Sabtu, 14 Juni 2025

1984

George Orwell tak sedang meramal masa depan. Ia menulis 1984 pada 1948, tetapi distopia yang ia bangun seperti gema dari masa yang tak pernah benar-benar berlalu. “Big Brother is watching you,” begitu slogan yang kita hafal. Tapi barangkali yang lebih menggentarkan bukan si Pengawas Besar, melainkan keyakinan bahwa kita tak akan pernah tahu apakah kita sedang diawasi—karena dalam dunia yang dibangun Orwell, pengawasan adalah perasaan, bukan hanya peralatan.

Yang membuat 1984 tetap relevan bukan terletak pada prediksi teknologinya. Orwell tak menulis tentang kamera tersembunyi, melainkan tentang bahasa yang dikerdilkan, sejarah yang dihapus, dan ketakutan yang dilembutkan menjadi kepatuhan. Newspeak, bahasa resmi negara, diciptakan bukan agar orang bisa mengungkapkan lebih banyak, tapi agar mereka tak bisa memikirkan yang tak diizinkan. Orwell tahu, penguasa tak butuh senjata jika ia bisa mengatur kosakata rakyatnya.

Membaca 1984 hari ini bukan membaca fiksi. Kita hidup di dunia di mana algoritma tahu lebih banyak tentang diri kita dibanding orang tua kita. Di mana sejarah ditulis ulang saban lima tahun oleh penguasa baru. Di mana “kebohongan” bisa berubah menjadi “narasi alternatif.” Bahkan dalam demokrasi yang katanya terbuka, kebenaran sering kali dinegosiasikan seperti harga pasar. Orwell mungkin akan tersenyum getir.

Winston Smith, sang tokoh utama, bekerja di Ministry of Truth—lembaga yang tugasnya justru memalsukan kebenaran. Ia mengubah dokumen lama agar sesuai dengan kebijakan baru. Ia membuat masa lalu selalu cocok dengan masa kini. Dalam dunia Orwell, siapa yang menguasai masa lalu, menguasai masa depan. Siapa yang menguasai masa kini, menguasai masa lalu.


Dan kita? Kita pun menyaksikan bagaimana arsip-arsip dipelintir oleh mereka yang punya kuasa bicara. Kadang lewat sensor; kadang lewat lupa. Kita melihat aparat yang dahulu kejam kini disebut pahlawan, dan suara-suara kritis diberi label "radikal" atau "bermasalah". Kita pun pelan-pelan terbiasa—dan seperti Winston, mungkin mulai berpikir bahwa dua tambah dua memang lima.

Goenawan Mohamad pernah menulis: “Kebenaran, seperti sejarah, tak pernah final. Tapi ia punya nyawa.” 1984 adalah cerita tentang bagaimana nyawa itu dicekik perlahan oleh sistem yang ingin semua seragam. Bahkan cinta, dalam dunia Orwell, harus ditundukkan. Julia dan Winston jatuh cinta, bukan karena mereka romantis, tetapi karena mereka ingin merasa menjadi manusia. Namun cinta pun akhirnya dihancurkan oleh ketakutan. Cinta dikalahkan oleh loyalitas kepada Partai.

Dan di sanalah letak tragedi Orwell: bukan hanya pada kekuasaan yang brutal, tapi pada manusia yang akhirnya menerima penindasan sebagai kenyamanan. Winston, di akhir cerita, mencintai Big Brother. Bukan karena ia dibujuk, tapi karena ia dihancurkan. Ia tak lagi punya daya menolak.

Barangkali itulah yang paling menakutkan dari 1984—bahwa manusia bisa dibentuk bukan sekadar untuk diam, tetapi untuk percaya bahwa diam itu kebajikan.

Hari ini, kita hidup di tengah kebebasan yang semu. Kita menulis di media sosial, tapi dengan sensor yang kita pasang sendiri. Kita bicara tentang keadilan, tapi hanya dalam grup tertutup. Orwell menulis tentang negara totaliter, tetapi benihnya tumbuh juga dalam masyarakat yang merasa bebas. Ketika rasa takut menjelma kesopanan, ketika kritik disebut kegaduhan, ketika bahasa diganti dengan eufemisme, kita pun sedang berjalan di koridor panjang menuju 1984—tanpa suara, tanpa tanya.

Dan seperti Winston, barangkali suatu hari nanti kita pun akan mencintai mereka yang membungkam kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar