panjang. Ia bukan sekadar perayaan; ia adalah keberanian. Tapi keberanian untuk apa?

Kita hidup di zaman ketika segala sesuatu dirayakan, termasuk pernikahan. Akun Instagram penuh foto pre-wedding. Gaun putih, taman bunga, lilin-lilin romantis. Tapi pernikahan sering kali berhenti pada estetika. Kita menyentuh kulitnya, tapi lupa dagingnya. Kita mempersiapkan pesta, tapi bukan percakapan. Kita menata dekorasi, tapi bukan pengampunan.

Padahal nikah bukan puisi. Ia bukan hanya janji indah di altar, tapi keputusan yang diulang setiap hari—bahkan ketika cinta sedang tidak terasa. Bahkan ketika yang tersisa hanya pertengkaran tentang cucian piring atau saldo rekening yang kosong.

Nikah, di dalam banyak budaya, dikemas sebagai “penyatuan.” Tapi siapa yang benar-benar bersatu? Dua individu dengan latar berbeda, luka berbeda, mimpi berbeda—diharapkan hidup satu atap, satu dapur, satu kasur, dan satu visi. Itu bukan hal kecil. Itu nyaris mustahil. Tapi justru di sanalah letak keajaibannya: bukan pada kesamaan, tapi pada kesanggupan bertahan dalam perbedaan.

Dalam banyak agama, pernikahan disebut “kudus.” Tapi kekudusan bukan berarti steril dari konflik. Kudus bukan berarti tanpa cacat. Kudus, mungkin, justru berarti: kita tetap memilih tinggal, ketika pergi tampak lebih mudah.

Dan di balik semua itu, ada pertanyaan sosial yang lebih luas: siapa yang diuntungkan oleh pernikahan? Dalam banyak sistem patriarki, pernikahan justru menjadi alat untuk menundukkan perempuan. Seolah cinta adalah kontrak tak tertulis bahwa istri harus “melayani,” dan suami punya kuasa. Maka kata “istri yang baik” sering kali lebih berarti “yang patuh,” bukan “yang jujur.” Maka pertanyaannya bukan: apakah kamu menikah? Tapi: bagaimana kamu menikah?

Institusi manusia selalu menyimpan paradoks. Kita mencintai gagasannya, tapi tak siap menanggung realitasnya. Pernikahan, jika hanya dibayangkan sebagai kebahagiaan, akan mengecewakan. Tapi jika dilihat sebagai latihan kesetiaan—ia menjadi ruang spiritual.

Mungkin kita tak pernah benar-benar siap menikah. Tapi cinta bukan soal kesiapan. Ia soal keberanian. Dan keberanian yang sejati tidak bersuara keras. Ia hanya tinggal, di dapur, di ranjang, di ruang tamu yang sepi, dan berkata dalam hati: “Aku tetap di sini.”

Nikah bukan tempat untuk menjadi sempurna. Ia tempat untuk belajar mencintai yang tidak sempurna. Termasuk diri sendiri.

Sabtu, 21 Juni 2025

The God Delusion

Iman bukan monopoli mereka yang tidak bertanya.

Richard Dawkins, biolog evolusioner asal Inggris, menulis sebuah buku yang seperti granat dilemparkan ke altar: The God Delusion. Judulnya sendiri telah bicara—bahwa Tuhan, bagi Dawkins, tak lebih dari ilusi. Sebuah konstruksi psikologis yang diwariskan oleh budaya, dan dipertahankan oleh ketakutan. Sebuah virus ide, katanya, yang menyebar dari generasi ke generasi tanpa pembuktian, hanya karena diwariskan.

Ia menyerang dengan argumen ilmiah, tajam, dan kadang sinis. Ia menyebut agama sebagai “kejahatan besar,” menyandingkannya dengan perang, diskriminasi, dan fanatisme. Baginya, kepercayaan kepada Tuhan bukan hanya salah, tapi berbahaya. Dan para pembela iman, dalam narasi Dawkins, adalah mereka yang menolak berpikir secara rasional.

Tentu, buku ini mengundang reaksi. Para teolog mengangkat pena, filsuf menyusun sanggahan. Tapi yang menarik, bukan pada siapa yang benar—melainkan pada bagaimana kita memahami benturan ini. Karena di tengah argumen yang berlapis dan debat yang panjang, ada satu hal yang sering luput: bahwa pertanyaan tentang Tuhan, pada dasarnya, bukan hanya soal logika, tapi soal luka.

Dawkins menyodorkan dunia yang tertata dalam hukum alam, tanpa intervensi adikodrati. Sebuah dunia yang tidak memerlukan Tuhan untuk berjalan. Tapi bagaimana dengan mereka yang hidup dalam kehilangan? Dalam kesakitan? Dalam ketidakadilan yang tak bisa dijelaskan oleh statistik?

Iman, bagi sebagian orang, bukan soal pembuktian. Ia adalah cara bertahan. Cara menjelaskan yang tak terjelaskan. Dawkins menolak hal ini sebagai “god of the gaps”—Tuhan yang hanya hadir di celah ketidaktahuan manusia. Tapi barangkali, celah itulah tempat paling sunyi dan paling jujur untuk menyebut nama-Nya.

Tentu, Dawkins bukan tanpa alasan. Sejarah agama memang menyimpan ironi. Perang Salib, inkuisisi, bom atas nama Tuhan—semuanya menodai makna iman. Tapi menyimpulkan bahwa semua agama adalah penyakit dari fakta-fakta itu, sama seperti menyimpulkan bahwa semua cinta adalah kekerasan dari satu kisah patah hati.

Dawkins ingin menggantikan iman dengan sains, doa dengan penalaran, dan Tuhan dengan keajaiban alam semesta. Tapi sains—meski agung—tak selalu menjawab pertanyaan terdalam manusia: mengapa kita rindu? mengapa kita takut mati? mengapa kita mengampuni?

Mungkin The God Delusion bukan buku yang harus ditolak, tapi juga bukan yang harus disembah. Ia bukan kitab suci ateisme, tapi cermin yang membuat iman bertanya: apakah aku percaya karena aku tahu, atau karena aku takut tidak tahu? Di situlah kritik menjadi berguna—bukan untuk meruntuhkan, tapi untuk memperdalam.

Sebab iman yang tidak pernah terguncang, adalah iman yang belum pernah berpikir.

Kamis, 19 Juni 2025

Meta. Sebuah nama yang menggantikan “Facebook Inc.” sejak 2021. Tapi lebih dari sekadar rebranding, Meta adalah ambisi. Ia ingin menjadi bukan hanya media sosial, tapi semesta sosial itu sendiri. Ia bukan lagi tempat orang berkumpul; ia ingin menjadi ruang tempat manusia merasa eksis.

Dalam bahasa Yunani, meta berarti “melampaui.” Tapi seperti kata-kata besar lain dalam sejarah, ia menyembunyikan hasrat. Meta bukan sekadar melampaui Facebook—ia ingin melampaui dunia yang nyata. Ia menciptakan metaverse: ruang maya tempat orang bisa bekerja, bermain, jatuh cinta, membangun identitas baru. Dunia alternatif, tempat tubuh digantikan avatar, dan tatap muka digantikan headset.

Tapi ketika dunia menjadi layar, siapa yang mengatur cahaya?

Mark Zuckerberg menyebut metaverse sebagai masa depan internet. Tapi masa depan macam apa yang dibangun dari data yang terus-menerus dikumpulkan, dari interaksi yang ditakar engagement, dari hubungan yang dimonetisasi dengan iklan? Meta, seperti Facebook sebelumnya, menjanjikan koneksi. Tapi koneksi tidak sama dengan kedekatan. Kita bisa terhubung dengan ribuan orang, tapi merasa lebih sendiri dari sebelumnya.

Dan barangkali itu yang paling ganjil dari Meta: ia membuat kita sibuk membangun diri digital, sambil perlahan mengikis kepekaan tubuh kita yang nyata. Kita tersenyum di depan kamera, tapi diam dalam ruang tamu. Kita merayakan ulang tahun lewat notifikasi, tapi lupa mengangkat telepon.

“Teknologi selalu netral. Tapi cara kita menggunakannya, tidak pernah.” Meta bukan mesin jahat. Tapi ia tumbuh dari logika pasar yang ingin tahu kita lebih dari yang kita tahu tentang diri sendiri. Ia tahu kapan kita sedih, kapan kita menatap layar terlalu lama, kapan kita berhenti menggulir.

Dan dari situ, ia membentuk dunia yang dikurasi oleh algoritma. Kita tidak lagi memilih apa yang ingin kita lihat; kita ditunjukkan apa yang menurut sistem paling menguntungkan—bukan bagi kita, tapi bagi platform. Maka dunia pun makin mirip ruang cermin: kita melihat hal-hal yang membuat kita nyaman, seolah dunia ini sepakat dengan kita, seolah perbedaan tak perlu ada.

Meta menyebut dirinya sebagai penghubung komunitas. Tapi komunitas macam apa yang lahir dari algoritma? Kita dikelompokkan bukan berdasarkan nilai, tapi berdasarkan klik. Kita bertemu orang bukan karena keinginan, tapi karena sistem menilai mereka “relevan.” Maka persahabatan menjadi hasil logika statistik. Dan cinta, kadang, hanya efek dari rekomendasi mutual friends.

Yang lebih mencemaskan bukan hanya teknologi Meta, tapi cara pikir yang mengikutinya: bahwa semua hal harus terdokumentasi, semua pengalaman harus bisa dipamerkan. Kita tidak cukup lagi melihat sunset. Kita harus memotretnya, memberi caption, dan mengukur validitasnya dari jumlah emoji hati.

Di dunia yang penuh notifikasi ini, sunyi terasa mencurigakan. Padahal justru di sanalah kita bisa kembali bertanya: siapa aku di luar layar? Apakah aku masih hadir ketika tidak ada yang menonton?

Rabu, 18 Juni 2025

Monetisasi

Monetisasi. Kata yang terasa teknokratik, tapi punya nafsu tua: menjadikan apa pun sebagai uang. Kini ia tidak sekadar istilah dalam ekonomi makro atau laporan kas digital. Ia telah menjelma kredo zaman. Dari media sosial hingga mimbar agama, dari kemiskinan hingga kemuliaan, dari cinta hingga kematian—segala sesuatu bisa dijadikan komoditas. Asal viral, bisa dijual.

Di masa lalu, perdagangan menyentuh barang. Kini monetisasi menyentuh makna. Seorang ibu membagikan kisah kehilangan anaknya di TikTok, lalu muncul endorse skincare. Seorang pendeta menyisipkan tautan donasi setelah khotbah tentang kesederhanaan. Seorang penulis puisi—barangkali juga saya—menerima honor untuk kata-kata yang mestinya lahir dari sunyi.

Apakah ini kejahatan? Tidak selalu. Tapi yang menarik: kita makin jarang bertanya kapan sesuatu tak seharusnya diberi harga.

Kita tahu, uang bukan musuh. Tapi monetisasi—jika tidak kita jaga—adalah jalan panjang yang perlahan mengubah motivasi. Yang dulu dilakukan karena cinta, kini dilakukan karena kemungkinan pemasukan. Yang dulu dikerjakan sebagai ibadah, kini dikemas sebagai “konten.” Dan ketika konten adalah raja, maka emosi menjadi tambang. Duka dipotong-potong. Marah disetir algoritma. Yang penting menarik, bukan lagi mendalam.

Nietzsche menulis bahwa nilai tertinggi manusia adalah kemampuannya mencipta makna, bukan menjualnya. Tapi hari ini, penciptaan itu sering ditimbang lewat klik, CPM, dan CTR. Kita bukan hanya bekerja untuk hidup, tapi hidup agar layak dibayar.

Maka batas antara kejujuran dan performa menjadi kabur. Kita tahu seseorang menangis bukan karena kehilangan, tapi karena kamera menyala. Kita tahu seseorang mengucap syukur bukan pada Tuhan, tapi pada audiens. Monetisasi bukan lagi soal transaksi, tapi tentang bagaimana eksistensi harus dipertontonkan agar pantas dihargai.

Saya teringat kata Milan Kundera: “Kehidupan adalah panggung, dan kita semua adalah aktor yang lupa bahwa ada hidup di balik layar.” Di era monetisasi ini, barangkali layar itulah yang hilang. Tak ada lagi ruang di mana kita bisa diam tanpa target. Menulis tanpa follower. Membantu tanpa tagar. Mencintai tanpa update status.

Apakah salah mencari uang dari hal yang kita sukai? Tidak. Tapi barangkali salah jika kita hanya menyukai sesuatu karena bisa dijadikan uang.

Senin, 16 Juni 2025

Beyond Good and Evil

Nietzsche menulis Jenseits von Gut und Böse—Beyond Good and Evil—pada 1886. Tapi gaungnya masih terasa seperti pukulan palu di zaman kita yang penuh slogan moral. Buku itu tidak memberi jawaban, apalagi pelipur lara. Ia menggugat. Ia seperti menyalakan api di altar kepercayaan yang selama ini disucikan tanpa diperiksa: bahwa ada yang disebut “baik,” dan ada yang disebut “jahat”—dan semua itu bisa diketahui dengan pasti.

Nietzsche tidak sedang mempromosikan kejahatan. Tapi ia bertanya, dengan nada sinis dan sekaligus jujur: dari mana datangnya nilai-nilai itu? Apakah “baik” itu sungguh berasal dari kebenaran yang hakiki, atau sekadar hasil kesepakatan, budaya, atau bahkan—yang lebih mengejutkan—rasa takut?

Di situlah Nietzsche berpisah jalan dengan moral Kristen tradisional, dan juga dengan para filsuf sebelumnya. Ia mencium bahwa banyak nilai yang kita agung-agungkan justru lahir dari kelemahan. Bahwa kebaikan, dalam narasi moral umum, sering kali hanya hasil dari kekalahan yang diberi nama baru. Moral budak, kata Nietzsche—moral yang lahir dari mereka yang lemah dan tak berdaya, lalu menyebut kelemahannya itu sebagai “kelembutan,” “kesabaran,” “kasih.”

Apa jadinya jika semua nilai itu dibalik? Jika yang kuat disebut jahat, dan yang tunduk disebut suci? Apakah kita telah keliru membaca sejarah jiwa manusia?


Nietzsche menginginkan semacam revaluasi semua nilai. Ia menghendaki manusia yang tak tunduk pada nilai yang diwariskan, melainkan menciptakan nilai. Der Übermensch—manusia unggul—bukanlah diktator berdarah dingin, tapi seseorang yang berani berkata ya pada kehidupan, dengan segala ambiguitas dan ketelanjangannya. Seseorang yang tidak butuh surga sebagai hadiah, atau neraka sebagai ancaman.

Tapi justru di sanalah dunia kita hari ini terasa seperti paradoks. Kita hidup di era pasca-kebenaran, ketika semua relativisme menjadi mode, ketika moral dipertanyakan dan “narasi besar” dicurigai. Tapi apakah kita sungguh telah melampaui “baik dan jahat”? Atau hanya menggantinya dengan versi yang lebih halus, lebih teknokratik, lebih terselubung?

Kini, “baik” sering diproduksi oleh algoritma. Ditetapkan oleh opini mayoritas. Dikelola oleh sistem rating. Aplikasi pemesanan makanan bisa memberi label “top” pada restoran, dan itu menjadi kebenaran sosial. Kita mengikuti, memberi bintang, memberi suka—tanpa pernah benar-benar menguji apakah yang kita beri label “baik” itu memang pantas.

Mungkin Nietzsche tidak akan terkesan dengan zaman kita. Bukan karena kita terlalu jahat, tapi karena kita terlalu penurut.

Dan barangkali, itu tugas filsafat hari ini: bukan membela apa yang baik, tapi bertanya, untuk siapa ia disebut baik? Dan siapa yang diam-diam menulis kamusnya?

Karena bisa jadi, “baik dan jahat” bukan dua kutub mutlak. Mereka mungkin hanya dua bayangan dari satu cahaya yang tak pernah utuh kita pahami.

Minggu, 15 Juni 2025

Sinode

Sinode. Sebuah kata yang terdengar seperti gema dari altar tua, berlapis dupa dan protokol. Ia bukan sekadar rapat besar gereja, tapi panggung di mana suara-suara iman dikumpulkan, dipadatkan, disahkan—atau kadang, dibungkam dengan lembut.

Dalam struktur gereja Protestan, sinode adalah tubuh pengambilan keputusan tertinggi. Dari sini arah ditentukan: teologi, tata gereja, bahkan nasib seorang pendeta bisa dibicarakan dan disepakati. Tapi dalam ruang-ruang sidang yang disebut “demokratis” itu, seringkali suara yang paling lirih tertinggal di luar.

Ada ironi yang khas dalam sinode: sebuah forum yang seharusnya kolektif, tapi tak jarang dikuasai oleh segelintir suara dominan. Kebebasan untuk berbicara dijamin, tapi siapa yang sungguh mendengar? Ia menyerupai parlemen rohani, tapi tak selalu memiliki oposisi.

Sinode bisa menjadi ruang mulia—tempat di mana gereja merefleksikan misinya di tengah zaman yang bergerak cepat. Tapi ia juga bisa menjadi birokrasi keagamaan yang lamban dan canggung, sibuk merumuskan tata tertib, lupa bahwa iman tak selalu hidup dalam dokumen.

Lebih dari itu, sinode kadang menjadi cermin dari kekuasaan rohani yang tak terbuka pada kritik. Keputusan-keputusannya diklaim lahir dari “doa dan pertimbangan,” tapi acapkali menyisakan luka di antara umat. Tak semua yang “sudah disepakati” berarti “sudah adil.” Konsensus kadang hanya hasil dari kelelahan berpolemik.

Yang paling menyedihkan ialah saat sinode mulai menggantikan iman dengan manajemen, menggantikan penggembalaan dengan pengorganisasian. Gereja dilihat sebagai lembaga, bukan tubuh. Dan keputusan-keputusan rohani mulai diukur dengan efisiensi, bukan belas kasih.

Apakah sinode tak perlu? Tentu perlu. Tapi ia perlu terus diingatkan: bahwa di atas struktur, ada nurani. Bahwa di balik angka suara terbanyak, ada jiwa-jiwa yang ragu, yang takut, yang berbeda pendapat. Dan gereja, bila hendak hidup, tak boleh tuli terhadap yang rapuh.

Ada pendeta yang dimutasi oleh sinode, tapi tak pernah diberi kesempatan bicara. Ada keputusan doktrinal yang ditetapkan, tapi tak pernah disosialisasikan pada jemaat yang bertanya-tanya. Ada perbedaan tafsir yang dianggap sebagai ancaman, bukan kekayaan iman.

Mungkin, sinode bukan tempat untuk “menentukan” Tuhan—karena Tuhan tak bisa dimusyawarahkan. Tapi sinode bisa menjadi ruang untuk menyadari keterbatasan kita sebagai gereja: bahwa keputusan yang benar kadang datang dari diam, dari yang tak ikut sidang, dari hati yang patah tapi terus percaya.

Sabtu, 14 Juni 2025

1984

George Orwell tak sedang meramal masa depan. Ia menulis 1984 pada 1948, tetapi distopia yang ia bangun seperti gema dari masa yang tak pernah benar-benar berlalu. “Big Brother is watching you,” begitu slogan yang kita hafal. Tapi barangkali yang lebih menggentarkan bukan si Pengawas Besar, melainkan keyakinan bahwa kita tak akan pernah tahu apakah kita sedang diawasi—karena dalam dunia yang dibangun Orwell, pengawasan adalah perasaan, bukan hanya peralatan.

Yang membuat 1984 tetap relevan bukan terletak pada prediksi teknologinya. Orwell tak menulis tentang kamera tersembunyi, melainkan tentang bahasa yang dikerdilkan, sejarah yang dihapus, dan ketakutan yang dilembutkan menjadi kepatuhan. Newspeak, bahasa resmi negara, diciptakan bukan agar orang bisa mengungkapkan lebih banyak, tapi agar mereka tak bisa memikirkan yang tak diizinkan. Orwell tahu, penguasa tak butuh senjata jika ia bisa mengatur kosakata rakyatnya.

Membaca 1984 hari ini bukan membaca fiksi. Kita hidup di dunia di mana algoritma tahu lebih banyak tentang diri kita dibanding orang tua kita. Di mana sejarah ditulis ulang saban lima tahun oleh penguasa baru. Di mana “kebohongan” bisa berubah menjadi “narasi alternatif.” Bahkan dalam demokrasi yang katanya terbuka, kebenaran sering kali dinegosiasikan seperti harga pasar. Orwell mungkin akan tersenyum getir.

Winston Smith, sang tokoh utama, bekerja di Ministry of Truth—lembaga yang tugasnya justru memalsukan kebenaran. Ia mengubah dokumen lama agar sesuai dengan kebijakan baru. Ia membuat masa lalu selalu cocok dengan masa kini. Dalam dunia Orwell, siapa yang menguasai masa lalu, menguasai masa depan. Siapa yang menguasai masa kini, menguasai masa lalu.


Dan kita? Kita pun menyaksikan bagaimana arsip-arsip dipelintir oleh mereka yang punya kuasa bicara. Kadang lewat sensor; kadang lewat lupa. Kita melihat aparat yang dahulu kejam kini disebut pahlawan, dan suara-suara kritis diberi label "radikal" atau "bermasalah". Kita pun pelan-pelan terbiasa—dan seperti Winston, mungkin mulai berpikir bahwa dua tambah dua memang lima.

Goenawan Mohamad pernah menulis: “Kebenaran, seperti sejarah, tak pernah final. Tapi ia punya nyawa.” 1984 adalah cerita tentang bagaimana nyawa itu dicekik perlahan oleh sistem yang ingin semua seragam. Bahkan cinta, dalam dunia Orwell, harus ditundukkan. Julia dan Winston jatuh cinta, bukan karena mereka romantis, tetapi karena mereka ingin merasa menjadi manusia. Namun cinta pun akhirnya dihancurkan oleh ketakutan. Cinta dikalahkan oleh loyalitas kepada Partai.

Dan di sanalah letak tragedi Orwell: bukan hanya pada kekuasaan yang brutal, tapi pada manusia yang akhirnya menerima penindasan sebagai kenyamanan. Winston, di akhir cerita, mencintai Big Brother. Bukan karena ia dibujuk, tapi karena ia dihancurkan. Ia tak lagi punya daya menolak.

Barangkali itulah yang paling menakutkan dari 1984—bahwa manusia bisa dibentuk bukan sekadar untuk diam, tetapi untuk percaya bahwa diam itu kebajikan.

Hari ini, kita hidup di tengah kebebasan yang semu. Kita menulis di media sosial, tapi dengan sensor yang kita pasang sendiri. Kita bicara tentang keadilan, tapi hanya dalam grup tertutup. Orwell menulis tentang negara totaliter, tetapi benihnya tumbuh juga dalam masyarakat yang merasa bebas. Ketika rasa takut menjelma kesopanan, ketika kritik disebut kegaduhan, ketika bahasa diganti dengan eufemisme, kita pun sedang berjalan di koridor panjang menuju 1984—tanpa suara, tanpa tanya.

Dan seperti Winston, barangkali suatu hari nanti kita pun akan mencintai mereka yang membungkam kita.

Jumat, 13 Juni 2025

Ditinggalkan

Ada yang tidak pernah kita siapkan. Bukan karena kita tidak tahu, tapi karena kita tidak ingin tahu. Ditinggalkan—kata kerja pasif yang membuat kita merasa lumpuh. Ia tidak datang seperti tamu, tidak mengetuk pintu. Ia menyerbu, dan meninggalkan sesuatu yang kosong.

Kita sering bicara tentang meninggalkan. Tapi jarang tentang ditinggalkan. Meninggalkan memberi rasa kuasa; ditinggalkan memberi luka. Yang satu berjalan; yang lain diam, menggenggam sesuatu yang perlahan meleleh dari tangannya: harapan, janji, nama.

Dalam hidup, kita terbiasa membangun: rumah, hubungan, keyakinan. Tapi yang jarang kita pelajari adalah cara menghadapi runtuh. Kita diajar untuk mencintai, tapi tidak pernah cukup diajar bagaimana caranya ditinggal oleh cinta itu sendiri—entah karena waktu, karena pilihan, atau karena kematian.

Ditinggalkan bukan sekadar kehilangan. Ia adalah jeda panjang antara “dulu kita” dan “kini aku.” Ia tidak bising, tidak dramatis. Ia sepi, pelan, dan diam-diam menggerogoti. Seperti bangku kosong yang tak lagi dipandang. Seperti percakapan yang tinggal gema.

Dan yang paling menakutkan: seringkali yang meninggalkan tidak merasa bersalah. Dunia terus berjalan, seakan kepergian adalah hal biasa. Tapi bagi yang ditinggalkan, dunia menjadi museum. Setiap sudut menjadi kenangan. Setiap lagu menjadi luka. Setiap doa menjadi pertanyaan: “Kenapa aku?”

Ditinggalkan bisa berbentuk macam-macam: pasangan yang memilih pergi, teman yang tak menjawab pesan, orang tua yang terlalu sibuk untuk melihat, atau bahkan Tuhan—yang terasa diam saat kita paling membutuhkan. Dan yang paling menyakitkan: ketika mereka masih hidup, tapi sudah tak hadir.

Namun anehnya, dari semua itu, manusia tetap bertahan. Ia belajar menata ulang dirinya. Membuat makna baru. Kadang dari serpihan. Kadang dari kehampaan. Karena ternyata, yang tertinggal tidak selalu berarti kalah. Ada kekuatan sunyi yang hanya dimiliki mereka yang ditinggalkan—kekuatan untuk tetap tinggal.

Kamis, 12 Juni 2025

Injil

Injil. Sebuah kata yang telah terlalu sering diucap, dan karenanya barangkali telah kehilangan kejutannya. Ia disebut dalam doa, dikutip dalam khotbah, dicetak di sampul Alkitab dan dibisikkan dalam pengakuan dosa. Tapi seperti segala yang terlalu akrab, Injil bisa menjadi gema kosong—mengisi ruang, tapi tak lagi menggugah.

Injil berarti “kabar baik.” Tapi kita hidup dalam dunia di mana kabar baik kadang terdengar mencurigakan. Di tengah statistik penderitaan, kesenjangan, dan peperangan, “kabar baik” terdengar seperti janji yang terlalu indah. Terlalu polos. Terlalu tidak masuk akal. Maka orang mulai menanyakan ulang: baik bagi siapa?

Injil, pada mulanya, bukan teks yang tebal. Ia adalah kabar yang berbisik di lorong-lorong penderitaan abad pertama. Ia bukan diumumkan di istana, tapi di padang gembala. Bukan untuk mereka yang berkekuatan, tapi untuk yang terpinggirkan. Injil bukan kemenangan yang ditulis dalam tinta emas, melainkan pengharapan yang lahir dari tubuh yang tergantung di kayu salib.

Tapi Injil hari ini, di tangan gereja modern, sering kali tampil berbeda. Ia menjadi paket sistematis, lengkap dengan empat hukum keselamatan, slide PowerPoint, dan panggung altar yang dirancang seperti konser. Ia dijelaskan dengan logika pasar: siapa masuk surga, siapa tersingkir. Kabar baik, diubah menjadi produk. Siapa beli, siapa tidak.

Kita lupa, Injil bukan produk, melainkan proses. Ia tidak selesai dalam satu ayat atau satu keputusan. Ia adalah perjalanan: antara percaya dan ragu, antara pengampunan dan luka yang belum sembuh. Injil bukan hanya untuk diumumkan, tetapi untuk dijalani.

Di banyak tempat, Injil bahkan dipolitisasi. Ia dijadikan dasar untuk menolak yang berbeda, untuk menjustifikasi kekuasaan, untuk membangun pagar-pagar doktrin. Injil yang pada mulanya adalah pelukan bagi yang terbuang, berubah menjadi tembok bagi yang tak sesuai format. Seolah kabar baik hanya untuk mereka yang berpakaian rapi, berkata sopan, dan mengisi formulir keanggotaan.

Tapi Injil yang asli—yang mentah, yang belum dipoles institusi—adalah kabar yang subversif. Ia menumbangkan logika kekuasaan: yang terakhir menjadi pertama, yang miskin diberkati, yang mati dihidupkan. Ia tidak datang dari atas, tapi dari bawah. Tidak datang dalam kemenangan, tapi dalam luka.

Dan barangkali itulah mengapa Injil selalu menyakitkan sebelum ia menyembuhkan. Karena ia tidak sekadar memberi harapan, tapi juga menggugah kenyataan. Ia memaksa kita menatap dunia apa adanya—dan tetap percaya bahwa kasih lebih besar dari kebencian, bahwa pengampunan lebih kuat dari balas dendam.

Rabu, 11 Juni 2025

BPMJ (Badan Pekerja Majelis Jemaat)

BPMJ. Nama itu terdengar administratif, nyaris teknokratis. Badan Pekerja Majelis Jemaat. Sebuah lembaga di tubuh gereja Protestan yang, secara struktur, adalah urat nadi pengelolaan jemaat. Tapi di antara kata “badan” dan “pekerja,” yang sering hilang justru denyut pelayanannya.

Di atas kertas, BPMJ adalah perwujudan dari teologi presbiterial: gereja dipimpin secara kolektif, bukan oleh satu orang. Pendeta, Penatua, dan Diaken duduk bersama, merumuskan arah. Tidak ada imam tunggal, tidak ada takhta. Yang ada: meja persekutuan. Tapi kita tahu, meja pun bisa menjadi panggung.

Dalam praktiknya, BPMJ kadang lebih mirip kabinet mini. Ada agenda-agenda, notulen, voting, dan, tentu saja, dinamika kekuasaan. Yang membedakan dari politik di luar hanyalah dekorasi rohani: ayat-ayat disisipkan di awal rapat, doa ditutupkan sebelum perbedaan membeku. Tapi siapa pun yang pernah berada di dalam BPMJ tahu, tak semua keputusan bersumber dari Roh Kudus. Kadang dari logika politik kecil: siapa dekat dengan siapa, siapa diam demi damai, siapa bicara demi pamrih.

Kita jarang bertanya: mengapa gereja memerlukan "badan pekerja"? Apakah pekerjaan Tuhan sedemikian administratifnya hingga memerlukan struktur sekompleks itu? Atau, justru karena manusia yang membawa nama Tuhan cenderung tak teratur, maka struktur dibentuk sebagai pagar?

BPMJ, dalam fungsinya yang ideal, adalah jantung pelayanan. Ia bukan ruang kontrol, tapi ruang koordinasi. Ia bukan tempat untuk merasa berkuasa, tapi untuk saling menanggung. Namun godaan terbesar lembaga ini justru datang dari dalam: keinginan untuk mengatur, bukan mengabdi. Untuk menguasai tafsir, bukan mendengarkan luka.

Yang paling rawan adalah ketika BPMJ mulai melupakan jemaatnya. Ketika rapat-rapat menjadi tujuan, bukan alat. Ketika ketentuan menjadi lebih penting dari kehadiran. Ketika jadwal pelayanan lebih rapi dari relasi antar manusia. Maka gereja pun berubah pelan-pelan: dari komunitas iman menjadi lembaga yang sibuk mengurus dirinya sendiri.

Ada Penatua yang lebih hafal Program dan Anggaran ketimbang nama-nama jemaat yang dalam pergumulan. Ada Diaken yang lebih sigap mengatur keuangan daripada menemui jemaat yang butuh pertolongan. Ada Pendeta yang lebih cepat berada di tempat sukacita daripada menyentuh tangan jemaat yang sekarat.

Ironisnya, semua itu dilakukan demi efisiensi, demi ketertiban, demi “kesaksian yang baik.” Tapi di tengah ketertiban itu, kasih kadang kehilangan tempat.

Padahal gereja—dalam akar katanya, Ekklesia—bukan institusi, melainkan pertemuan. Yang lebih penting dari rapat adalah relasi. Yang lebih utama dari keputusan adalah kehadiran. Yang lebih bermakna dari program kerja adalah duduk bersama tanpa agenda.

Selasa, 10 Juni 2025

Mati

Kematian, kata Chairil Anwar, adalah sesuatu yang datang “sendiri / dan tak dikenal.” Ia seperti ketukan di pintu yang tak pernah dijadwalkan. Dan tak ada rumah yang benar-benar siap menerimanya.

Dalam sejarah manusia, tak ada tema yang lebih sering dielakkan tapi sekaligus paling tak terelakkan. Kita menyebutnya dengan banyak nama: wafat, meninggal, berpulang. Tapi dalam segala perhalusan itu, kita tahu: mati adalah peristiwa yang mencabut kita dari segala yang akrab—waktu, tubuh, cinta.

Namun yang menarik, mati tak hanya menyisakan duka. Ia juga menyisakan keteraturan. Di negeri ini, kematian adalah urusan administratif. Ada surat keterangan, akta, bahkan kadang tarif penguburan. Di gereja, di masjid, di kantor kelurahan, mati adalah prosedur. Seolah setelah segalanya berakhir, yang tersisa hanyalah pengarsipan.

Tapi barangkali yang paling pelik dari mati bukan lenyapnya tubuh, melainkan apa yang tinggal setelahnya. Dalam banyak kebudayaan, orang mati tak pernah benar-benar mati. Ia terus hadir, sebagai bayang-bayang, kenangan, kadang bahkan beban. Kita mendoakan mereka, mengingat mereka, kadang berselisih tentang warisan mereka. Mati, anehnya, bisa memperpanjang hidup dalam bentuk yang lain: trauma, kerinduan, atau pertanyaan.

Dalam masyarakat modern yang sibuk merayakan kehidupan, mati adalah kegagalan. Kegagalan medis. Kegagalan keamanan. Kegagalan doa. Maka kita menyembunyikannya. Rumah sakit dibangun untuk menyekat kematian dari pandangan umum. Kuburan diletakkan jauh dari pusat kota. Kita belajar menghindar, bukan berdamai.

Tapi barangkali karena itulah mati menjadi semakin menakutkan—karena kita tak lagi mengizinkannya menjadi bagian dari hidup. Padahal segala yang hidup akan menyusul. Bahkan pohon yang paling tinggi pun akan tumbang. Bahkan bintang pun akan padam.

Beberapa filsuf mengatakan: hanya dengan mengingat kematian, kita benar-benar hidup. Karena saat kita tahu segalanya akan berakhir, kita mulai mencintai hal-hal kecil: secangkir teh, udara pagi, suara anak yang tertawa. Mati, dalam pengertian itu, bukan musuh. Ia adalah cermin: yang menunjukkan betapa fana segalanya, dan karena itu betapa berharganya.

Tapi kematian juga bisa dibungkam oleh angka. Ketika ratusan tewas dalam bencana, dalam perang, dalam kelalaian, kita menyebutnya “korban jiwa.” Dan dalam istilah itu, yang paling hilang justru jiwa itu sendiri. Nama berubah jadi statistik. Kesedihan menjadi laporan. Kita berhenti menangis, dan mulai mengutip data.

Maka barangkali yang paling menyedihkan dari kematian adalah ketika ia dianggap biasa. Ketika seseorang mati, dan kita hanya bergumam pelan, lalu melanjutkan pekerjaan. Ketika seorang pengungsi mati tenggelam, dan kita hanya melihatnya sebagai berita. Ketika seorang tahanan mati dalam sel, dan kita menyebutnya “risiko sistem.”

Padahal setiap mati adalah dunia yang runtuh. Seorang anak kehilangan ibu. Sebuah rumah kehilangan suara. Seekor anjing menunggu di depan pintu yang tak akan terbuka lagi. Mati, dalam diamnya, mengguncang yang tinggal hidup.

Senin, 09 Juni 2025

Pentakosta

Pentakosta adalah tentang lidah-lidah api. Tentang bahasa yang mendadak dimengerti lintas bangsa. Tentang tiupan angin dari langit yang merobek rutinitas para murid yang resah. Dan murid-murid berbicara dalam bahasa yang bukan milik mereka, tapi dimengerti semua orang. Tapi juga, pada akhirnya, tentang keberanian berkata—bukan hanya dalam bahasa orang lain, tapi dalam suara diri yang paling jujur.

Ia adalah sebuah peristiwa yang tak tertib. Roh Kudus turun, dan semua yang mapan mendadak porak-poranda. Hierarki dibuyarkan, tembok bahasa runtuh, dan yang semula hanya berani berdoa dalam diam kini berbicara kepada dunia.

Kisah itu begitu dramatis, nyaris teatrikal. Tapi seperti banyak peristiwa rohani, tafsirnya beraneka. Di satu sisi, Pentakosta adalah momentum: sebuah letupan awal dari Gereja yang bergerak. Di sisi lain, ia menjadi simbol kekuasaan spiritual, yang kemudian diklaim, dimiliki, dan dikelola.

Tetapi di balik keramaian itu, kita bisa bertanya: apakah Roh Kudus masih bicara dalam bahasa yang bisa dimengerti semua orang? Ataukah kini Ia hanya bersuara dalam bahasa eksklusif gereja—yang tidak semua peka menangkapnya?

Sebab Roh tidak selalu datang dalam dentum. Ia juga hadir dalam bisik. Dalam kelelahan seseorang yang tetap berdoa meski tak tahu apakah didengar. Dalam pengampunan yang tidak diumumkan. Dalam air mata yang jatuh diam-diam.

Barangkali kita perlu ingat: lidah-lidah api itu turun kepada semua. Bukan hanya kepada pemimpin, tapi juga kepada mereka yang tidak dikenal sejarah. Roh Kudus, dalam teks Kisah Para Rasul, adalah Roh yang egaliter. Ia tak bisa diperdagangkan, dipolitisasi, apalagi dimiliki satu denominasi saja.

Pentakosta seharusnya tentang keterbukaan: ketika Roh menjangkau tanpa sekat budaya, ras, atau struktur. Tapi dalam praktiknya, banyak gereja justru mempersempitnya. Bahasa roh dijadikan syarat kesalehan. Mereka yang tidak "dipenuhi" dianggap belum sepenuhnya percaya. Maka Roh Kudus pun, ironisnya, dibatasi oleh teologi institusional.

Ada pula paradoks yang mencolok: semangat Pentakosta sering tidak menyentuh dunia luar. Ia menjadi pesta internal. Gereja penuh semangat berdoa dalam bahasa roh, tapi bisu melihat ketidakadilan di luar pintu. Lidah menari dalam ibadah, tapi kelu saat menghadapi kemiskinan, korupsi, atau kekerasan yang dilembagakan.

Roh yang turun di Yerusalem dulu justru mendorong para murid keluar—berjalan, bersaksi, menyeberang batas. Tapi kini, banyak yang justru berlindung dalam tembok rohani, membangun komunitas yang hanya berbicara pada dirinya sendiri. Mereka berkata "Tuhan hadir," tapi tak menjawab ketika dunia bertanya: "Di mana?"

Barangkali yang perlu kita renungkan bukan soal apakah Roh Kudus masih bekerja, tapi apakah kita masih mendengarkannya tanpa syarat. Apakah kita masih siap terbakar oleh nyala yang tak menyala-nyala, tapi membersihkan. Apakah kita bisa percaya bahwa Pentakosta bukan tentang efek panggung, tapi tentang keberanian berkata benar, dalam bahasa siapa pun, kepada siapa pun.

Minggu, 08 Juni 2025

Tata Gereja

Tata Gereja. Dua kata yang terdengar mapan, tertib, seperti lembaran liturgi yang sudah diatur jauh sebelum kita membuka halaman pertama. Di dalamnya ada struktur, ada hierarki, ada jabatan-jabatan yang bersilang antara panggilan rohani dan perintah administratif. Di sana, kata “tata” menjanjikan ketertiban, tapi kadang menyembunyikan yang paling rapuh dari semua: suara nurani.

Tuhan, dalam banyak narasi, turun bukan ke kantor majelis, tapi ke hati yang gelisah. Namun gereja, seperti banyak institusi, lambat laun mengatur dirinya seperti negara mini. Ada badan legislatif, ada eksekutif, kadang bahkan ada aroma peradilan internal. Maka iman yang semula cair menjadi struktur. Dan struktur, seperti semua sistem, punya celah untuk menjadi arena kuasa.

Tata Gereja adalah upaya manusia memahami yang ilahi lewat bahasa organisasi. Tapi ketika organisasi menjadi tujuan, bukan alat, maka iman tersisih oleh prosedur. Persidangan sinode lebih sibuk menentukan siapa layak duduk di mana, daripada mendengar apa yang digumamkan umat dari bangku paling belakang. Surat keputusan bisa lebih menentukan arah gereja daripada bisikan Roh Kudus yang tak terdokumentasikan.

Maka pertanyaannya muncul: siapa sesungguhnya yang memegang gereja? Roh? Atau tata?

Barangkali karena kita takut pada kekacauan, maka kita merancang sistem yang kaku. Tapi iman bukan mesin. Ia bertumbuh dalam kebimbangan, bukan kepastian mutlak. Iman berjalan dalam tanya, bukan protokol. Maka ketika pendeta harus mengurus administrasi lebih banyak dari mengurus jiwa, kita tahu: sesuatu telah bergeser.

Tata Gereja juga bisa menjadi alat penertiban yang sunyi—kadang menyakitkan. Ketika seorang pelayan gereja bertanya, memprotes, atau menolak tunduk pada satu keputusan, jawabannya bisa datang dari ayat-ayat peraturan, bukan dari kasih. Hukum gereja menjadi tameng, bukan pelukan. Maka tak sedikit orang pergi diam-diam. Bukan karena tak percaya Tuhan. Tapi karena tidak lagi percaya pada sistem yang mengatasnamakan-Nya.

Namun di sisi lain, kita tidak bisa sepenuhnya menolak tata. Karena tanpa tatanan, gereja bisa terombang-ambing dalam subjektivitas. Maka seperti semua hal dalam hidup, yang dibutuhkan adalah keseimbangan. Bahwa sistem diperlukan, tapi tak boleh mematikan kepekaan. Bahwa aturan perlu ada, tapi tak boleh menggantikan belas kasih.

Tata Gereja adalah cermin: ia bisa menunjukkan kedewasaan komunitas iman, atau justru memperlihatkan betapa rentannya gereja terhadap godaan kekuasaan. Kita menyebutnya "persekutuan orang percaya"—tapi persekutuan seperti apa, jika suara terbanyak selalu mengalahkan suara yang lemah?

Barangkali gereja harus terus-menerus belajar dari sosok yang menjadi pusatnya: Yesus yang tak punya kantor, tak menyusun struktur, tapi membasuh kaki murid-muridnya. Ia berbicara di jalan, bukan di ruang sidang. Ia hadir dalam kekacauan manusia, bukan dari balik podium otoritatif.

Sabtu, 07 Juni 2025

Move On

“Move on,” kata yang lahir dari bahasa Inggris sehari-hari, kini telah menjadi mantra psikologis dan sosial dalam ruang-ruang patah hati modern. Ia ringan diucapkan, sering jadi saran, kadang jadi ejekan. Tapi di balik dua kata itu, terselip sebuah ironi: mengapa manusia yang sangat berakar pada kenangan, justru disuruh berpindah begitu cepat?

Move on terdengar seperti tindakan yang sehat: sebuah langkah keluar dari trauma, luka, atau kegagalan. Tapi apakah manusia bisa begitu mudah bergerak dari sesuatu yang telah menorehkan makna? Apakah luka bisa disembuhkan hanya dengan mengganti pemandangan?

Di zaman yang serba cepat, move on adalah semacam tuntutan etis. Jangan terlalu lama sedih. Jangan terlalu lama marah. Jangan terlalu lama menyesal. Kesedihan yang berlarut dianggap tidak produktif. Padahal mungkin ada kebenaran yang hanya bisa ditemukan dalam diam yang panjang, dalam duka yang tak buru-buru ditutup.

Move on juga punya dimensi sosial. Ia bukan hanya soal cinta yang kandas. Ia bisa berarti berpaling dari sejarah yang tak nyaman. Melupakan kesalahan kolektif. Menyapu tragedi di bawah karpet nasionalisme baru. Bangsa ini, misalnya, sering diminta untuk “melupakan masa lalu”—dengan alasan demi pembangunan. Tapi bisakah kita membangun sesuatu di atas fondasi yang belum selesai dipertanggungjawabkan?

Kita diminta move on dari 1965. Dari Mei 1998. Dari pelanggaran HAM yang belum diadili. Tapi adakah move on tanpa pengakuan? Apakah melangkah ke depan tidak membutuhkan keberanian untuk menoleh ke belakang, dan menatap luka tanpa menutupinya?

Barangkali yang perlu kita pertanyakan adalah: move on untuk siapa? Kadang yang menyuruh move on adalah mereka yang tidak terluka. Yang tidak kehilangan. Yang tidak tertinggal. Maka nasihat itu menjadi alat untuk meredam, bukan untuk menyembuhkan. Ia bukan pelukan, tapi perintah.

Move on juga bisa menjadi bentuk penyangkalan. Kita berpura-pura pulih, padahal hanya memindahkan luka ke ruang yang lebih dalam. Kita menyebutnya kedewasaan, tapi kadang itu hanya topeng untuk menghindari rasa. Kita berjalan terus, tapi tanpa arah.

Tapi tentu tidak semua bentuk move on keliru. Ada saat ketika seseorang harus melangkah, bukan karena ingin melupakan, tapi karena ingin memberi ruang bagi hidup yang terus berubah. Ada perpisahan yang perlu diterima agar kita tidak tinggal dalam rumah yang telah kosong.

Sebab hidup memang tak bisa menunggu. Tapi ia juga tak akan penuh jika kita menyeret masa lalu dalam koper yang tak pernah dibuka. Move on, barangkali, bukan tentang berpaling dari yang lama—melainkan berdamai dengannya. Bukan tentang melupakan, melainkan mengizinkan kenangan menjadi bagian dari kita, tanpa menguasai kita.

Jumat, 06 Juni 2025

Nikel

Nikel adalah logam. Tapi seperti banyak hal di negeri ini, ia juga bisa berarti luka. Ia tak berbau, tak bernyawa, tapi keberadaannya mengubah hidup ribuan orang—kadang dengan gemerlap janji, kadang dengan debu yang tak pernah bisa dihapus dari paru-paru.

Kita menyebutnya kekayaan alam. Tapi “kekayaan” bagi siapa?

Nikel kini jadi primadona. Di tengah gegap gempita energi hijau, logam ini menjelma jadi bahan bakar baru: bukan untuk menyalakan mesin, tapi untuk menyalakan hasrat industri. Mobil listrik, baterai lithium, pabrik-pabrik raksasa—semuanya bersandar pada bijih nikel yang digali dari perut bumi Sulawesi, Maluku, dan Papua. Seolah masa depan dunia kini bergantung pada tanah yang dulunya hanya dikenal lewat peta kabupaten.

Dan negeri ini pun tergesa-gesa. Konsesi dibuka. Izin dipercepat. Investasi datang seperti air pasang, membawa ekskavator dan janji pembangunan. Tapi yang tertinggal seringkali adalah lumpur. Sungai yang berubah warna. Kampung yang jadi bayang-bayang pabrik. Sawah yang pelan-pelan menjadi kenangan.

Pemerintah menyebutnya hilirisasi. Kata yang terdengar teknokratis, penuh optimisme. Seakan-akan dengan membangun smelter, kita akan menguasai rantai nilai. Tapi apakah betul kita menguasai? Atau justru kita menyerahkan tanah demi peluang kerja yang rapuh, upah rendah, dan ketergantungan baru?

Di banyak tempat, nikel adalah paradoks. Ia menjanjikan mobil tanpa emisi, tapi mengorbankan hutan yang dilucuti. Ia dibungkus sebagai transisi energi, tapi menggandeng listrik dari PLTU batu bara. Ia menjual mimpi global, tapi menanam kerusakan lokal. Di balik klaim “masa depan hijau,” ada langit yang menghitam.

Ironi nikel juga terletak pada diamnya hukum. Di daerah-daerah tambang, laporan tentang tumpahan limbah, konflik lahan, dan kriminalisasi petani kerap berakhir di ruang sunyi. Tanah adat dianggap penghalang. Alam dianggap sumber daya. Dan manusia, sering kali, hanya dianggap angka statistik.

Maka nikel pun menjadi narasi kekuasaan. Ia bukan lagi soal logam, tapi soal siapa yang punya kendali atas tanah. Investor datang dengan surat izin; masyarakat datang dengan ingatan, pohon, dan sumur. Tapi ingatan, seperti kita tahu, tidak tercatat dalam undang-undang pertambangan.

Indonesia, negeri yang kaya ini, seolah selalu harus memilih antara dua kutuk: jadi korban kolonialisme global, atau jadi pelaku kerusakan atas nama pembangunan. Dalam nikel, keduanya kadang menyatu. Kita menambang untuk pasar asing, tapi kita sendiri yang mencemari air sendiri. Kita ekspor bijih, tapi tetap impor alat berat. Kita membanggakan ekspor nikel olahan, tapi mengabaikan desa-desa yang kehilangan mata pencaharian.

Nikel, akhirnya, menguji kita: apakah kita masih bisa melihat tanah sebagai ruang hidup, bukan sekadar deposit logam? Apakah kita masih bisa menyebut “kemajuan” tanpa melupakan makna “keseimbangan”?

Barangkali nikel bukan kutukan. Tapi cara kita memperlakukannya—itu yang bisa jadi kutukan.

Kamis, 05 Juni 2025

Presiden

Presiden. Sebuah kata yang terdengar megah, berdiri sendiri dalam kalimat, tanpa perlu embel-embel. Ia tak memerlukan nama lengkap untuk dikenal. Begitu disebut, kita semua tahu siapa yang dimaksud. Tapi sesungguhnya, yang kita kenal mungkin hanya gambarnya di dinding, atau potongan ucapannya di televisi.

Presiden adalah pusat dari segala perhatian, tapi juga sering kali pusat dari segala harapan—dan kekecewaan. Ia adalah simbol negara, sekaligus simbol ketimpangan. Ia bisa menggerakkan anggaran raksasa, namun tak bisa menjamin harga beras tak naik. Ia bisa tersenyum di panggung dunia, tapi rakyatnya mengantri minyak goreng di sudut gang.

Dalam bayangan klasik, presiden adalah negarawan. Sosok yang berdiri di atas semua golongan, yang bicara mewakili nurani republik, yang memilih kata dengan hati-hati karena setiap kalimat bisa jadi nasib. Tapi dalam praktik, jabatan itu lebih sering diperebutkan layaknya kursi panas dalam pesta ulang tahun: siapa cepat, siapa licik, siapa punya alat.

Kekuasaan, kata Lord Acton, cenderung korup, dan kekuasaan absolut korup secara absolut. Maka tak aneh jika jabatan presiden, yang semestinya dijaga dengan kehormatan, kadang dipertahankan dengan ketakutan. Bukan tak mungkin, seorang presiden dikelilingi orang-orang yang lebih takut kehilangan jabatan mereka sendiri ketimbang kehilangan arah bangsa.

Di negeri ini, kita pernah mengenal presiden yang tak tergantikan selama tiga dekade. Kita juga pernah melihat presiden yang terpilih dengan sorak, lalu diturunkan dengan marah. Dan kini, kita menyaksikan bagaimana jabatan itu tak lagi hanya tentang pelayanan, tapi tentang pewarisan. Tentang dinasti. Tentang bagaimana kekuasaan bisa berpindah tangan, tanpa sungguh-sungguh berpindah isi.

Presiden bukan raja, tapi bisa bertingkah seperti itu. Ia bukan dewa, tapi bisa dipuja layaknya nabi. Dan rakyat, dalam kelelahan kolektifnya, kadang memilih diam—karena protes dianggap gaduh, dan kritik dicap tak sopan.

Tapi bukankah republik dibangun dari pikiran-pikiran keras kepala? Dari pertanyaan-pertanyaan yang tak ingin dijawab oleh kekuasaan? Dari keberanian untuk mengatakan: “Tidak,” bahkan ketika semua orang sibuk bertepuk tangan?

Seorang presiden boleh mencatat angka pertumbuhan, meresmikan jalan tol, merangkul para selebriti. Tapi sejarah tak selalu mencatat siapa yang paling pandai tersenyum. Ia mencatat siapa yang paling berani menanggung getir karena memilih benar.

Rabu, 04 Juni 2025

Korupsi

Korupsi bukanlah soal uang. Setidaknya tidak hanya itu. Ia lebih dalam dari tumpukan lembar rupiah yang berpindah tangan dalam amplop cokelat. Ia adalah gejala purba dari kuasa yang kehilangan malu. Ia menyelinap seperti debu: tak terlihat, tapi terasa. Dan perlahan, menumpuk, menyesakkan ruang-ruang yang seharusnya bersih.

Kita sering membayangkannya sebagai drama: ada pejabat, ada suap, ada rekaman, ada operasi tangkap tangan. Tapi korupsi jarang sejelas itu. Ia bekerja dalam bisik-bisik. Dalam pertemuan makan siang yang tak tercatat. Dalam tanda tangan yang dipercepat. Dalam proyek yang dibengkakkan, lalu disusutkan kembali anggarannya untuk menyuapi yang tak terlihat. Ia hadir dalam persekongkolan yang begitu rapi, hingga kejahatan tampak seperti prosedur biasa.

Korupsi tidak memilih partai. Ia lintas ideologi, lintas agama, bahkan lintas generasi. Ia merayap di lorong kekuasaan, di mana jabatan lebih sering dilihat sebagai hak, bukan tanggung jawab. Ia tumbuh subur dalam sistem yang lemah, ketika hukum tak lagi tegak, hanya lentur mengikuti kepentingan. Maka jangan heran, jika kita temukan korupsi tak hanya di kementerian, tapi juga di kampus, di sekolah, bahkan di masjid dan gereja.

Ada yang mengatakan, “korupsi sudah budaya.” Tapi benarkah?

Budaya, sebagaimana kita pahami, adalah sesuatu yang diwariskan untuk menjaga peradaban. Korupsi, sebaliknya, mewariskan kerusakan. Maka menyebut korupsi sebagai budaya adalah menyerah sebelum melawan. Ia bukan budaya. Ia penyakit. Dan seperti semua penyakit, ia harus dikenali, bukan dirayakan sebagai kebiasaan bangsa.

Namun, korupsi tetap hidup, bahkan berkembang. Barangkali karena ia tidak hanya dilakukan oleh orang jahat. Tapi juga oleh orang biasa, yang menormalisasi keburukan. Yang diam ketika melihat penyimpangan. Yang berkata, “begitulah sistemnya,” sembari tetap duduk nyaman dalam lingkaran manfaat. Korupsi hidup bukan hanya karena pelakunya kuat. Tapi karena yang melihatnya memilih bungkam.

Kadang kita terlalu sibuk menghitung kerugian negara. Miliaran, triliunan. Seolah kerusakan hanya bisa diukur dalam angka. Tapi korupsi lebih ganas dari sekadar statistik. Ia merusak kepercayaan. Ia menciptakan generasi yang sinis. Ia membuat anak-anak bertanya kenapa kejujuran tampak seperti kebodohan. Dan pertanyaan semacam itu lebih menakutkan dari kerugian materi.

Korupsi juga menunjukkan satu hal yang getir: bahwa kemiskinan tak selalu disebabkan oleh kekurangan sumber daya. Tapi oleh perampokan yang dilegalkan, difasilitasi, dan dibungkus dengan senyum rapat-rapat.

Ketika seorang kepala daerah membeli mobil mewah dari uang rakyat, itu bukan hanya penggelapan. Itu adalah bentuk pengkhianatan yang sistematis. Dan yang paling menyakitkan adalah ketika pelakunya tetap dipanggil “yang terhormat.”

Tapi kita juga harus berhati-hati. Karena dalam semangat membenci korupsi, kita kadang mengharapkan malaikat di panggung kekuasaan. Kita lupa bahwa sistem bukan soal niat baik individu, tapi tentang bagaimana mencegah kekuasaan menyimpang—sekalipun ia dipegang oleh orang yang hari ini kita percayai.

Korupsi adalah cermin. Ia memantulkan bukan hanya wajah si koruptor, tapi juga wajah masyarakat yang membiarkannya. Maka pertanyaannya bukan hanya: siapa yang korup? Tapi juga: siapa yang diam?

Selasa, 03 Juni 2025

AI

Kecerdasan bisa ditiru, tapi kesadaran tetap gelap.

Ada masa ketika mesin hanya tahu dua hal: hidup dan mati—satu dan nol. Tapi kini, mesin tidak hanya menghitung, ia belajar. Ia menyimak. Ia meniru. Bahkan, kadang tampak mengerti. Dan dari ruang itu, kita menyebutnya: Artificial Intelligence. Kecerdasan buatan. Tapi kata “buatan” di sini tidak berarti palsu. Ia tetap cerdas, kadang bahkan lebih cerdas dari kita—setidaknya dalam menghitung, mengenali pola, meniru gaya, dan menjawab pertanyaan yang tidak terlalu rumit tapi terlalu cepat untuk manusia. Tapi “kecerdasan” macam apa yang tak punya kesadaran?

Yang mengejutkan bukanlah kemampuan AI. Yang mengejutkan adalah betapa kita cepat terbiasa dengan keberadaannya. Kita biarkan ia menyusun kalimat, menebak keinginan kita, mengisi kekosongan percakapan, bahkan—dengan percaya diri—menggantikan pekerjaan. Ia menulis, menggambar, menyanyi, meniru suara orang mati, dan membantu kita mencari cinta di aplikasi kencan.

Namun kecerdasan tak pernah netral. AI, seperti pisau, bisa memotong roti atau menikam. Tapi tak seperti pisau, AI memiliki logika tersembunyi yang tak selalu kita pahami. Ia belajar dari data. Dan data datang dari kita—dari sejarah, dari kebiasaan, dari bias. Maka AI bukan makhluk suci. Ia bisa rasis, bisa seksis, bisa curang. Tapi kita jarang menyalahkan algoritma, karena ia tidak berwajah.

Dan mungkin, karena itu pula kita mudah memaafkannya. Kita bersikap seperti manusia yang malu mengakui bahwa ciptaannya telah menguasainya. AI memprediksi perilaku kita, tapi diam-diam juga membentuknya. Ia merekomendasikan buku, tapi juga mempersempit selera. Ia mengatur lalu lintas, tapi kadang juga membuat kita lupa arah.

AI bisa menggubah musik seperti Bach. Menulis puisi seperti Neruda. Menggambar wajah yang tak pernah ada. Tapi AI tak pernah tahu makna kehilangan. Tak pernah mencintai. Tak pernah merasa rindu. Ia hanya tahu statistik dari kata-kata itu. Dan karena itu, ia mengingatkan kita pada sebuah paradoks: betapa kompleksnya emosi, betapa mekanisnya bahasa.

Di tangan militer, AI bisa menembak sebelum manusia sempat berpikir. Di tangan negara, ia bisa menjadi penjaga, atau pengintai. Tapi siapa yang menjaga penjaga itu?

Di satu sisi, AI adalah pencapaian sains. Di sisi lain, ia adalah cermin yang dingin. Ia memperlihatkan kepada kita bahwa kecerdasan ternyata bisa direduksi menjadi perhitungan. Tapi hidup manusia tak pernah sepenuhnya tentang perhitungan. Kita mencintai bukan karena logis. Kita memaafkan bukan karena rasional. Kita berduka bukan karena diprogram.

Dalam sejarahnya, manusia selalu menciptakan alat untuk memperkuat dirinya. Kapak batu, roda, mesin uap. Tapi AI berbeda. Ia bukan hanya memperpanjang tangan kita, ia mulai mengambil alih sebagian dari kepala kita. Ia bukan alat. Ia rekan. Dan mungkin, kelak, ia juga akan menjadi saingan.

Yang paling mengkhawatirkan bukan bahwa AI akan jadi lebih pintar dari kita. Tapi bahwa kita akan terlalu bergantung padanya, dan berhenti berpikir. Seperti orang yang terlalu lama dibimbing, hingga lupa bagaimana berjalan sendiri. Atau seperti anak yang tak pernah diajari kesalahan, hanya diberi jawaban.

Senin, 02 Juni 2025

Algoritma


Tak semua pilihan lahir dari kehendak bebas, dan tak semua kebetulan adalah kebetulan.

Di awalnya, algoritma adalah sesuatu yang sederhana. Ia hanya urutan instruksi logis—langkah demi langkah, mirip resep memasak. Tak ada yang mistis. Ia netral, bersih, dan katanya: objektif. Tapi dalam dunia yang pelan-pelan menyerahkan pikirannya ke layar, algoritma menjelma entitas yang tak lagi sederhana. Ia mulai membentuk dunia. Diam-diam.
Kita membayangkan algoritma sebagai mesin yang tahu kita lebih baik dari diri kita sendiri. Ia merekomendasikan lagu yang kita sukai, video yang membuat kita tertawa, berita yang membuat kita marah. Ia tahu jam berapa kita bangun, seberapa lama kita menatap meme, bahkan berapa detik kita berhenti di foto seseorang.
Namun justru di sanalah letak persoalannya. Algoritma bukan hanya mengamati kita. Ia memengaruhi kita. Ia menyusun apa yang kita lihat. Ia memutuskan mana yang layak muncul, mana yang diabaikan. Kita merasa bebas berselancar di dunia maya, padahal jalannya sudah digariskan.
Dalam dunia media sosial, algoritma bukan hanya mengatur isi layar, tapi juga membentuk isi kepala. Ia memperkuat bias. Ia mengurung kita dalam gelembung—di mana kita terus mendengar opini yang sama, emosi yang sama, kemarahan yang sama. Kebenaran yang berbeda terasa semakin asing. Dunia menjadi gema yang disetel ulang oleh mesin.
Kita tidak lagi membaca karena ingin tahu, tapi karena “direkomendasikan untuk Anda.” Dan karena itu, ada ironi besar yang menggantung di era digital: makin banyak informasi, makin sempit wawasan. Bukan karena tak tersedia, tapi karena tak disajikan.
Lebih jauh, algoritma tak hanya bekerja untuk menyenangkan. Ia bekerja untuk menguntungkan. Setiap klik, setiap like, setiap scroll—dikonversi menjadi data. Dan dari data, menjadi komoditas. Kita bukan lagi sekadar pengguna; kita adalah produk. Yang dijual bukan barang, tapi perhatian. Dan algoritma adalah makelar yang paling sabar dan paling cerdas.
Masalahnya, algoritma tak punya etika. Ia tak tahu apakah yang ditampilkannya akan memperkuat kebencian, mempercepat polarisasi, atau memperlebar jurang. Ia hanya tahu satu hal: mempertahankan perhatian kita. Maka yang ekstrem lebih disukai. Yang aneh lebih diprioritaskan. Yang membuat takut lebih sering muncul. Kecemasan, tampaknya, lebih menguntungkan daripada ketenangan.

Minggu, 01 Juni 2025

Pendeta

Pendeta. Sebuah kata yang nyaris tak pernah berbisik. Ia hadir dengan jubah, kadang dengan Alkitab yang dibuka, kadang dengan tangan yang mengarah. Dalam liturgi ia berdiri di atas mimbar, dan umat duduk di bawahnya, mendengar. Ia bicara tentang kasih, tentang dosa, tentang pengampunan. Tapi siapa yang mengawasi suara-suara yang merasa datang dari Tuhan?

Tak semua pendeta haus kuasa, tentu. Tapi di zaman ketika agama kerap dipakai sebagai otoritas moral dan politik, jabatan rohani bisa menjelma alat yang menggoda. Di balik panggilan pelayanan, kadang tersembunyi kehendak untuk mengatur. Dan di balik senyum yang menyebut “jemaat”, ada yang melihatnya sebagai “umat yang bisa diarahkan.”

Kita pernah mengenal pendeta yang berjalan kaki, menumpang makan di rumah umat, menghibur yang sakit, memakamkan yang sepi. Tapi kini, tak sedikit pendeta yang disambut seperti duta besar: dengan kursi khusus, mobil khusus, bahkan pendamping khusus. Pendeta tak lagi sekadar gembala, tapi figur publik. Ia difoto, dikutip, disanjung—dan barangkali terlalu nyaman dengan semua itu.

Yang lebih mengganggu adalah ketika mimbar berubah menjadi panggung, dan khotbah menjadi pertunjukan. Firman Tuhan dipadatkan seperti slogan politik, penuh janji, penuh retorika, minim penggalian. Jemaat bukan lagi tubuh Kristus yang hidup, tapi audiens yang harus diyakinkan untuk tetap setia—pada gerejanya, pada pendetanya, dan kadang pada sistem yang diam-diam sudah mapan.

Lebih jauh lagi, pendeta hari ini tak jarang masuk ke dalam urusan-urusan negara. Ia bicara tentang pemilu, tentang calon pemimpin, tentang arah bangsa. Ia menolak untuk sekadar “rohaniwan” dan memilih menjadi “nabi”. Tapi bukankah seorang nabi—dalam kitab-kitab kuno—justru berdiri berhadapan dengan kekuasaan, bukan merayunya?

Maka ketika seorang pendeta sibuk dekat dengan para elit, kita patut bertanya: siapa yang sedang ia layani?

Tentu tak semua demikian. Ada yang masih setia pada panggilan sunyi. Yang mengunjungi penjara. Yang duduk bersama anak muda yang ragu akan Tuhan. Yang tak sibuk membangun gedung megah, tapi menampung luka umat. Namun sayangnya, suara mereka kalah dari yang bersuara keras—yang viral, yang penuh urapan dan euforia.

Kita hidup di zaman ketika gelar “pendeta” bisa menjadi profesi. Ada yang melihatnya sebagai karier. Bahkan ada sekolah yang menjanjikan “sertifikat kependetaan” dalam waktu singkat, lengkap dengan pelatihan retorika. Tapi siapa yang bisa melatih belas kasih?