Tuhan, dalam banyak narasi, turun bukan ke kantor majelis, tapi ke hati yang gelisah. Namun gereja, seperti banyak institusi, lambat laun mengatur dirinya seperti negara mini. Ada badan legislatif, ada eksekutif, kadang bahkan ada aroma peradilan internal. Maka iman yang semula cair menjadi struktur. Dan struktur, seperti semua sistem, punya celah untuk menjadi arena kuasa.
Tata Gereja adalah upaya manusia memahami yang ilahi lewat bahasa organisasi. Tapi ketika organisasi menjadi tujuan, bukan alat, maka iman tersisih oleh prosedur. Persidangan sinode lebih sibuk menentukan siapa layak duduk di mana, daripada mendengar apa yang digumamkan umat dari bangku paling belakang. Surat keputusan bisa lebih menentukan arah gereja daripada bisikan Roh Kudus yang tak terdokumentasikan.
Maka pertanyaannya muncul: siapa sesungguhnya yang memegang gereja? Roh? Atau tata?
Barangkali karena kita takut pada kekacauan, maka kita merancang sistem yang kaku. Tapi iman bukan mesin. Ia bertumbuh dalam kebimbangan, bukan kepastian mutlak. Iman berjalan dalam tanya, bukan protokol. Maka ketika pendeta harus mengurus administrasi lebih banyak dari mengurus jiwa, kita tahu: sesuatu telah bergeser.
Tata Gereja juga bisa menjadi alat penertiban yang sunyi—kadang menyakitkan. Ketika seorang pelayan gereja bertanya, memprotes, atau menolak tunduk pada satu keputusan, jawabannya bisa datang dari ayat-ayat peraturan, bukan dari kasih. Hukum gereja menjadi tameng, bukan pelukan. Maka tak sedikit orang pergi diam-diam. Bukan karena tak percaya Tuhan. Tapi karena tidak lagi percaya pada sistem yang mengatasnamakan-Nya.
Namun di sisi lain, kita tidak bisa sepenuhnya menolak tata. Karena tanpa tatanan, gereja bisa terombang-ambing dalam subjektivitas. Maka seperti semua hal dalam hidup, yang dibutuhkan adalah keseimbangan. Bahwa sistem diperlukan, tapi tak boleh mematikan kepekaan. Bahwa aturan perlu ada, tapi tak boleh menggantikan belas kasih.
Tata Gereja adalah cermin: ia bisa menunjukkan kedewasaan komunitas iman, atau justru memperlihatkan betapa rentannya gereja terhadap godaan kekuasaan. Kita menyebutnya "persekutuan orang percaya"—tapi persekutuan seperti apa, jika suara terbanyak selalu mengalahkan suara yang lemah?
Barangkali gereja harus terus-menerus belajar dari sosok yang menjadi pusatnya: Yesus yang tak punya kantor, tak menyusun struktur, tapi membasuh kaki murid-muridnya. Ia berbicara di jalan, bukan di ruang sidang. Ia hadir dalam kekacauan manusia, bukan dari balik podium otoritatif.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar